Kasus @Benhan, Hati-hati Berbicara di Maya

Masih membekas dalam ingatan saya atas kasus Prita, yang menyebarkan kejelekan rumah sakit via email, yang menyebabkan kasusnya harus masuk ranah hukum. Padahal email adalah surat pribadi, yang tanpa keinginannya menjadi ranah publik, dan dipersoalkan oleh pihak yang tersinggung. Toh ia hanya mengirimkan ke teman-temannya, agar tak mendapatkan pengalaman yang sama. Tapi karena menyebar kemana-mana, jadilah Prita dianggap sebagai pesakitan. Seorang konsumen yang memperjuangkan haknya (because some of our costumer services are suck) malah diseret ke penjara oleh rumah sakit besar.

20130907-081215.jpg

Saat Benny Handoko dengan akunnya @Benhan di ranah Twitter ditangkap polisi (dan sudah digunduli) atas laporan Misbakhun, politisi yang dinyiyirinya, semua orang menyesalkan, bahkan muncul dukungan via Twitter untuk menentang putusan ini. Ehm, bentar ya, saya masih sulit mencerna gimana cara mereka melepaskan Benhan dari polisi. Apa janjian gitu, lalu bersama-sama mendatangi polisi untuk melepaskan Benhan? Atau patungan untuk bayar pengacara, agar Benhan bisa bebas? Karena kalau cuma koar-koar di Twitter, ngga ngefek bung!

Terlepas dari entah Benhan benar atau salah, Misbakhun terlalu sensi atau dia berhak marah, semua yang Benhan twitkan muncul di ranah publik. Sehingga saat ia dijerat dengan pasal pencemaran, bisa. Beda dengan Prita yang ngga memilih ranah publik (meski pasal yang sama pula yang menjeratnya).

Lalu apa kita ngga boleh berpendapat, ngga boleh protes ini itu, apalagi kalau ketidakadilan tersaji di depan mata, kecurangan dan kejahatan sudah cukup membuat kita muak untuk menyimaknya.

Kalau kita menggunakan akun asli, sebaiknya hindari menggunakan kata kasar, to the point, atau menyebut orang langsung. Sehingga saat akan dijerat, kita bisa ngeles yang dimaksud bukan dia kok, elo aja yang ge-er. Lebih baik lagi bila sajikan dalam bentuk artikel, bukan kalimat-kalimat pendek 160 karakter, yang bisa menyebabkan orang mispersepsi dan ngga ngikutin dari awal, masalahnya apa, dan jadi asal njeplak ikut ngomporin.

Paling aman kalau mau nyinyir ya pakai akun palsu. Masalahnya kebebasan itu ada batasnya, saat ada pihak lain tersinggung, berarti kita sudah melampaui batasan itu. OKlah kita yang benar, tapi tetap aja cara kita salah. Apapun, yang dilakukan dengan cara yang salah, ngga akan mengubah apapun, meski niat kita baik. Lihat tuh FPI, maksudnya baik anti maksiat, tapi karena main fentung, masyarakat jadi ngga simpati.

Buktinya akun @triomacan2000 ya aman-aman saja. Mau nangkap siapa? Orangnya aja OTB, alias Orang Tanpa Bentuk. Jadi apa boleh buat, lebih baik pengecut daripada muncul ancaman terhadap keluarga, yang juga mengganggu kenyamanan kita. Tapi kembali lagi, mau jadi apa sih dengan anonim itu? Ngga malu, dengan para pejuang atau pendemo, yang tela dikejar aparat karena dia berani menunjukkan jati dirinya menentang ketidakadilan. Contoh, Wiji Thukul yang sampai sekarang tak terdeteksi keberadaannya.

Apapun yang kita tayangkan di dunia maua, ke publik, akan menjadi torehan sejarah, atau barang bukti yang kelak bisa menjatuhkan, atau mengangkat nama kita. Hati-hati bicara dan menyebarkannya.

***
IndriHapsari
Referensi : Kompas

Advertisements