Cara Tuhan Bercanda

turbulence

Lisa bergegas menyeret kopernya melewati petugas bandara. Kelak ia akan memasukkannya ke bagasi, sehingga ia cukup membawa tas tangannya ke kabin. Dikeluarkannya tiket yang sudah dicetaknya, diselipkan ke paspor, dan menunggu giliran dilayani petugas check-in.

Seorang pria di depannya berbalik, menyunggingkan senyum, dan berlalu. Lisa maju, mengangsurkan tiketnya, ‘Jakarta,’ katanya pada petugas wanita berwajah oriental tersebut.

Selepas melewati petugas imigrasi, Lisa dengan malas membiarkan dirinya dibawa travelator menuju terminal 3. Kembali ke Jakarta. Huf. Setelah seminggu di Singapura, loncat dari satu meeting ke meeting lain, tiba saatnya ia pulang ke apartemennya.

Meski Singapura serba teratur, tetap saja ia rindu Jakarta. Rindu makan nasi goreng kambing saat pulang lembur. RIndu kepalanya dipijat di salon langganan. Rindu menenggelamkan tubuhnya di bathtub yang hangat, menghilangkan semua pegal di badannya.

Rindu…Sam?

Mungkin. Kalau Sam rindu juga. Seminggu ditinggal, dan komunikasinya dengan Sam bisa dihitung dengan sebelah jari tangan. Sebenarnya Sam rindu juga apa tidak sih? Sulit juga mengetahuinya, jika selama ini teleponnya hanya bertanya ‘bagaimana harimu’, ‘sudah makan belum’ dan ‘jangan capek-capek’. Garing. Sesekali ingin juga ia mendengar, Sam meributkan rekan meetingnya yang kebanyakan bule. Terlalu pede memang dia, tak diindahkannya meski para ekspatriat itu mengelilinginya.

Gate A16 sudah terbuka. Lisa mencari tempat duduk yang dekat dengan pintu keberangkatan. Disibukkannya dirinya dengan tablet yang dibawanya, tak dipedulikannya ruang tunggu yang mulai penuh terisi penumpang.

Akhirnya panggilan itu datang. Melalui belalai, sampailah ia di kursinya, kelas ekonomi, 3 baris dari belakang. Bukan maunya mengincar posisi seperti itu, apa boleh buat, pembelian tiketnya yang mendadak pada weekend seperti ini hanya menyisakan posisi yang tidak enak. Ia pilih tempat duduk di samping jendela. Memandang keluar pulau kecil yang akan ditinggalkannya.

Lisa sudah mengencangkan seatbeltnya, ketika pria itu datang. Pria yang tadi mengantri check-in di depannya. Ia tersenyum. ‘Kosong?’ tanyanya. Lisa mengangguk malas, sungguh basa-basi yang tak perlu.

Berada di kelas ekonomi, dengan posisi duduk 2-3-2, membuat pria itu duduk di sebelahnya. Nampaknya ia hanya membawa ransel saja. Sudah tersimpan rapi di atas kabin. Pesawat akhirnya telah penuh, dan pelan meninggalkan landasan.

Lisa memandang lewat jendela kecilnya. Pesawat makin lama makin tinggi, dan kini kumpulan awan putih itu di bawahnya. Merasa jenuh, ia mengalihkan pandangannya dari jendela, dan barulah ia tahu, pria tadi sedang memandanginya.

Wajah Lisa memerah, sebelum ia sadar, mungkin pria itu sedang ingin melihat awan juga.

‘Ups, sorry,’ Lisa berkata dengan tampang bersalah. ‘Suka awan juga?’

Pria itu tersenyum. Giginya berbaris rapi. Matanya yang ramah seperti ikut tertawa.

‘Ya. Maaf ya kalau membuatmu kaget begitu,’ ia tersenyum lagi. Kini Lisa tertarik dengan pria yang berpenampilan cuek itu. Berkemeja warna gelap, yang nampaknya dipaksakan dipakai karena entah ada acara apa di Singapura, bercelana jins dan bersepatu pantofel.

‘Kenapa suka awan?’ Tak sadar pertanyaan itu keluar dari mulut Lisa. Ia hanya ingin tahu, kenapa pria berpenampilan serampangan itu justru menyukai kelembutan.

‘Teh, kopi, atau jus?’ sapa pramugari. Belum sempat pria itu menjawabnya, pramugari telah sampai ke kursi mereka dan menawarkan minuman. Lisa memilih teh panas, sedang pria itu kopi. Lisa membuka meja di depannya, dan meletakkan tehnya. Siap mendengar jawaban sang pria yang sedang menghirup kopinya.

Lalu…

Awalnya Lisa memekik karena teh panas itu tumpah ke celana panjangnya. Berikutnya terjadi goncangan, dan pesawat terasa turun mendadak. Suasana senyap. Semua penumpang kaget.

Kemudian terdengar suara pilot, ‘Cabin crew take your seat, please!’ diikuti dengan para pramugari yang bergegas duduk di belakang.

Terdengar bunyi ‘tung!’ dan lampu Fasten Your Seatbelt menyala. Lisa memasang lagi seatbeltnya, demikian juga dengan seluruh penumpang. Terdengar nada kecemasan dari cara mereka berbicara. Tak lama, pesawat mulai bergoncang. Tempat duduk ikut bergetar. Setengah ngeri, Lisa mencengkeram lengan kursinya. Di luar, awan hitam nampak mengancam. Kini ia menyesal memilih kursi dekat jendela. Dipejamkan matanya, untuk menghindari melihat pemandangan mencekam itu.

