Tarantella Night

image

‘Boleh saya duduk di sini?’

Adele mendongakkan kepalanya. Seorang pria dengan coat panjang berdiri tegak di hadapannya. Matanya tajam, seolah menghipnotisnya. Tanpa sadar ia mengangguk.

Pria itu tersenyum tipis. Dibukanya coatnya, dan diletakkan di sandaran kursi.

Adele masih terdiam memandang pria yang duduk di depannya. Alis tebal, rambut hitam, dan tulang rahang yang tegas, begitu kesimpulan Adele ketika pria itu sedang sibuk melihat menu yang diberikan pelayan. Sekilas saja ia membacanya, sebelum melihat apa yang sedang dimakan Adele. Semangkuk sup dengan roti.

‘Sama saja dengan nona ini,’ katanya sambil mengembalikan buku menu.

Kini matanya menatap Adele lagi.

‘Supnya dimakan. Sudah cukup lama didiamkan,’ katanya lagi.

‘Bagaimana…’ Sendok yang dipegang Adele masih menggantung di atas mangkuknya.

‘Uapnya sudah tak ada, namun sup masih penuh. Rotipun belum kau makan,’ katanya tenang. Adele terdiam.

‘Kalau kau makan supnya, nanti aku jelaskan. Kau bisa sakit, jika tak selera makan,’ katanya sambil tersenyum samar.

Dengan ragu Adele menyuap sesendok sup itu ke mulutnya. Hangatnya masih terasa.

‘Dari sekian banyak bangku yang kosong, aku memilih duduk di depanmu, karena orang yang mestinya menemanimu makan malam, tidak akan datang.’

Kini mata Adele membelalak. Bagaimana ia bisa tahu? Adele baru pertama bertemu dengan pria yang entah siapa ini, dan pria ini seolah menembus batas pikirannya.

‘Baju yang kau pakai istimewa. Sepertinya baru kali ini kau pakai, khusus untuk malam ini. Kutebak ini baju pasangan, karena gambar hatinya hanya setengah.

Jadi kupikir, kau menunggu seseorang, pasanganmu sepertinya, untuk datang. Namun melihat bengkak di bawah kelopak matamu, sepertinya kalian habis bertengkar. Entah apa, tapi kau memutuskan datang ke tempat ini, sendiri. Mencoba menikmati malam ini sendirian, meski nampaknya tak berhasil juga, kalau melihat supmu terabaikan,’ jelasnya panjang lebar.

Adele menatap pria itu pasrah.

‘Yah..tepat semua. Namun keherananku bukan itu,’ kata Adele pelan, ‘pertanyaanku… mengapa kau peduli?’

Kening pria itu berkerut. Mungkin bukan jenis pertanyaan yang ia perkirakan, karena ia kebih suka membahas apa yang ia lihat, bukan apa yang ia rasa.

‘Oh..eh..hanya…memberi seorang gadis semangat atas makan malam yang tak sesuai bayangannya,’ katanya tergagap.

‘Ya…’ kini Adele memasukkan ujung rotinya dalam sup, dan memakannya, ‘kalau itu maumu, silakan. Tapi kuperingatkan, aku bukan orang yang gampang melupakan masalah.’

Pria itu tertawa. Lesung pipit terlihat dari kedua pipinya. Nampak kontras dengan ketegasan yang berusaha ia tampilkan. Ia nampak lebih…manusiawi.

Supnya datang. Sama dengan milik Adele, sepotong roti menjadi pengganjal perut yang lapar.

‘Lalu, apa yang bisa kulakukan untuk menghiburmu?’ kata pria itu lagi sambil mengunyah rotinya. Beda dengan Adele, ia lebih suka mengunyahnya begitu saja.

‘Tebak dong, kau kan ahlinya,’ kata Adele sambil tersenyum.

Pria itu terdiam. Lagi-lagi mengamati Adele dengan tajam. Lalu ia berucap dengan singkat,’Stradivarius,’ katanya yakin.

