Jualan, Kok Jutek Sih?

tahu

‘Mbak, nasi bakarnya ada?’

Ngga jawab, hanya menatap saya dengan pandangan kosong. Menyerah, saya memilih melihat banner yang ada di depan standnya.

’Kalau yang paket, ada ngga mbak?’

Mbaknya, langsung nyolot, ’Ya ngga ada Mbak! Yang di sini lo, yang ada,’ sambil menunjuk poster lain, yang ada di sebelahnya. Yeee..mana gw tau…

Saya menunjuk satu gambar, ’Kalau gitu, yang tuna aja deh.’

Tanpa berkata apa-apa, ia hanya mengangsurkan tangan, meminta pembayaran. Haduh, salam kompak deh. Untung saja setelah itu dia menanyakan saya duduk dimana, rupanya akan diantarkan pesanan saya, seperti stand lainnya. Kalau ngga sih, saya bakal melaksanakan sumpah saya, untuk ngga beli lagi dari dia.

Itupun, setelah pesanan saya datang dan saya bilang ’terima kasih’ plus senyum manis, dia berlalu tanpa berkata apapun.

Ih, dapat salam dari dicuekin…

*

Oh ya, bagi saya yang seorang pembeli, dengan begitu banyak pilihan stan, membuat faktor persaingan makin ketat. Saya bisa bebas memilih makanan mana yang sesuai dengan selera, harga terjangkau, bersih, dan tentu saja, penjual yang ramah dan proaktif. Dan jangan khawatir, saya siap berubah selera, kalau ternyata yang saya temui adalah penjual yang juaji, bahasa Suroboyoan untuk : nyebelin.

Penjual, merupakan representasi dari apa yang ia dagangkan. Kalau penjualnya jutek, sebagus apapun produknya, jadi ngga kelihatan. Apalagi kalau pakai marah-marah, menghina pembeli, dan tidak menyambut dengan ramah. Meskipun sudah memakai cara menjelek-jelekkan dagangan stan lain, jangan salah lo, hasilnya bisa berbalik. Pembeli malah penasaran, apa benar yang telah dikatakan, dan malah ingin membuktikan. Begitu mereka pindah stan, ada kemungkinan terjadi pelanggan pindah ke stan lain. Membuat pelanggan betah dan menutup kemungkinan untuk berpindah, adalah hal yang utama menjaga kesetiaan pelanggan. Nah, kalau sudah begitu, siapa sih yang betah dengan penjual yang mulutnya perlu dicuci pakai sabun?

Begitu juga kalau kita punya pendapat sesuatu tentang apa yang kita yakini atau bela sampai mati, di dunia maya maupun nyata, berperanlah sebagai penjual. Tempatkanlah diri sebagai orang yang menawarkan, bukan memaksa, apalagi menghina. Posisikan sebagai orang yang paling tahu kelebihan produknya, bukan karena putus asa yang dikuasai malah keburukan produk pesaing. Apalagi sampai ke stan orang lain, lalu menanggapi secara OOT dan lebay tentang produk yang dijual di sana. Apa ngga cari mati namanya?

Hindari perdebatan. Ngga ada gunanya buat pembeli. Pembeli dan calon pembeli bisa kabur karenanya. Tunjukkan sikap yang baik dan ramah, karena …
Hei! rejeki ngga akan kemana untuk mereka yang berusaha dan menghargai sesamanya.

Lu jual gw beli. Lu kasar gw lari 😛

milkshake

***
Gambar : lucupol.com

Advertisements