Empat Satu

20130808-223845.jpg

‘Main empat satu yuk!’ Kakak mengeluarkan setumpuk kartu remi. Dibukanya karet gelang yang mengikatnya, lalu dikocoknya perlahan. Belum terlalu bisa, sehingga harus pelan-pelan daripada kartu bertebaran.

‘Ayo!’ sambut saya, ‘Ajak Papa juga!’ Segera saya tarik Papa yang sedang sibuk dengan Blackberrynya. Mengirim ucapan selamat Lebaran katanya, mumpung jaringan belum padat.

‘Main empat satu,’ kata saya menjelaskan. Segera muka bingungnya berganti menjadi muka yakin. Kalau bermain dengan Papanya anak-anak ini selain modal piawai, harus kuat mental juga. Karena ia suka menjatuhkan lawan mainnya dengan celetukan yang bikin cemas akan kekalahan, sehingga malah membuka rahasia ke lawan.

‘Yang menang kalau apa, Ma?’ celetuk Kakak sambil membagikan kartu empat-empat, dengan posisi tertutup.

‘Tiga raja, satu as,’ jawab Papa cepat. Dengan segera ia mengangkat kartunya, senyum terpancar dari wajahnya. Nah ini loh, salah satu trik menjatuhkan lawan. Baru main, sudah menunjukkan bahwa dia akan menang.

‘Eh, bisa saja cara lain. Kumpulkan angka yang sama, misal kartu 4 semua, atau kartu J semua, dengan berbagai bentuk. Atau, urut juga boleh. 2, 3, 4, 5 contohnya, dari bentuk yang sama. Yang ngga boleh contohnya 9, 10, J, Q,’ jelas saya.

‘Ah, mana ada aturan seperti itu!’ sergah Papa. Berubah sedikit, sudah bingung dia. Trik yang lama, mungkin tak bisa digunakan lagi.

‘Sekarang bisa,’ jawab saya kalem.

Kini kami telah mengangkat kartu masing-masing. Kartu saya jelek semua. Beragam bentuknya, kecil-kecil angkanya. Awalnya setiap mengambil dari tumpukan kartu yang belum terbuka, atau sudah terbuka, kami membuangnya ke tengah. Beberapa kali saya lihat, Papa mengambil kartu yang bukan paling atas.

‘Loh, kok ambil yang bawah? Yang paling atas dong!’ protes saya.

‘Oh, begitu ya?’ katanya setengah bertanya. Meragukan, tahu apa pura-pura ngga tahu sih?

Permainan berlangsung terus, dengan saya yang setengah mati menjaga mimik, karena belajar dari Kakak yang ketahuan dia dapat kartu bagus atau buruk dari mimik mukanya. Beberapa kali Papa juga psy war, dengan mengintimidasi kami.

‘Wah, sepertinya ada yang bersaing ketat nih!’
‘Ma, ngga ambil yang itu? Itu punyamu kan!’
‘Kakak, nih Papa kasih!’

Kami pun berpandang-pandangan, dari mana Papa tahu isi kartu kami. Akhirnya, ia membanting kartu terakhirnya dalam posisi tertutup, dan memperlihatkan empat kartu yang ada di tangannya. 3 raja dan 1 as keriting.

‘Menang!’ katanya dengan gembira. ‘Payah nih Mamanya, sudah bikin aturan macam-macam, komplain terus-terusan, ngga menang lagi!’ Ia tertawa senang.

Saya mengambil alih kartu. Diam saja, tak ada gunanya bersilat lidah dengannya. Sambil mengocok, mata saya terpaku pada dua joker yang menganggur di meja.

‘Loh, ini joker belum dimasukkan?’ tanya saya.

‘Ngga Ma, buat apa?’ tanya Kakak.

‘Loh, lumayan kalau ada joker. Dia bisa jadi apa saja. Ayo, dimasukkan ya,’ usul saya sambil mengambil kedua joker itu.

‘Aturan baru lagi? Jokerkan untuk cangkulan,’ sergah Papa.

‘Ngga ah, dia juga bisa untuk empat satu,’ ujar saya ngotot.

‘Dan sekarang,’ kata saya sambil membagi kartu empat – empat, ‘buang kartunya jangan ke tengah, tapi ke masing-masing pemain. Kakak ke Mama, Mama ke Papa, Papa ke Kakak.’ Papa hanya nyengir mendengar aturan saya yang lain.

‘Mamanya tukang protes!’ ejeknya.

‘Baru tahu?’ jawab saya sekenanya.

Permainan dimulai lagi. Dengan adanya joker, masih muncul harapan jika kartu yang kita inginkan dibuang di tumpukan lawan. Papapun keheranan melihat saya hanya mengumpulkan recehan, istilah kami untuk kartu yang tak bernilai besar.

‘Empat satu!’ teriak Kakak gembira. Ia memperlihatkan kartunya.

‘Loh, belum Kak. Itu kan masih 2 kartu J dan 2 kartu K. Yang boleh 4 kartu J atau 4 kartu K,’ seru saya.

‘Hah? Belum toh? Aduuh, gimana sih aturannya?’ seru Kakak malu. Terutama karena ia telah memperlihatkan kartu yang dipunyainya pada lawan-lawannya dengan sukarela.

‘Tuh Ma, bingung kan! Kita pakai aturan lama saja!’ kata Papa memanfaatkan kesempatan.

‘Ngga ah! Harus belajar!’ Saya memang bertekad memberi Kakak pelajaran, tidak selalu keberhasilan didapat dengan cara itu saja, dan ada faktor keberuntungan juga yang jadi penentu keberhasilan, selain strategi dan usaha yang kita jalankan.

Permainan kembali dilanjutkan. Saya tak bisa menghilangkan cengiran ketika mengambil joker dari tumpukan. Papa langsung melirik curiga, ‘Dapat joker ya?’ Saya tak menjawab apa-apa, rasanya sih sudah jelas…

Akhirnya, permainan selesai dengan saya sebagai pemenang, dengan susunan kartu hati 6, 7, joker, dan 9. Papa masih ngotot dengan strategi empat satunya yang belum lengkap, sehingga ketika ditotal perolehannya 35. Sedang Kakak sedang mencoba mengumpulkan 4 kartu K yang berbeda, dengan hasil 30, karena K terakhir yang ia incar berada di tangan Papa.

‘Masih mau main?’ tantang saya pada Papa, ‘Udah bosen menang nih!’ saya sesumbar. Ow, ternyata siapapun bisa terjatuh ke lembah kesombongan ketika sedang berada di puncak 🙂

***
indrihapsari
Gambar : familyshare.com

Advertisements