Yang Unik dari Australia

Berbolang ria ke negara-negara lain, sebenarnya bukan urusan ngirit. Tapi lebih kepada senang aja mengamati local people, bagaimana mereka hidup. Berikut hasil pengamatan dan pengalaman saya selama di Australia.

1. Mabok dan religi kumpul di satu tempat
Di Surfer Paradise, Gold Coast, mereka biasa hang out dengan cara nongkrong di cafe, dan menanggak bergelas-gelas atau berbotol-botol bir dan minuman keras lainnya, bersama teman-teman. Bisa bertahan sampai subuh.

Di tempat yang sama pula, ada penyanyi dengan suara sebening Charlotte, menyanyikan lagu-lagu Natal, dan penikmatnya ada juga tuh. Duduknya? Ya di depan cafe-cafe tadi. Jadi yang di depan khusuk, yang di belakang ‘sibuk’ 🙂 Sesekali terdengar teriakan atau suara tertawa di tengah-tengah lagu religi.

2. Public toilet dan tempat buang jarum suntik
Public toilet di sepanjang pantai ada banyak. Namun di jalanan sulit untuk menemuinya. Ya jelas saja, mungkin yang beser cuma saya *nyengir*. Tersedia dua unit di satu tempat, dan diperuntukkan untuk unisex.

Dibandingkan dengan toilet dalam gedung, tentu lebih bersih dan terawat yang di dalam gedung. Tapi dibandingkan dengan yang biasa saya temui di Indonesia, meski di dalam gedung, toilet ini cukup bersih kok. Paling bau pesing doang. Bahkan tumpukan tisu yang biasanya menggunung karena malas masukkan ke tempat sampah, disini nyaris bersih, padahal tempat sampahnya di luar.

Ruangannya juga besar, bisa 4 orang masuk. Kalau yang ini sih pengalaman masuk family toilet di bandara Hongkong. Baru tahu saya sekeluarga bisa masuk toilet sama-sama. Semua ada mulai jamban, wastafel dengan pengeringnya, urinal, dan gulungan tisu. Cuma semua jamban disini ceboknya pakai tisu, ngga mantap rasanya kalau ngga ada semprotan airnya (Indonesia bangeet :P)

Nah, yang menarik, alih-alih tempat sampah, yang ada malah lubang kecil di dinding, tempat membuang benda yang tajam (dan ada gambarnya jarum suntik). Entar ya, emang siapa yang pake jarum suntik sendiri, dan bukan disuntikkan dokter?

Saya punya tante yang secara berkala menyuntikkan insulin karena penyakit diabetesnya. Cuma ya ngga di kamar mandi, tapi di rumah habis sarapan. Nah, kira-kira siapa yang makenya mesti sembunyi-sembunyi?

Yak! Sepertinya yang ‘make’ deh atau nyuntik narkoba. Jarum suntik bekas tidak boleh dipakai lagi karena berpotensi menyebarkan penyakit. Tetapi tetap saja, mendapati ada tempat sampah khusus ini kok jadi serem ya ngebayangin what happened in here.

3. Orang Australia cuek penampilannya
Anak saya sampe heran, melihat mereka pada sandal jepitan. Beda sama dia di Indonesia, ke mall mesti lengkap pake sepatu. Lalu jangan tanya soal buka-bukaan. Yang perempuan ada yang pake BH tok, atau bajunya krowak atau bolong dimana-mana, jadi kelihatan kemana-mana juga. Yang laki-laki ada yang ngga pake baju. Gile ya, ngga masuk angin tuh. Emang sih sekarang summer, tapi coba kaya gitu beredar di Indonesia, pasti deh jadi omongan dan cercaan.

Jadi mikir kan, disini baju mesti tutupan, tapi ya ngga bisa menghindar juga dari perbuatan mesum. Ntar kalau ada sesuatu yang buruk terjadi, alasannya ‘bajunya terbuka sih!’ Nah, itu salah bajunya atau yang lihat? 😀

Ada cewek-cewek seksi gituh, kutilang darat, ada juga yang super obe(sitas). Semuanya cuek pake baju yang nyaman untuk dia, dan orang lain juga ngga ngurusin penampilan mereka.

4. Sparkling water dan spring water
image

Karna di hotel ngga disediain air putih, jadi kita beli terus. Weh, mahal benar, 25 ribu untuk satu botol 600 ml *miss Aqua* Kadang beli yang gede juga 1,5 liter untuk persiapan di kamar.

Waktu itu giliran saya beli. Pertama beli satu botol gede bertuliskan sparkling water dan lainnya, lalu bawa semua belanjaan ke kedai kopi. Beli dua gelas, maka tangan saya sibuk bawa ini itu, dengan plastik belanjaan terus menerus bergoyang. Sampe hotel juga gitu, langsung dibruk-in.

Lalu besoknya, karena mau makan mie cup, maka airnya mesti dididihkan dulu. Berhubung adanya botol gede, saya buka aja…dan…

BYUUUR!!

Langsung nyemprot dan airnya tumpah kemana-mana. Ternyata…sparkling water itu air soda. Waduuuh! Dia pasti sudah ngebet pengen nyembur karena sudah terguncang cukup lama. Coba kalau ngga nyembur gitu, mungkin kita sudah makan mie instan rasa tom yam (asem soalnya) 😀

5. Anak
Yang terasa sih hubungan antara anak dan orang tua terasa dekat dan akrab. Mungkin karena mereka ngurus sendiri anaknya, ngga pake pembantu atau suster. Lalu sifat orang barat ini memang suka ngebebasin anaknya, dan tidak menuntut. Jadi ada anak yang dibiarin aja gelimpangan di karpet resto, atau sudah berani ke toilet umum sendiri, atau setiap disuruh untuk naik panggung, pada rebutan.

