Maaf, Akselerasinya Beda

20131202-214008.jpg

Jaman sekarang, mengikuti peraturan serasa bikin dosa. Berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah menyala, mobil di belakang ribut sekali mengklakson saya, menyuruh maju karena lalu lintas sedang sepi.

Memang sih ada pilihan untuk membuka kaca jendela, dan memamerkan jari tengah kepadanya. Tapi buat apa? Mempertontonkan kejengkelan, atau mencari masalah baru? Dua-duanya tidak ada gunanya. Maka saya menyabarkan diri dan meningkatkan kemampuan menulikan telinga, cuek bebek dengan si bawel itu.

Dan saat lampu hijau menyala, saya beranjak dari injakan rem ke gas, melesat hingga kecepatan 80 km per jam dalam waktu 3 detik, meninggalkan si cerewet yang nampaknya mulai memindahkan koplingnya ke gigi satu, dan terseok-seok, atau mengesot mungkin, berusaha meninggalkan persimpangan kesombongan itu.

Akselerasinya beda, Bung. Woles aja deh.

Kenapa persimpangan kesombongan?

Kadang kita merasa diri kita lebih dari yang lainnya, sehingga atas dasar mind set yang keliru itu pulalah, menyatakan dan menunjukkan, bahwa saya ini loh yang paling wokeh, dibanding lainnya. Dalam kasus ini, yang dia lihat mungkin becak, motor sama sepeda. Sehingga sebagai pengendara mobil, ya banggalah dia, dan koar-koar dimana-mana.

Kalau koar-koarnya di garasi rumahnya, silakan saja. Apalagi kalau rumahnya di tengah hutan, bagus banget. Klakson yang dibunyikannya tidak akan mengganggu tetangga. Kalau nekat, yah paling didatangi pak RT atau satpam perumahan saja. Keributan kecil, bisa dilokalisir, dan dicap sotoy untuk sedaerah itu saja.

Kalau koar-koarnya di jalanan, itu yang sulit. Ketemu dengan banyak jenis mobil, yang punya spesifikasi yang berbeda. Selalu ada langit di atas langit. Selalu ditemukan mobil yang lebih hebat, lebih ringan dan lebih cepat, kalau Anda rajin nonton Top Gear. Dan bukan mobil yang berisik yang diharapkan, tapi mobil yang bisa meredam bunyi-bunyian.

Nah kalau ketemu mobil macam begini di persimpangan, mbok ya cek dulu sebelum klakson-klakson ngga puguh. Emang elu siape? Di tingkat RT mungkin paling keren deh, tapi di kecamatan? Kelurahan? Kabupaten? Provinsi? Negara? Benua? Dunia? Luar angkasa?

Mau melanggar lampu merah atau mematuhinya itu pilihan, buat mobil super cepat atau super ngesot. Bukan berarti si super cepat yang hobi ngebut juga hobi bablas aturan. Belum tentu juga si super ngesot jadi nurut-nurut aja gituh sama peraturan. Kadang untuk dapat perhatian, mobil memang sengaja melanggar, atau terbiasa melanggar aturan, biar dianggap paling berani. Dapat perhatian polisi sih iya, tapi dipisuhi pengguna jalan lainnya.

Akan halnya mobil super ngesot ini, kadang menjadi contoh bagi kendaraan lain tentang ‘oh, beginilah caranya bersikap.’ Jadi lampu merah bablas aja, ada polisi woles aja, ada rambu tabrak aja. Bukankah saya sudah bilang, mobil super ngesot yang hobi melanggar ini akan menjadi pusat perhatian?

Itu yang namanya salah fokus. Yang diperhatikan bukanlah sesama mobil, namun peraturan yang ditegakkan demi kenyamanan bersama. Namanya juga jalan, banyak mobil dan kemungkinan senggolan. Itulah sebabnya, lebih baik klakson jarang digunakan. Atau kita akan mendapat malu, ditinggalkan mengesot sendirian di belakang.

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/479563060291206843/

Advertisements