Pompeii : Novel Cerdas Karya Robert Harris

Apa yang membuat karya Shakespeare bertahan lama?

Shakespeare tidak berkotbah. Ia bercerita. Ia tidak bilang harus ini atau harus itu, tapi ia serahkan keputusan itu ke penikmat karyanya, dengan menggambarkan akibatnya. Karyanya menjadi relevan sepanjang masa. Pertunjukannya dimainkan dari jaman ke jaman. Meski settingnya jadul, pesan yang ingin disampaikan terasa pas di setiap era.

Saya mempunyai keyakinan yang sama untuk novel Pompeii karya Robert Harris ini. Pompeii, saya rasa semua sudah pernah mendengar cerita tentang kota yang hilang akibat meletusnya gunung Vesuvius. Namun meski menggunakan tema yang sama, alur yang kita tahu ujungnya seperti apa, dan proses meletusnya gunung berapi yang bisa dipelajari pada buku pelajaran sekolah dasar, novel ini tetap bikin tercengang.

20130926-211618.jpg

Novel yang dipuji-puji oleh Sunday Times dan New York Times, menjadi internasional best seller, dan hampir difilmkan oleh Roman Polanski ini, benar-benar nagih untuk dibaca. Total 392 halaman, habis saya baca dalam kurun 6 jam jika disatukan. Cocok dengan genrenya, novel thriller, bacanya bikin deg-degan sekaligus ngos-ngosan.

Harris dengan cerdik menyelipkan fenomena jaman sekarang dalam novelnya. Kisah lingkaran setan politikus dan pengusaha, ketamakan yang melumpuhkan logika, dan perilaku seksual yang memuakkan. Harris seorang jurnalis dari BBC Inggris, karyanya diterbitkan tahun 2003, diterbitkan di Indonesia sejak 2009.

Berlatar belakang jaman kekaisaran Romawi saat Kaisar Titus berkuasa, kisah dimulai oleh Attilius, seorang insinyur ahli bangunan air (aquarius) yang bertugas mengawasi Aqua Augusta, saluran air terpanjang di dunia yang menghubungkan tujuh kota di Teluk Neapolis, termasuk kota Pompeii. Sebagai orang muda, ia kerap diremehkan oleh anak buahnya dan sering dibandingkan dengan aquarius sebelumnya, Exomnius.

20130926-211721.jpg

Persoalan terjadi saat pasokan air di kota Misenum terhenti, kemudian keanehan demi keanehan terjadi. Air yang cepat terserap ke pori-pori tanah, bahkan ketika mereka menggali. Dalam sekejap, pasokan air telah sirna dari Misenium. Attilius juga terlibat dalam penyelamatan budak Corelia, anak Ampliatus yang super kaya. Budak itu ditelanjangi hingga hanya memakai cawat, kedua tangan diikat, dan diceburkan ke tepi laut sebagai umpan bagi belut peliharaannya . Sebelumnya kedua betisnya disayat belati hingga berdarah, dan tubuhnya diguyur cuka. Katanya, hal itu bisa membuat belut Ampliatus makin menggila. Ampliatus sendiri percaya, belut yang memakan daging manusia akan lebih enak rasanya.

Kejam? Padahal Ampliatus sendiri adalah budak yang dibebaskan. Namun kelakuan suka pamernya, kelicikan dan ketamakannya, mampu menciptakan musuh, bahkan dari kalangan teman-temannya. Ia kongkalingkong dengan Exomnius, agar tak perlu membayar pajak ke Kaisar. Ternyata semua penindasan yang ia lakukan, membuatnya jadi lebih kejam dari sebelumnya. Memang, tidak ada yang lebih kejam daripada seorang budak yang menjadi majikan.

Attilius menduga permasalahan air itu terkait dengan saluran yang terletak di gunung Vesuvius. Karena itu ia membutuhkan kapal milik Laksamana Pliny, seorang sahabat Kaisar dan seorang ilmuwan, yang sudah membuat 37 buku. Berhasil meyakinkan Laksamana, maka berlayarlah Attilius ke Pompeii, dan dimulailah petualangan Attilius di kota para penipu itu.

Novel Harris ini menjadi menarik karena ia melakukan riset yang mendalam pada latar belakang, karakter, istilah-istilah yang kerap digunakan pada masa itu, bahkan hingga ke menu yang tersaji di vila-vila orang kaya. Harris mengatakan ia telah melakukan riset pada 2000 buku, diantaranya adalah buku tentang bangunan-bangunan Romawi yang menakjubkan dan buku tentang gunung berapi. Ia pun tak segan bertanya pada para narasumber yang ahli di bidangnya.

Akibatnya membaca novelnya seakan kita ikut tercebur dalam petualangannya, gambaran itu terpampang di depan mata. Bagaimana misteri demi misteri terjawab satu persatu, gunung Vesuvius yang mulai melemparkan bebatuan ke udara, kemudian berganti menjadi bola-bola api. Manusia berdesakan hendak menyelamatkan diri, tuan dan budak menjadi satu. Bayi terjatuh dan terinjak, kaki-kaki mencuat ke atas, bau hangus tubuh manusia tercium dimana-mana. Sejenak kemudian lahar panas mengalir ke laut, awalnya bergulung-gulung bersama ombak sebelum lenyap dalam kegelapan malam. Yang membinasakan Pompeii adalah awan panas atau wedhus gembel, yang ‘membunuh lebih dari dua ribu nyawa dalam waktu kurang dari setengah menit dan meninggalkan mayat mereka dalam serangkaian tablo mengerikan untuk selama-lamanya.’

Nyeseg bacanya. Bagaimana nasib Attilius dan Corelia? Oh, tentu mereka selamat, dengan cara yang bisa dicerna logika. Karena Harris mempelajari benar karakteristik ‘serangan’ gunung berapi, dan mencantumkan pengetahuan-pengetahuan menariknya pada setiap babnya. Yang paling saya ingat (untuk jaga-jaga) adalah :

Meramalkan akhir erupsi bahkan lebih sulit daripada memprediksi awalnya.
~ Ensiklopedia Gunung Berapi

***
IndriHapsari

Advertisements