Penulis dan Pembacanya

20130910-193058.jpg

 

Duluuuu, saya pernah memutuskan untuk mundur dari fiksi. Apa lagi kalau bukan karena fiksi saya dikira pembaca sebagai nyata. Awalnya santai saja, karena toh saya yang tahu idenya dari mana. Tidak melulu pengalaman pribadi, namun juga pengamatan, cerita teman, atau dari tontonan, lagu, kisah yang saya baca, dan banyak sumber lainnya. Tapi mulai terganggu ketika kisah rekaan itu, dikaitkan dengan kehidupan pribadi, apalagi keluarga.

 

Terlepas dari akhirnya saya nongol lagi, dan menikmati para pembaca yang menerka keadaan saya yang ‘jatuh cinta berkali-kali’ sekaligus ‘patah hati berkali-kali’, peran pembaca amat penting bagi seorang penulis, baik fiksi ataupun non-fiksi.

 

Saya memang tidak selalu bisa menjadi pembaca. Bukannya sombong, tapi urutan prioritas saya, membaca ada di bawah menulis, karena ide seperti ‘berlompatan di kepala’. Maka jika ada waktu senggang, pasti saya dahulukan menulis dulu, setelah posting baru membaca tulisan karya teman-teman. Sehingga, saya merasa membaca ini bukan kegiatan yang mudah saya lakukan.

 

Adanya pembaca bagi penulis adalah untuk mendapatkan feedback tentang apa yang ditulisnya. Jika pada era sebelumnya komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu penulis menayangkan tulisannya, kemudian pembaca membahasnya tidak di depan mata penulisnya, sekarang era sudah serba terbuka. Kita akan terbiasa dengan para pembaca yang beragam maunya, dengan beragam karakternya.

 

Pembaca meluangkan waktu untuk membaca karya kita, kemudian jika tertarik mengomentarinya, baik yang sifatnya memuji, memberi masukan, atau sekedar menyapa. Apapun itu, ada yang mereka korbankan saat membaca karya penulis, berusaha memahaminya, dan berusaha menuliskan komen yang nyambung (atau agak nyambung, atau dibikin ngga nyambung) dengan isi artikelnya. Dan karena itulah, seorang penulis mendapat masukan untuk karyanya.

 

Apakah penulis bisa menilai pembacanya, seperti pembaca menilai penulisnya, seperti yang saya ungkapkan di bagian awal?

 

Menurut saya, bisa. Disinilah menariknya. Saya menganggap hubungan ini sebagai bagian dari aksi dan reaksi. Jika saya ‘melempar’ tulisan dengan tema ini, bagaimana tanggapan umum pembaca. Lalu adakah cara pandang yang berbeda, sehingga muncul multitafsir, bahkan yang paling OOT sekalipun. Penulis menjadi belajar, apa yang harus ia perbaiki, jika memang menginginkan tafsir tunggal pada tulisannya. Bagian ini yang sulit, karena makin banyak ‘kepala’ (pembaca), maka makin beragam pula cara berpikirnya.

 

Kadang seorang penulis sudah siap dengan reaksi A yang akan muncul dari tulisannya, tapi ternyata malah reaksi B yang ia dapatkan. Kadang sudah siap dengan reaksi A, B dan C, ternyata yang muncul hanya C. Tulisan bisa menjadi test case, sampai sejauh mana pembaca bisa memahami pesan yang ingin disampaikan penulis dan tipe pembaca apa yang menyukai topik tersebut. Ke depannya, jika ingin menuju pada segmen tertentu, tinggal cek data histori, penerimaan para pembaca yang terwujud dalam komentar.

 

Jadi sebenarnya ada hubungan saling berbagi antara penulis dan pembaca. Penulis membagi mistikum yang ia dapatkan dari masa lalu,  masa sekarang dan bayangan masa depannya, pembaca memberikan feedback pada penulis agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik.

 

Maka, hormat saya pada para pembaca dan komentator. Sehingga saya lebih memilih tidak tayang daripada nantinya tidak bisa membalas torehan pendapat mereka ^_^

***

IndriHapsari

Gambar : pinterest.com

 

Advertisements