Penulis Wanita, Kenapa Bercerai?

20140110-225748.jpg

Satu hal yang saya amati dari para penulis wanita yang beken, adalah mengenai perceraian mereka. Tidak perlu menyebut nama, sepertinya daftarnya terus bertambah, meski kemudian mereka menikah lagi dengan orang lain, atau tetap melajang, atau ada TTMnya.

Perceraian terjadi ketika mereka mulai atau sedang populer, untuk orang awam seperti saya bisa dikategorikan tiba-tiba, karena ngga ada hujan ngga ada angin, tiba-tiba ada gugatan cerai dari pasangan atau penulis wanita itu sendiri. Beda dengan para selebritis yang gonjang-ganjing rumah tangganya jadi konsumsi publik, para penulis wanita ini rapi menyimpan praharanya, dan hanya mempublikasikan hasilnya : cerai.

Menilik kasus-kasus tersebut, maka apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Mengapa rumah tangga yang awalnya adem ayem itu jadi serupa medan perang? Terutama, mengapa sebagian terjadi (enggan menyebut banyak) pada penulis wanita yang terkenal?

Kita kembali saja pada kehidupan pernikahan yang ingin dibentuk. Ada keserasian, keseimbangan, atau harmoni antar pasangan. Saling berbagi, saling mengerti, dan saling mendukung. Cinta, adalah landasan untuk memutuskan : ya, saya mau menikah denganmu! Tapi hal berikutnya yang dipakai, adalah logika.

Penulis-penulis wanita ini, kebanyakan punya pemikiran sendiri. Bisa dilihat dari tulisan-tulisannya yang cerdas, kreatif, unik, dan punya imajinasi yang luar biasa. Hal itu tentu tak bisa dicapai jika ia sedang berada di bawah tekanan, atau bisa saja, yang akan menyebabkan seseorang memberontak terhadap ‘penindasan’.

Mereka punya pemikiran-pemikiran yang mandiri, sifat dan sikapnya juga. Jadi merasa bisa melakukan segala sesuatu sendiri sesuai caranya, termasuk mandiri soal penghidupan. Akhirnya persoalan kecil menjadi besar, karena semua dikaitkan dengan prinsip, pelanggaran hak dan ego.

Emansipasi yang kebablasan?

Entah apa pula yang disebut dengan emansipasi itu. Saya kira bentuknya sudah berubah dari sekedar menunggu suami pulang dan melayaninya selama di rumah. Suami-suami jaman sekarang sudah lebih mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri, dan memberikan kebebasan pada istrinya untuk berkreasi. Itulah sebabnya mereka membebaskan sang istri saat memutuskan untuk terjun pada dunia kepenulisan.

Keputusan yang menjadi bumerang bagi mereka.

Istrinya makin terasah kecerdasannya, mereka suka. Tapi namanya laki-laki, mereka juga ingin dihormati, dielukan, dan dihargai pendapatnya. Maka ketika seorang istri ngotot mempertahankan pendapatnya, tak peduli suaminya mau sakit hati apa ngga, masing-masing memperjuangkan ego-perjuangkan-hak dan yang lain ego-istri-harus-tunduk, disinilah awal persimpangan. Tak lagi sejalan.

Lalu muncullah persoalan-persoalan lainnya. Hal kecil jadi besar. Hal yang semula tak ada, jadi ada. Munculnya orang ketiga, salah satunya. Entah dari pihak istri atau suami. Masing-masing tak menahan kekang kata-kata mereka, sehingga menyakiti orang yang mereka sayangi, bahkan pada orang yang mereka ingin jadi teman sehidup semati.

Apa semua karena salah penulis wanita? Terlalu mandiri?

Pada beberapa kasus ada yang bercerai karena sang suami sudah mendua. Itupun masih ada pertanyaan, kenapa suaminya sampai begitu, kehilangan romantismekah karena kepala istrinya penuh dengan imajinasi? Kenapa tidak diperjuangkan, apakah karena gengsi dan tanpa-dia-saya-juga-bisa melingkupi otak keduanya? Pada kasus lain sebelum terkenal penulis wanita ini memang sudah bercerai. Tentu bukan karena kesibukannya, namun ada dugaan karakteristik penulis yang juga memicu perbedaan prinsip. Kemungkinan lain memang dapat suami brengsek, yang mungkin bagi wanita lain bertahan satu-satunya jalan, tapi bagi para penulis wanita ini, oh cukup sudah kesalahan! Sehingga dengan berani mereka menyongsong perceraian.

Lalu, apa salah menjadi penulis wanita?

Tentu tidak, tulisan ini bukan untuk menghakimi para penulis wanita dan perceraiannya. Bukan untuk usil ngurusin rumah tangga orang lain. Tetapi biarlah pengalaman mereka menjadi pelajaran buat kita. Tidak harus jatuh dulu untuk merasakan sakit kan? Maka kesimpulan yang bisa kita dapatkan dengan uraian ini, jika ada yang berminat berkarya di bidang penulisan, maka :

1. Dahulukan keluarga
Jika belum, tentu hubungan dengan orang tua dan saudara harus diutamakan. Hormati privasi mereka, dengan tidak menyebarluaskan keburukan mereka dalam artikel atau fiksi yang kita tulis. Berikan waktu lebih banyak untuk mereka yang berada di sekitar kita, bukan sibuk dengan pikirannya sendiri dan abai pada lingkungan. Atur saja waktunya, agar bisa memberikan waktu bagi keluarga, namun juga bisa terus menulis.

2. Hormati suami
Laki-laki jangan dilawan. Ikuti saja maunya, dan beri pengertian pelan-pelan. Para suami cerdas-cerdas kok, kalau dia melihat kegiatan menulis ini memberikan manfaat bagi istrinya, ia tentu mendukung. Ia akan berubah jadi pengawas, jika melihat ketidakberesan dalam kehidupan rumah tangganya. Meski penulis wanita punya opini sendiri, cara penyampaian juga berpengaruh. Wanita dan pria memang sederajat, namun tetap para pria perlu perasaan dihargai dan diperlukan. Berikanlah.

3. Komunikasi
Libatkan suami dalam kegiatan kepenulisan istri, atau paling tidak, ceritakanlah. Tak kenal maka tak sayang, maka ceritakan sedikit-sedikit kegiatan kepenulisan istri. Coba saling mengerti cara berkomunikasi apa yang cocok untuk setiap kondisi. Ayolah, dengan tetangga kita hati-hati menjaga perasaannya agar jangan tersinggung, ke suami sendiri kok seenaknya?

Sungguh, saya hanya berharap rumah tangga yang langgeng bagi mereka yang menjalani pernikahan. Karena siapa sih, yang merencanakan perceraian, jika sebelumnya ia terlibat dalam pernikahan?

***
IndriHapsari
Terima kasih untuk kong Agil Batati atas diskusinya ^_^
Gambar : pinterest.com/pin/46936021090807341/

Advertisements