Kebelet Komen

Saya, ngungsi menulis ke blog karena merasa tidak enak hati dengan para komentator yang sudah menyempatkan untuk hadir dan menorehkan kesannya. Bagi saya menulis suatu artikel itu lebih cepat daripada membalas komentarnya. Menurut saya, setiap komentar yang masuk dan cukup sopan harus diapresiasi dengan membalasnya, dan bayangan rasa bersalah muncul ketika notifikasi email masuk mengabarkan ada yang sudah berkomentar, padahal Kompasiana sedang error, atau saya belum bisa membuka Kompasiana, atau saya belum sempat membalasnya.

Akhirnya malah jadi beban, yang bisa menyurutkan kebawelan saya dalam menulis. Kemudian saya putuskan saja artikel-artikel yang kira-kira akan menuai komentar, entah karena topik atau opini saya yang sejalan maupun bersebrangan dengan mayoritas Kompasianer, hanya saya tayangkan di blog. Lebih baik sepi pembaca namun saya bisa menuliskan pendapat saya secara bebas, tanpa rasa bersalah. Jika langkah ini dianggap sebagai kepengecutan karena tak mau berdiskusi, silakan saja. Saya menulis hanya untuk membagi opini, bukan melayani pro kontra. Ibarat menulis di surat kabar, komentar akan masuk sebagai surat pembaca, yang diseleksi dan mengikuti kaidah yang diberlakukan redaksi surat kabar tersebut.

Fasilitas di blog memungkinkan saya untuk menjadi pembaca pertama komentar yang masuk, memutuskan akan menayangkan, mengedit, atau menghapusnya, serta tentu saja, kalau sudah saya tayangkan, saya wajib membalasnya.

Apakah dengan cara begini saya aman dari komentar-komentar yang tidak pada tempatnya?

Ternyata tidak.

Saya rasa ada dua faktor yang menyebabkannya, faktor internal dan eksternal. Untuk faktor internal adalah tulisan-tulisan saya yang terjaring di mesin pencari jika seseorang mengetikkan kata kunci dari informasi yang diinginkannya. Tulisan saya, entah kenapa karena saya sendiri tidak khusus belajar SEO, kadang masuk dalam laman pertama Google, sehingga untuk beberapa tulisan ramai pengunjung.

Sayangnya, untuk faktor eskternal, pengunjung tersebut sepertinya tidak membaca isi artikelnya. Mereka sudah kebelet komen, istilah yang saya berikan untuk mereka yang terburu nafsu berkomentar, setelah membaca judul. Jadi kerjaan saya, yang tidak saya bayangkan sebelumnya, adalah menghapus dan mengedit komentar yang berbau iklan seks, atau memberikan identitas pribadi. Entah ya, saya sih merasa berkewajiban melindungi komentator juga, daripada mereka dihubungi orang-orang yang tak baik niatnya. Bisa jadi mereka sengaja mencantumkan nomornya, tapi bisa juga saking polosnya nomor telepon dijembreng dimana-mana.

Ada puluhan komen yang masuk terkait artikel Tante Kaya di Surabaya. Dulu saya pernah jelaskan, bahwa artikel ini murni tentang SEO. Tapi yah pembaca memang ada tiga, yang membuka mata dan pikirannya, yang membaca tapi menutup pikirannya, dan yang menutup keduanya. Jadinya ya itulah…komentar yang tidak nyambung dan ‘pokoknya ya itu!’.

Akhir-akhir ini makin banyak pengunjung yang salah sambung, dan ternyata bukan dari artikel itu saja. Isi komentarnya sih rata-rata sama, data pribadi, kelebihan yang dimiliki, dan tawaran untuk menghubungi. Baca komentar-komentar begini, terus terang bikin saya sedih.

Pertama, sebagai penulis saya sudah gagal memaksa pengunjung untuk membaca dulu isi artikel saya, sebelum memberikan komentar. Kedua, sebagai pemilik blog saya ketambahan kerjaan harus menghapus dan mengedit komentar yang kebelet itu. Ketiga, sebagai seorang ibu sedih rasanya pria-pria muda nan gagah (kalau dibaca dari iklannya) menggadaikan diri sedemikian rupa, untuk kenikmatan duniawi, dengan cara instan. Keempat sebagai pembaca iklannya, kadang saya heran saja dengan cara pemasaran mereka yang masih itu-itu juga. Putih (jadi ingat sapi), ejaan bahasa Inggris dan salah (mau ngegaya tapi bikin ilfil) dan serba guna (poin yang menarik. Saya sedang butuh orang untuk benerin genteng).
^_^

20140201-060809.jpg

20140201-060914.jpg
***
IndriHapsari
Gambar : pribadi

Advertisements