Lesbiola

20140208-230946.jpg

‘Gue kadang ngga ngerti, kenapa cewek cantik bisa jadi lesbi.’

Pram menengadahkan wajahnya dari deretan unsur kimia yang ada di hadapannya. Ditatapnya Adit yang sedang menerawang, dan membiarkan bukunya terbuka tanpa ia baca. Wajahnya terlihat pasrah dan hampa.

Perpustakaan sedang sepi. Pram sedang berusaha menghapalkan unsur-unsur kimia dengan metode baru, yaitu berusaha membayangkan unsur tersebut dengan benda yang pengucapannya hampir sama. Adit sedari tadi memang bersamanya, tapi ia lebih banyak diam, tidak cerewet seperti biasanya.

‘Selly?’ tebak Pram pada sahabatnya.

Adit mengangguk lemah. ‘Iya. Sakit tuh cewek. Bikin ilfil aja,’ keluh Adit lagi.

‘Kok bisa?’ tanya Pram lagi.

‘Anak-anak cerita. Banyak yang mundur karena kabar itu. Kalau udah punya pacar doang sih gampang, siapa tahu dia liat gue better, trus beralih naksir gue. Tapi kalau udah lesbiola gitu, malesin banget ngga sih?’ jawab Adit balik bertanya.

Pram mengedikkan bahunya. ‘Tapi lo ngga liat sendiri kan?’

Adit menggeleng. ‘Ngga. Bisa muntah gue,’ katanya lemah. Matanya kembali menerawang.

Pram diam. Ia kemudian kembali menekuni unsur periodiknya, hendak mengingat-ingat unsur nomor 108.

*

Pram melihat Selly duduk sendirian di kantin. Rambut panjangnya tergerai, sebagian menutupi wajahnya yang cantik. Sejak masuk ke sekolah mereka, Selly menjadi incaran teman-teman dan kakak kelasnya. Wajahnya yang mirip artis menjadi nilai plus baginya, mengalahkan semua gadis cantik yang ada di sekolah mereka.

Pram mendatangi mejanya dan langsung duduk di depannya.

Mimik kaget muncul dari wajah Selly begitu melihat Pram sudah duduk di depannya. Mata Pram yang tajam menatapnya, seakan sedang memetakan isi pikirannya.

‘Eh Pram, tumben…’ kata Selly perlahan.

Dengan cepat tangan Pran memegang lengan Selly. Lalu perlahan ia membelai hingga ke pergelangan tangan. Selly terdiam.

‘Pram…’ katanya.

‘Sel, kalau boleh, aku ajak kamu jalan, pas malam minggu, mau?’ Pram menyatakan niatnya. Tangannya masih memegang pergelangan tangan Selly.

Tergagap Selly menjawabnya, ‘Eh…aku…eh…kamu…belum dengar kabar tentangku?’ Selly memandang wajah Pram yang tak berubah ekspresinya. Masih dingin, tanpa senyum, tapi tak bisa menyembunyikan pesonanya.

‘Kabar yang sengaja kamu sebar, supaya tidak ada cowok yang mendekatimu?’ Kali ini seulas senyum muncul samar dari wajah Pram.

Selly terlihat kaget. ‘Kok…kamu…tahu…’

Pram mengangkat tangannya dari tangan Selly. ‘Aku memeriksa denyut nadimu.’

Selly memandang tangannya dengan heran. Berarti tadi…

‘Saat aku mengajakmu kencan, denyut nadimu meningkat. Reaksi yang seharusnya tak ada, bila kau tak tertarik pada pria. Sentuhan, perkataan, tatapanku telah berhasil mempengaruhimu, sampai membongkar kedokmu. Selain itu, pupilmu melebar,’ Pram tersenyum puas.

Selly tertawa menutupi jengahnya. ‘Wah wah…semoga kau tak menyebarkan rahasia ini Pram. Aku masuk sekolah ini supaya bisa fokus belajar, tidak sibuk melayani cowok-cowok yang berminat menjadikanku pacar. Ribet Pram! Aku jadi curiga terus, mereka baik padaku karena senang dengan kepribadianku, atau hanya modus saja? Belum yang cewek-cewek Pram! Mereka membenciku karena pacar mereka, incaran mereka, memujiku selalu. Aku pikir kalau kusebarkan gosip itu, setidaknya cowok-cowok itu jadi kapok berdekatan denganku. Tapi aku dapat berteman dengan lebih leluasa dengan para cewek, karena hadirku bukan ancaman lagi.’

Pram mengangguk. Sudah ia duga. ‘Berarti…misiku selesai. Selamat menikmati berita bohongmu. Kita sudah SMA, kau tahu resikonya. Selamat siang,’ kata Pram sambil berdiri.

‘Eh..Pram!’ panggil Selly segera. ‘Tawaran tadi…masih berlaku?’

Pram hanya tersenyum.

***
IndriHapsari
Gambar : myspace1810.blogspot.com

Advertisements