Love, Not Like

20130429-001425.jpg

‘Ve.’ panggil Capt. ‘Jangan pakai hati.’

Aku menghentikan langkahku menuju pintu. Berbalik pelan, menghadap Capt yang sedang mengamatiku dari balik meja dan kursi kebesarannya. Rahangnya yang tegas kini semakin kentara, saat ia selesai mengucapkan itu.

‘Ehm..sorry..maksudnya…?’ kataku setengah bertanya. Gemuruh di dada mulai terasa.

‘Hubunganmu dengan anak baru itu, Ted. Kau kuminta mengajarinya, tapi cukup sampai itu saja. Kau memang harus melindunginya, tapi jangan kan lakukan itu karena kau suka padanya. Love, not like.’

Aku kembali terdiam. Mencintai, bukankah tingkatannya lebih tinggi dari menyukai?

‘Jika kau melakukan sesuatu, karena kau menyukainya, hal itu akan mengaburkan logikamu. Cinta, bisa kau berikan pada mereka yang tak kau suka. Tapi suka, bisa berubah menjadi cinta, dan itu bahaya. Begitu kau terkena, sulit untuk menyeretmu kembali di dunia logika.’ Capt masih memandangku dengan matanya yang tajam. Alisnya yang tebal kini membentuk garis, entah apa, khawatir atau memperingatkan?

‘Tapi Capt..’ belum lagi selesai bicara, Capt sudah memotong ucapanku.

‘Aku mengamati progressmu dengan Ted. Memang kau lakukan semua yang ada dalam check list, untuk membuatnya menjadi perwira yang perkasa. Progress Ted sangat bagus. Dari semula ia hanya pemuda berandalan biasa, bisa kau arahkan untuk mengoptimalkan potensinya.

Tapi aku juga melihat, kau mulai melibatkan rasa Ve. Kau tersenyum saat melihat ia berhasil menyelesaikan tugasnya. Kau bertepuk tangan ketika ia akhirnya bisa melewati halang rintang tingkat sepuluh. Kau menasehatinya, untuk tak mudah putus asa saat ia terjatuh untuk kesekian kalinya. Dan aku juga melihat, wajahmu yang cemas saat ia berhadapan dengan para raksasa jadi-jadian tersebut.

Kau sudah libatkan perasaanmu Ve. Like. Kau menyukainya. Sebentar lagi tumbuh benih-benih cinta. Seharusnya kau lewatkan rasa itu Ve. Satu-satunya yang harus kau ingat adalah kewajiban. Bukan perasaan.’

Aku merasa wajahku mulai memanas. Capt. Sudah menjadi mentorku selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya diangkatnya aku menjadi wakilnya. Tentu ia sangat mengenalku. Melihat perubahanku, yang terlihat maupun yang tak terlihat, betapapun aku berusaha menyembunyikannya.

‘Aku tahu ini sudah terlambat.’ Kini mata Capt berubah lebih sendu. ‘Tapi lebih baik aku peringatkan kau sebelum yang lebih buruk terjadi. Jaga diri dan hatimu baik-baik. Aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.’

Aku tersenyum. Ah, hanya kecemasan seorang mentor terhadap anak didiknya. ‘Siap Capt! Aku akan ingat betul nasehatmu.’ Tetap dengan senyuman yang sama, aku berbalik. Meninggalkan Capt yang rasanya masih mengikutiku dengan pandangan matanya, sampai ku menghilang dari balik pintu.

***

Namun tentu saja, begitu aku harus mendampingi Ted lagi, semua itu jadi terlupa. Ted si anak baru, datang dari galaksi tetangga. Gayanya beda, kelakuannya beda, cenderung fun dan seenaknya. Menganggap semua enteng adanya, dan tentu saja, tukang berontak. Berapa kali ia kena hukum di kamp pelatihannya. Namun akhirnya Capt melihat potensinya, dan kami memutuskan untuk melatihnya secara khusus di kantor pusat. Capt menugaskanku untuk mendampinginya, yang kulaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Sayang, pesona Ted begitu besar. Bertubuh tinggi tegap, wajah yang tampan dan terkesan bandel, serta sifatnya yang berani menentang dan mengutarakan pendapat, sempat membuatku terkaget-kaget. Kami yang biasa hidup disiplin dan menuruti semua aturan yang ada, kini dibuat kelabakan dengan kehadiran setan kecil itu.