Hal lain adalah, banyak juga anak-anak kecil dengan orang tua, yang memang sudah tua. Sampai saya pikir ni oma opa baik banget pada ngajak cucu-cucunya ke theme park. Ternyata mereka manggilnya ‘mom’. Lah, ibunya to? Jadi antara ngelahirinnya telat, atau ngambil anak.

6. Boxing Day, bukan acara tinju
Nontonin iklan di TV Australia asli bikin ngiler. Diskon semua pas tanggal 26 Desember, dengan alasan Boxing Day. Wah, hebat amat pertandingan tinju aja sampe heboh begini.

Setelah membaca status mbak Fey Down di FB, kalau dulu dia menganggap hal yang sama saat baru sebentar tinggal di Aussie, baru sadarlah saya, sepertinya melakukan kesalahan yang sama. Ternyata boxing day itu acara ngebuka box (kado). Makanya namanya boxing, dan retail memanfaatkan kesempatan ini dengan berusaha mempengaruhi, ‘Belilah, buat kado Natal’ 😀

7. Sausage Roll
Pertama tahu jenis makanan ini pas baru mendarat di Gold Coast. Ada satu cafe yang menyajikannya, dan anak saya pilih ini. Kirain isi sosis kegemarannya, ternyata ngga.

Jadi isinya tuh daging cincang ngga tahu dibumbuin apa, yang pasti agak sepo gitu. Trus dibalut pastry. Ukurannya lumayan, isinya banyak. Mengenyangkan yang pasti. Dijual 3 dollaran.

Pas di Nerang Station, cari sarapan, adanya convenience store yang jual sausage roll ini dalam kemasan, yah,,kaya Sari R*tinya kita. Tapi enak loh, karena masih hangat. Tapi tetap aja, makan mesti 3 kali karena ngenyangin.

Beli malam, buat dimakan besok, akhirnya beli lagi ginian. Kali ini di Pie Face, cukup banyak outletnya di Surfer Paradise. Pienya enak-enak, dan kita beli lagi sausage roll…soalnya bisa dimakan berempat *hemat* 😀

8. Tisu
Sepele sih, tapi jadi penting banget karena di sini jambannya ngga ada semprotannya semua, termasuk di hotel. Padahal buat orang Indonesia is a must, secara ngga klop gitu kalau belum kena air.

Untunglah di semua toilet yang saya masuki, persediaan tisu melimpah, kalau di Indonesia paling satu gulung kecil, itupun suka tega abis, disini pake gulungan besar, dan ada dua lagi! Termasuk di hotel tempat gulungan tisunya juga ada dua meski kecil. Bahkan di toilet portable, tisu tersedia banyak, malah tempat sampahnya yang ngga ada. Mungkin disuruh dibuang di lantai kali ya, soalnya pernah lihat petugas pembersihnya, cuma buka pintu toilet, nyapu pake tangkai yang panjang dari luar, trus ngumpulin sampahnya di luar.

Pantas juga sering saya temui orang-orang pada belanja tisu gulung dalam ukuran besar, rupanya buat persediaan. Kalau saya bisa habis berbulan-bulan di rumah 🙂

9. Ramp
Ramp adalah lantai yang landai, biasa digunakan untuk kendaraan beroda. Di Australia ini banyak sekali yang dipakein ramp. Trotoar, pintu masuk, toilet, tujuannya untuk mereka yang berkebutuhan khusus, untuk yang bawa stroller anak juga bisa. Kadang dipake juga untuk skateboarder yang banyak dijumpai di sini.
image

Jadi disable people, atau less mobile passenger dapat mengakses fasilitas umum dengan mandiri. Di dalam pun mereka dapat tempat khusus biar kursi rodanya bisa terparkir dengan aman. Di tram, kereta, bis, semua ada tempat untuk mereka.

Sama aja dengan ibu-ibu yang bawa anak kecil, dipermudah dengan tempat-tempat dan akses ini. Disini orang mau ribet dengan melipat dan membuka strollernya, karena memang ada fasilitas untuk itu. Jadi ngga perlu bawa 2 in 1, bawa nanny dan stroller 😀

10. Ngemil Buah dan Sayur
Orang Australia juga mikir-mikir loh ngeluarin dollarnya. Apalagi kalau anak banyak wah kali berapa tuh. Maka banyak dari mereka yang kalau ngajak anak jalan-jalan, bawa bekal sendiri. Uniknya, alih-alih bawa kripik kentang dan coklat seperti yang kita lakukan (ngaku) mereka bawa potongan wortel, semangka, kiwi atau strawberry. Anteng aja di pojokan pada ngunyah cemilannya, sampe bayi-bayipun doyan.

Yang gedean mulai makan pisang, dan pastinya apel. Seorang pekerja kantoran yang lagi makan roti di samping kita di kantin polisi, mengeluarkan apel dari saku celananya,. Belum habis, dimasukin ke saku celana lagi. Outlet khusus salad seperti Sumo salad juga ramai dikunjungi pembeli. Bukti bawah orang Australia sadar dan berusaha menjaga hidupnya tetap seimbang.

***
IndriHapsari

Advertisements