Lalu sebuah genggaman terasa di tangannya. Lisa membuka mata.

Pria itu, sedang menggenggam tangannya. Ia menoleh ke Lisa. ‘Jangan takut,’ katanya pelan.

Kemudian pesawat turun lagi, hingga dua puluh detik lamanya. Rasanya jantung seperti tertinggal. Lisa merasa sejenak seperti melayang. Namun untunglah mereka semua sudah menggunakan seatbelt. Nampaknya kini di luar terlihat hujan deras. Petir menyambar menyilaukan mata.

Lisa memalingkan wajahnya. Pria itu masih menggenggam tangannya, dan nampaknya tangan Lisa pun kini menggenggam erat jemari pria tersebut.

‘Turbulensi,’ bisiknya pada Lisa. Suara tangis bayi terdengar. Penumpang ada yang memaki, ada yang menyebut nama Tuhan. Semua berteriak panik. Lisapun mungkin akan begitu, jika tidak ada pria ini, dan genggamannya, yang menenangkan hatinya. ‘Pesawat agak menyimpang dari arah seharusnya. Namun nampaknya pilotnya jago, ia sedang berusaha mengembalikannya.’ Dan pesawat berbelok ke kanan.

Kemudian awan berganti putih kembali. Lisa melihat di jendela, kepungan awan hitam itu sudah menghilang. Ia menoleh dengan gembira ke pria di sampingnya.

‘Sudah! Sudah lewat bahayanya!’

Pria itu tersenyum. ‘Kalau begitu, boleh dilepas tangannya?’

Hah? Masih digenggam dengan erat rupanya. Dengan malu Lisa melepaskannya, mengucapkan terima kasih atas ketenangan yang sudah diberikan pria itu.

‘Sudah biasa ini, Mbak,’ katanya menjelaskan, ‘Mungkin tadi ada badai. Kita dapat ekor badainya saja. Nampaknya pilotnya sudah pengalaman, sehingga ia akhirnya bisa menghindar.’ Melihat Lisa masih terpana, ia melanjutkan, ‘karena kita naik pesawat berbadan besar, efeknya tidak begitu terasa.’

Hampir saja Lisa memprotes pernyataan tersebut, karena toh sampai sekarang celananya masih basah. Namun pramugari telah berkeliling lagi, menawarkan minuman dan membagikan roti dalam kotak. Lisa dan pria itu menyantap makanannya dalam diam. Hati Lisa berkecamuk. Ia ingin bertanya lebih banyak, apakah pria itu sering naik pesawat dan mengalami turbulensi? Apakah ia terbiasa menenangkan penumpang di sebelahnya? Apakah … sudah banyak tangan yang digenggamnya?

Namun pertanyaan itu hanya tersimpan di mulutnya, saat ia melihat pria itu mulai memejamkan matanya. Ia tak berani mengajak bicara jika seseorang sudah mengambil posisi ‘jangan ganggu’ seperti itu.

Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus. Setiap penumpang dengan lega bergegas bangkit dari tempat duduknya, mengambil tas yang ada di kabin. Pria tadi juga bangkit, menawarkan apakah ada tas milik Lisa yang harus diambil dari kabin, dan kemudian mengeluarkan ranselnya sendiri.

‘Silakan,’ ia mempersilakan Lisa keluar lebih dahulu. Lisa menurutinya. Ia hanya berharap, saat di darat nanti sempat menanyakan nama dan menukar nomor telepon. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya, namun kali ini untuk pria itu ia rela jadi yang pertama.

‘Namamu…’ pertanyaannya terputus saat ada penumpang lain masuk di sela-sela mereka berada. Berikutnya dorongan untuk segera keluar dari pesawat, untuk melangkah cepat di belalai, mengantri di imigrasi, hingga Lisa harus mengambil bagasi.

Ketika ia mencari pria itu lagi, sudah tidak ada. Sudah tak terlihat. Lenyap begitu saja.

Lisa memainkan cincin di jemarinya. Jemari yang tadi sudah digenggam dengan eratnya. Agak sedih juga, seseorang yang mampu mengendalikan dirinya, sudah tidak ada.

**

Pria itu berjalan cepat melintasi berbagai pengunjung bandara yang menyemut di depan pintu kedatangan. Ditatapnya langit terang yang ada di atas Cengkareng. Ia tersenyum, Hari ini, Tuhan sedang bermain-main rupanya.

Tadinya ia mengira, turbulensi itu cara Tuhan mendekatkan ia dengan gadis manis yang diincarnya sejak di Changi. Semuanya nampak begitu pas. Tempat duduk, si gadis yang penakut, dan turbulensi. Bahkan, ia memprediksi, jika pesawat tersebut sampai ada apa-apa, ia akan tetap menggenggam tangan gadis itu, sehingga mereka jodoh sehidup semati.

Namun Tuhan mengandaskan harapannya.

Cincin di jari manis kiri. Cincin yang menyakiti setiap genggamannya, menunjukkan gadis itu sudah ada yang punya.

Pria itu tertawa. Ah Tuhan, sungguh ajaib caraMu bercanda!

(bersambung)

***

IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/265501340504857787/
Serial Cara Tuhan Bercanda

Advertisements