Pikiran yang Membutakan

20130920-011622.jpg

Seharusnya sebagai manusia, yang menguasai semua tingkah kita adalah pikiran. Namun sayang, dalam beberapa kesempatan, justru perasaanlah yang menguasai pikiran, hingga mampu membutakan, menulikan, bahkan melumpuhkan logika. Terasa percuma Tuhan sudah menganugrahkan segenap panca indra, plus akal budi, untuk membedakan manusia dari mahluk lainnya.

Perasaan, mengatur pikiran, agar mata tidak mengindahkan hal-hal yang seharusnya dilihat, namun peka terhadap hal-hal yang INGIN dilihat. Jadilah seperti pengaburan fakta, abai terhadap segala tanda, dan tentu tidak sempat untuk berpikir dengan logika.

20130920-012031.jpg

Apalagi kalau bicara cinta.

Minggu-minggu ini kita disajikan berita seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, sehingga mengikuti saja apa mau anaknya, dengan mengijinkan ia mengendarai kendaraan bermotor yang belum layak digunakannya. Beribu keheranan disampaikan, namun terlambat, korban telah berjatuhan. Itupun, tidak yakin juga saya apakah mata ayah tersebut telah terbuka, tindakan atas dasar cintanya ternyata membahayakan bagi anaknya dan orang lain.

Seorang gadis tetap bertahan dengan cintanya, meski tahu sang pria tak pernah menanggapi semua inisiatifnya untuk jemput bola. Tetap saja sang gadis menunggu, menunggu dan menunggu, seakan waktu tak terbatas untuknya. Mungkin matanya kelak akan dibukakan, ketika sang pria menikah dengan idaman hatinya.

Mskipun telah dikhianati berkali-kali, diperlakukan dengan tidak senonoh, seorang istri tetap mempertahankan rumah tangganya. Hidup baginya no way out, mau tidak mau harus menikmati neraka dunia. Ia terima mentah-mentah kelakuan buruk suaminya, tanpa usaha memperbaikinya. Seolah suaminya dewa, yang coba dipertahankannya. Perasaan cintanya, mendorong ia untuk mengorbankan segalanya, termasuk kebahagiaan dirinya. Ia tak melihat balasan suaminya, ia hanya tahu memberi. Ia buta, atas ketulian suaminya. Ketulusan, menjadi tipis bedanya dengan kebodohan.

20130920-011758.jpg

Apakah cinta selalu membutakan?

Tidak juga, kalau kita mencintai orang yang benar, dengan cara yang benar.

Cinta, bukanlah memanjakan. Memberikan apa yang ia suka, mengorbankan kepentingan diri sendiri bahkan orang lain demi senyum sang pujaan hati. Cinta seharusnya saling memuliakan, satu sama lain dapat mencapai kebahagiannya. Cinta, kelak akan selalu menuju pada yang Esa, sebagai panduan saat mengarungi kehidupan bersama.

Cinta juga lebih baik diberikan pada orang yang bisa membalas mencintai, karena sebagai manusia cinta yang kita punya masih berpamrih. Mencintai dalam diam? Mencintai tapi tak memiliki? Lupakan. Ujungnya pasti patah hati. Jika kita membuka mata, masih banyak orang-orang yang layak dan patut kita cintai, tanpa sempat membuat kita sakit hati.

20130920-012123.jpg

Bukalah mata, perhatikan baik-baik. Kuatkan diri, termasuk saat kita harus melihat hal-hal yang selama ini kita hindari. Kadang saat keraguan melanda, sebenarnya petunjuk sudah terpampang di depan mata. Namun kebebalan sering membutakan pikiran, dan dari sanalah kata mutiara terciptakan : ‘Cinta itu Buta’.

20130920-011956.jpg

***
IndriHapsari
Gambar :
pinterest.com/pin/323837029426443270/
pinterest.com/pin/56998751505921196/
pinterest.com/pin/97812623129957523/
pinterest.com/pin/29695678762849402/
pinterest.com/pin/172262754469113565/
pinterest.com/pin/29695678762849402/

Advertisements