Tapi dalam setiap tindakannya, ia memang memiliki alasan yang kuat. Pada dasarnya ia baik, hanya perlu mengarahkannya saja. Dan berkat jadwal kami yang padat, akhirnya kami jadi makin dekat. Ted, bisa dengan tiba-tiba muncul dari balik tikungan untuk mengagetkanku, dan memberikan bunga mawar yang sangat langka didapatkan di stasiun luar angkasa ini.

‘Kau ambil dari Bumi?’ tanyaku heran.

‘He-eh.’ Senyumnya nakal.

‘Kau..kabur lagi ya?’ tanyaku khawatir.

‘Perlu dijelaskan?’ katanya sambil nyengir. ‘Aku bosan. Malam kupinjam satu kapsul, meluncur ke Bumi. Sudah lama ku mengincarnya. Ku ambil satu yang paling indah. Kau suka?’ mukanya penuh tanya. Memandangku…mesra?

‘Ah, ..ya.’ Reflek aku tertunduk malu.

‘Syukurlah.’ ucapnya lega. ‘Kalau begitu, nanti malam kuambilkan lagi.’ Senyum jahilnya muncul kembali.

‘Hei! Jangan berani-berani kabur lagi ya Ted! Kabur di malam hari! Diam-diam ke Bumi! Setengah mati kami melindungi semua yang ada di sini. Kau jangan seenaknya mempermainkan sistem keamanan kita!’ kataku panjang lebar. Mengomelinya. Lebih karena takut dia kenapa-kenapa.

‘Hm..OK.’ katanya tak peduli. Kini matanya memandangku lagi. ‘Bunganya. Simpan ya. Aku tahu kamu suka.’ Senyumnya kini terasa lebih tulus bagiku.
Aku mengangguk. Ah Ted, tanpa kau bilang pun aku pasti akan menjaganya.

***

Malam hari, aku gelisah di atas tempat tidurku. Latihan kami berjalan dengan baik tadi. Ted telah melewati ujiannya menggunakan pedang. Ada rasa bangga terpancar di wajahnya, saat berhasil mengalahkan pelatihnya. Aku melambai padanya dari pinggir arena. Ia tersenyum penuh kemenangan. Anak baru itu, kini telah menjadi pria yang lebih matang.

Namun tetap sifat nekatnya mencemaskanku. Seperti malam ini, tadi, ia bilang akan meluncur lagi? Selalu main-main dengan hidupnya, bercanda dengan maut, tak peduli dengan bahaya yang akan menghadangnya.

Aku segera bangkit dari tempat tidur. Bergegas menuju ruang kendali. Aku harus memastikan ia sudah tertidur pulas di kabinnya. Ku coba masukkan nomor identitasnya, untuk memeriksa dia ada dimana. Titik merah itu tak muncul-muncul juga.

Ted! Bandel. Kemana anak itu? Radar kami tak cukup jauh untuk mendeteksi sampai keluar orbit. Segera aku cek keberadaan kapsul kami. Hilang satu. Aduh.

Setengah berlari aku menyambar pedangku, membuka salah satu kapsul, dan segera meluncur menuju Bumi. Arena bermain bagi Ted. Mestinya dia tahu saat belajar di kelas, Bumi kini dihuni para raksasa yang kejam. Itu sebabnya para manusia lari ke luar angkasa, dan berusaha bertahan dengan kehidupan yang baru. Ini malah Ted kembali ke Bumi.

Kapsulku berhenti tepat di samping kapsulnya. Sudah terbuka. Dimana dia?

Tiba-tiba terdengar suara geraman. Beberapa kali bunyi tangkisan pedang menggema. Ted! Aku berlari ke arah suara. Dari atas bukit, kulihat Ted seorang diri, dengan tiga raksasa mengelilingi. Tingginya dua kali Ted, besarnya lima kali, dan mereka semua mengayunkan gada. Aku berlari menuruni bukit. Latihan simulasi perkelahian kami hanya melawan satu raksasa dengan gada, tapi itu semua bohong-bohongan. Hanya permainan visual belaka. Disinilah arena pertandingan sesungguhnya.

