Dilema Restoran Laris Pemelihara Mahluk Halus

20130921-013104.jpg

Restoran favorit kami memang luar biasa larisnya. Pada jam ramai, kami harus mengantri di pintu masuk, dengan masing-masing pelanggan memegang kartu urutan. Kadang kami mendapat tempat duduk dalam antrian, kadang harus berdiri. Hal itu tak menyurutkan orang untuk datang, dan datang lagi. Padahal parkirnya tak nyaman, kalau lagi sial jalan kakinya cukup jauh menuju restoran, melampaui banyak trotoar berlubang. Karena itu kami sikapi dengan makan tidak pada jamnya. Misal, makan siang jam sepuluh pagi, makan malam jam lima sore. Nah, itu sih ngga tahu termasuk taktik atau memang gembul 😀

Sejak dulu saya mendengar kabar, restoran itu memelihara mahluk halus untuk melariskan usahanya. Job descriptionnya meliputi tukang masak, supervisor, security, dan marketing. Pengunjung ramai, keadaan aman sentosa dan rasanya enak. Namun kalau dibawa pulang, kelezatannya menjadi agak berkurang. Saya pikir mungkin faktor makanan baru keluar dari dapur, lebih enak disantap begitu keluar dari wajan.

Awalnya kabar tersebut saya indahkan. Namanya juga persaingan usaha, mungkin saja kabar tersebut dihembuskan oleh pesaingnya. Karena berindikasi fitnah, saya simpan namanya sampai di saya saja, tanpa menyebarkannya kemanapun. Kasihan sekali kan, kalau ada suatu usaha bangkrut gara-gara gosip tak sedap.

Namun keyakinan saya mulai tergoyah, saat saya menyaksikan sendiri suatu usaha yang memelihara mahluk halus di Lombok, dan dengan narsisnya si mbak ini memperlihatkan dirinya di kamera handphone kami! Saya terkejut melihatnya, sesuatu yang saya tidak percaya ada, eh malah menampakkan diri di depan mata. Dalam kasus tersebut, saya dengan mudah bisa menghindarinya, dengan berjanji ngga perlu ke sana lagi. Jauh ini, dan produknya ngga penting banget.

Sekarang yang jadi masalah adalah restoran favorit kami. Sampai saat ini, tak ada yang dapat mengalahkan kelezatan masakan santap di tempat itu. Kami memang mudah mencari penggantinya, karena banyak usaha sejenis di Surabaya yang mencoba mengalahkannya. Tapi ya itu, lidah ngga bisa bohong.

Kenapa saya kok gundah? Dari sisi saya sebagai pelanggan, ya ngga mau lah mencicipi makanan yang dibumbui oleh mahluk halus tadi. Serasa mendukung usaha ilegal dan membuktikan kinerja si mahluk halus ini OK, sehingga kontraknya diteruskan. Bagi pemilik usaha, dia kok tega menarik sumber daya dari mahluk yang seharusnya sudah tenang-tenang di dunianya, untuk membantu meningkatkan pendapatannya. Agak…curang menurut saya.

Saya ngga bisa menantang baru akan berhenti ke sana kalau diperlihatkan seperti kejadian di Lombok tersebut. Kalau dilihatin beneran gimana hayo? Sulit untuk membuktikan, meski kabar santer terdengar. Hanya pada restoran itu saja saya mengalami dilema, mengingat jasanya pada kami sekeluarga. Ya, di restoran itu anak-anak saya pertama kali duduk anteng, makan sendiri tanpa perlu disuapi, karena rasanya yang lezat. Maklum dulu pada susah makan, sehingga salah satu penyelamatnya adalah bersantap di sana.

Untuk restoran lain yang tertimpa kabar yang sama, saya ngga begitu peduli. Ada satu nasehat, saat ragu melanda, jangan lakukan. Sehingga meski mungkin kabar itu belum terbukti benar, tapi begitu melihat ciri-ciri ramainya luar biasa padahal rasa makanannya biasa, saya lebih baik menghindar. Selain ngga favorit amat, nurani berbicara (oh yeah, saya memang suka lebay dengan memasukkan mbak nurani ini, bahkan ke soal makanan :D).

Demikian sharing saya, mungkin Bapak Ibu Mas Mbak ada pengalaman yang sama? Terimakasih buat teman-teman FB yang aktif urun rembug masalah kegalauan (ngga penting) saya. Buat Pak Teguh Suprayogi, Valencya Poetri, mbak Aridha Prassetya, Bang Muhammad Ichsan, Mbak Marul Prihastuti, Mbah Paito, Oma Eni K, dan Afriska Ambarita, makasih ya ^_^

***
IndriHapsari
Ilustrasi : pinterest.com/pin/241716704973576666/

Advertisements