Menyesalkan Pilihan

Hidup itu pilihan. Dan untuk membuatnya lebih mudah, tetapkan tujuan
~ Indri Hapsari

20140216-164244.jpg

Saya sangat takut untuk menyesal. Yah, penyesalan selalu datang belakangan, karena kalau di depan namanya pendaftaran. Penyesalan selalu menyisakan rasa tak enak, kepikiran bagaimana menebusnya, padahal waktu telah berlalu. Tapi namanya juga manusia, pasti ada deh kesalahan. Mengutuk diri sendiri juga tak membantu, yang ada ya harus terus bergerak, sambil terus belajar meningkatkan kualitas diri.

Karena itu ketika berada di persimpangan keraguan, saya kembalikan lagi pada tujuan. Tujuan yang akan membuat saya bertahan, untuk memilih jalan yang benar. Hal ini bukanlah perkara yang gampang, karena mudah sekali kita beranggapan, tujuannya diubah saja. Atau bolehlah kita muter sedikit, nanti juga balik lagi ke tujuan. Dengan cara ini, bisa saja kita tidak pernah kembali ke tujuan semula, karena lupa atau lebih menarik yang lain, atau mencapainya, tapi lebih lama dengan mengabaikan banyak kesempatan yang muncul.

Sekali lagi, itu manusiawi.

Karena itu penting bagi kita untuk saling mengingatkan. Yah tentu tak bisa langsung ya, ntar dikira sotoy beneran. Harus lihat kedekatannya, caranya, kenapa melenceng dan lain sebagainya. Menasehati orang dewasa itu susah, selalu menyulitkan diri dengan berada di daerah abu-abu, hingga kacau semua. Menarik ke area putih sudah susah, karena pembelaannya biasanya masih untung ia tak ke area hitam, atau ‘semua’ juga di area abu-abu.

Menurut saya, itu kewajiban kita sebagai teman.

Teman akan merasa khawatir sahabatnya tergelincir. Teman akan bersedih jika sahabatnya berubah jadi monster. Teman akan berusaha membuat sahabatnya mengingat lagi tujuannya, tak menyia-nyiakan apa yang ia punya.

Ya…teman akan berusaha…sampai mungkin ia dibenci sedemikian rupa, tak dianggap sahabat lagi, bahkan mungkin dimusuhi.

Saat itulah saatnya berhenti.

Tapi jangan balik membenci. Tetap doakan ia supaya meskipun tanpa kita, ia bisa mengingat kembali, betapa menyenangkannya dulu, saat ‘semua’ tidak di area abu-abu.

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/258394097339880503/

Advertisements