‘Ve!’ seru Ted terengah-engah saat melihatku. Ia baru lolos dari ayunan gada raksasa yang paling besar.

‘Aku bantu!’ seruku. Kini kami membentuk formasi T. Punggungku menempel dengan punggung Ted. Masing-masing dari kami mengacungkan pedang. Menang, atau mati.

Maka mulailah pertempuran seru tersebut. Gada berulang kali diayunkan, dan kami berulang kali mengelak. Pedang dapat digunakan untuk menangkisnya, namun sungguh sulit menahan kekuatan mereka. Makin lama para raksasa terlihat mulai lelah. Demikian juga dengan kami. Entah bagaimana caranya lolos dari sini.

Tiba – tiba terdengar erangan yang keras sekali. Dari kejauhan terlihat kilatan cahaya. Naga! Astaga, belum cukup sial rupanya kami kali ini.

Para raksasa terdiam sejenak. Setelah itu mereka lari tunggang langgang. Ketakutan. Naga memang musuh semua, karena sifatnya yang kejam, suka memakan segala. Aku dan Ted berpandangan. Ini bahkan lebih buruk dari yang tadi. Kami tak sempat menyelamatkan diri. Pun bagi raksasa tadi, kami tak yakin Naga bakal gagal mengejar mereka.

Setengah pasrah, kami menanti dengan gemetar sang Naga datang. Ted mengambil posisi di depanku, sambil mengacungkan pedangnya, siap melawan. Lalu dari kejauhan, nampaklah..pesawat luar angkasa kami! Astaga! Siapa yang berusaha menyelamatkan kami, dengan cara meniru Naga?

Pertanyaan itu langsung terjawab, ketika lambung terbuka, dan terlihatlah Capt menuruni tangga. Terlihat cemas, namun langsung berubah lega ketika dilihatnya kami baik-baik saja. Segera kami naiki tangga pesawat, dengan Capt mengawal di belakang.

Baru saja aku merasa senang, terdengar suara jatuh di belakangku. Capt! Sontak aku dan Ted turuni tangga pesawat, melihat Capt sudah terkapar di tangga. Selintas aku melihat satu benda melayang pergi. Bumerang. Siapa yang pengecut seperti ini?

Ted cepat mengusung Capt ke pesawat. Aku berada di kokpit, berusaha mengingat – ingat latihan penerbanganku kemarin. Kami harus cepat meninggalkan Bumi sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Setelah kendali otomatis berjalan, segera kutemui Ted yang sedang berusaha mengobati luka di kepala Capt. Kuhampiri mereka berdua, ku pandang Capt dengan cemas.

‘Capt, kok ikut ke Bumi juga? Jangan bilang kau mengikuti kami.’ tanyaku tegas. Semua kekacauan ini, membuat banyak orang terlibat.

Capt memegangi kepalanya yang masih pusing. Ia lebih banyak tiduran karena tak kuat mengangkat tubuhnya.

‘Aku tahu saat melihatmu menyelinap ke ruang penyimpanan kapsul. Aku tahu kau akan kemana. Takut ada apa-apa, aku menerbangkan pesawat menuju Bumi hingga ku melihat dua kapsul itu. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari, kau dan Ted sedang mengalami kesulitan dengan para raksasa. Untung para perancang pesawat telah menyematkan fitur yang canggih itu untuk menakut-nakuti musuh.’ jelasnya panjang lebar sambil terpejam. Ah, pusing sekali ya Capt?

‘Kenapa…mengikuti kami Capt?’ tanyaku lagi. Satu pertanyaan yang belum dijawabnya.

‘Ehm…mencemaskanmu?’ matanya kini terbuka. Memandangku. Tak sanggup menatap matanya, aku melirik Ted yang sedang berada di antara kami. Seakan tahu diri, ia bangkit, meninggalkan Capt dan aku berdua bicara.

‘Aku melangggar ucapanku sendiri.’ kata Capt sambil tertawa. Aku mengernyit bingung.

‘Love, not like.’ jelasnya lagi sambil tertawa. ‘I think…I like you.’

Dengan semua kecemasan itu….Capt? ….Ted?

***

20130429-001549.jpg
Sumber gambar : pinterest.com
Inspirasi : Tron Legacy

Advertisements