Lagi-lagi sendok Adele tak mencapai supnya. ‘Darimana…kau tahu?’ katanya keheranan.

‘Dagumu sebelah kiri memiliki sedikit cekungan, karena kau menggunakan penahan dagu di biola yang kau mainkan. Telunjuk kiri hingga kelingkingmu agak tergores, bekas senar biola yang kau tekan. Kau pemain biola, sejak kecil. Dan semua impian pemain biola, adalah memiliki Stradivarius,’ katanya tersenyum menang.

‘Daan…cara untuk membuatku bahagia, adalah dengan membelikannya untukku? Rasanya kau tak seroyal itu,’ goda Adele.

‘Tidak,’ jawab pria itu serius, ‘ tapi aku bisa membuat kualitas suaranya sama dengan Stradivarius,’ katanya sambil tersenyum.

Adele tergelak. Sepertinya pria ini tahu benar cara menghiburnya. Dan lumayan juga saat ditinggal kekasih begini, jika ada seorang teman yang mau mendampingi. ‘Apa favoritmu?’ katanya sambil menyendok supnya. Rasanya jadi lebih enak.

‘Tarantella,’ kata pria itu sambil memasukkan potongan terakhir roti ke mulutnya.

Adele nyengir lebar. ‘Komposisi yang sulit. A minor?’ tanyanya memastikan.

Pria itu mengangguk. Ia mendekatkan mangkuk sup ke bibirnya, dan menyesapnya sampai habis.

‘Belum lancar kumainkan. Enam per delapan. Kau…bisa?’ tanya Adele ingin tahu.

Lagi-lagi pria itu mengangguk. ‘Jaman dulu tak secepat ini. Tapi sekarang makin cepat saja para musisi memainkannya. Kau…bisa menarikannya?’ tanya pria itu dengan tatapannya yang nampak bersemangat.

Cepat Adele menggeleng. ‘Tak pernah belajar folk dance. Lagipula…harus ada pasangannya. Dan kekasihku…tak pernah mau berdansa,’ lagi-lagi supnya terasa tawar. Adele menjauhkan mangkuk supnya, tanda ia menyudahi makanannya.

‘Ah,’ kata pria itu seolah mengerti. ‘Aku…ajari?’ tanyanya menawarkan.

Adele tertawa. ‘Setelah gagal membelikanku Stradivarius, kini kau mau menebusnya dengan mengajariku meloncat-loncat di lantai kayu?’

Pria itu tersenyum.

‘Kalau perlu, supaya kau terhibur.’

Adele diam. Pria itu juga diam. Mereka saling memandang. Canggung. Sampai akhirnya Adele pamit untuk ke belakang menutupi jengahnya. Di toilet sebenarnya ia tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya menatap wajah sendunya di kaca. Berusaha menceriakan wajahnya, karena mendapat teman baru, tapi tak bisa.

Saat ia kembali ke kursi, bangku pria itu telah kosong. Coatnyapun sudah tak ada. Dua mangkuk sup mereka nampak berhadapan. Adele melangkah lunglai ke bangkunya.

Sebuah serbet diletakkan di pinggir meja. Sejumlah lembaran uang untuk membayar makan mereka berdua. Selembar tisu putih dengan tulisan tangan bertuliskan ‘Tarantella bites.’

Adele kembali sendiri. Menatap jendela yang nampak basah dilalui air hujan. Bayangan sang pria tak kelihatan. Pernah menemuinya namun kemudian menghilang. Bagaimanapun tarantula tetaplah tarantula. Sengatnya luar biasa, dan sepertinya pria itu baru sadar ketika menyebutkan lagu favoritnya , cepat atau lambat ia akan menyakiti Adele. Niat baiknya untuk menghibur, kelak mungkin menjadi masalah baru buat Adele.

Mungkin malam ini, memang Adele harus sendiri.

***
IndriHapsari

Advertisements