Menghujat Penjahat

image

Saya hanya membayangkan, jika saya hidup di zaman Nazi berkuasa, mampukah saya menghujat Hitler?

Kekejamannya hanya pernah saya baca. Gambaran lebih jelas saya dapatkan dari film Life is Beautiful, yang menceritakan kehidupan seorang ayah Yahudi dan anak laki-lakinya di kamp konsentrasi Nazi. Semua tahanan harus bekerja keras, tanpa istirahat dan makanan yang memadai. Memang sengaja kok, biar mati perlahan-lahan. Itu masih mending untuk memanjangkan nyawa. Ada yang diracun dengan gas dalam ruang tertutup, atau berjejalan di gerbong kereta, entah dibawa kemana. Yang penting orang-orang itu tak kembali.

Semua gara-gara Hitler dengan ambisinya. Memperlakukan  manusia sebagai kutu yang harus dibasmi. Padahal sama-sama manusianya, disuruh bikin sendiripun tak bisa. Sungguh penjahat kelas dewa.

Namun saya tak bisa menghujatnya.

Menghujat, dalam KBBI berarti mencaci, menfitnah, mencela. Saya sempat ragu, mungkin karena saya tak hidup di jaman itu, saya tak berada di situ, atau karena saya bukan Yahudi, maka bencinya kurang menjiwai, sehingga saya tak mampu menghujatnya.

Jadi, menghujat itu tergantung orangnya, atau kondisi sih?

Saya jadi teringat Nelson Mandela. Didiskriminasi sejak ia lahir, apalagi ngga karuan diskriminasinya dengan sistem apartheid di Afrika Selatan, membuat dia berhak untuk menghujat. Kita didiskriminasi masalah perbedaan pelayanan aja ribut. Di Afsel, bangku-bangku di taman saat itu bertuliskan ‘white people only’. Apa ngga sakit tuh. Belum lagi dia dipenjara 27 tahun, seperempat hidupnya, karena memperjuangkan apa yang ia yakini benar.

Lalu, waktu jadi presiden, pantes dong dia balas dendam?

Ini malah dimaafkan! Haduh, entah apa yang ada dalam pikiran Mandela, tapi semua perlakuan buruk itu, yang ia alami secara langsung, mengapa menguap begitu saja? Bahkan jika ia memancung para bule sok gaya itu, orang masih maklum mengingat penderitaannya. Tapi ini nggaaa, dan ia fokus pada pembangunan di Afsel.

Saya jadi ingat kisah Yusuf, yang dibuang di sumur karena kedengkian kakak-kakaknya. Lalu dijual pula ia ke saudagar, bagai komoditas saja. Lah, begitu jadi raja, kok malah memaafkan dan berusaha membantu keluarganya? Dia bisa loh, berlagak ngga kenal. Atau maki-maki dulu kek, sebelum melupakan.

Jadi, ada kondisi sangat buruk yang menimpa seorang manusia, tapi menghujat, adalah pilihan. Karena toh ada yang bisa mengendalikan kebenciannya. Ada yang pernah bilang, yang dibenci itu perbuatannya, bukan manusianya. Kalau menghujat, meskipun dilakukan untuk orang jahat, bikin setan bersorak.

Tapi ada juga loh, menghujat yang dibenci setan. Yaitu…menghujat anak setan. Hehehe 😀

Kembali lagi, maka heranlah saya melihat begitu banyak orang menuliskan di media massa, bicara berapi-api di telepon, si ini begini, si itu begitu. Seakan semua berhak untuk menghujat orang lain. Lalu terlontarlah kata-kata yang ngga pantas didengar anak-anak, pimpinan, apalagi calon mertua. Heran saya, tertimpa langsung kejadiannya juga ngga. Tapi kok nyolotnya seperti korban paling sial di dunia?

Apa gunanya menghujat, terlebih menyebarkannya di media? Menyebarkan kebencian, supaya banyak dapat dukungan? Dan mari kita menghujat bersama-sama? Beda kalau memang kita tak suka perbuatannya, silakan sampaikan dengan bahasa dan opini yang beralasan, tetap dalam kaidah kesopanan, lebih bagus lagi jika diisi fakta dan data, agar penyampaiannya lebih sistematis. Bukannya menyampaikan opini semata (karena ini sensitif banget lo, ngomongin orang lain bagian keburukannya aja) bonus kosakata yang mungkin emang taunya itu, atau sengaja pilih itu untuk merendahkan.

Menyebarkan kebencian, menghujat, ngga ada gunanya. Berdoa saja supaya kita terhindar dari perbuatan tercelanya, atau lembutkan hati kita sebagai sesama manusia.

***
IndriHapsari
Gambar : elfwood.com

Advertisements