Rembangan : Bertahan di Tengah Kepungan Jaman

image

Rembangan mungkin sudah jadi trade marknya kota Jember. Sama seperti Lembang di Bandung, tempat rehat warga kota di tempat yang tinggi, dimana udara masih sejuk, kabut masih turun, dan pohon cemara mengeluarkan wanginya. Rembangan didirikan sejak tahun 1937 oleh Belanda, dan berada pada ketinggian 650 mdpl.

Perjalanan dari pusat kota Jember sendiri tak memakan waktu lama, sekitar 12 km jaraknya. Kendaraan harus dalam keadaan fit, karena banyak tanjakan dan kelokan yang berbahaya. Mobil kami pernah merosot karena tak kuat menanjak. Bayangkan jika Anda mengendarai skuter. Olahraga dulu dengan mendorong skuter sampai ke puncaknya.

Saat ini di sepanjang jalan banyak ditemui budidaya buah naga. Saya baru tahu ternyata jenis tumbuhan ini adalah parasit, kerjanya menghisap nutrisi dari tanaman lain. Pemandangan yang dari dulu ada adalah peternakan sapi. Langsung terbayang ingin minum susu segar di Rembangan. Sayangnya, pemandangan indah seperti lereng gunung Argopuro dan kota Jember dari kejauhan terhalang dengan banyaknya warung lesehan yang didirikan di pinggir jalan.

Tiket masuk ke kawasan wisata cukup murah, Rp 7.500 untuk dewasa, Rp 5.000 untuk anak-anak, 2 ribu untuk mobil, dan 1 ribu untuk sepeda motor.

Rembangan sendiri memiliki kontur yang cukup unik. Ada 4 level ketinggian, dan kita bisa melihat pemandangan yang indah dari seluruh levelnya. Semuanya juga memiliki tanaman yang menarik mata, dan rasanya warnanya jadi keluar semua karena ditanam di Rembangan.

Level yang pertama adalah hotel dan restoran. Jika ada panggung pertunjukan juga diletakkan di sini. Mobil dan motor bisa parkir di tempat ini. Kalau ke restoran, biasanya yang saya pesan adalah susu segar, disajikan panas-panas, dengan berbagai variasi rasa. Kemudian pisang goreng kejunya ampun dah, banyaaak. Jadi bisa buat bertiga. Ada pula kentang goreng, dengan bahan kentang lokal.

Level kedua adalah kolam renang dewasa dan anak-anak, serta kamar bilas. Airnya dulu dingiiin sekali, sekarang tidak terlalu. Namun air bilasan tetap dingin karena langsung berasal dari mata air. Kolam anak-anak dihiasi dua gajah yang belalainya memancurkan air. Kolam dewasa dihiasi dua papan loncat, untuk mereka yang suka tantangan (jadi inget Mr. Bean). Terdapat beberapa warung didirikan untuk mereka yang kelaparan. Entah yah, tapi saya lebih suka penampilannya yang dulu, serba lapang, hijau, ngga ada gubuk bambu. Kalaupun makanan di restoran teraa mahal, cukup bawa bekal dari rumah, dan gelar tikar seperti piknik. Pasti lebih nikmat dibanding bakso dan mie dalam cup.

Dalam pengembangannya, ternyata ada level dua setengah, yaitu tambahan satu kolam anak-anak. Lebih besar dari kolam yang pertama. Oya, kalau di Rembangan ini tidak ada life guardnya, dan Anda bisa bebas mencemplungkan diri, meski pakai baju lengkap! Maklum deh, pengawasnya ngga ada. Lalu jika tidak membawa pelampung, bisa menyewa ban dalam mobil (jaman baheula) Rp 5 ribu per sekali sewa. Ngga perlu deposit, dan bisa pakai selama-lamanya.

Level ketiga berisi permainan anak-anak. Euh, sebenarnya ngga juga. Orang dewasa senang sekali bermain ayunan yang besar, dengan posisi menghadap tebing. Keren sekali memang pemandangannya. Lainnya ya permainan anak-anak biasa. Pohon cemara dimana-mana, tinggi-tinggi, menandakan usianya. Yang terakhir adalah level empat, yang merupakan tempat parkir mobil dan motor. Di sini juga kerap ditemui penjual asongan, dan beberapa warung.

Potensi yang dimiliki Rembangan cukup besar, terutama untuk masyarakat umum. Tak menyangka, selera kita sama dengan noni Belanda 🙂

***
indrihapsari
Gambar : pribadi

Advertisements