Ular Perak

20130808-012352.jpg

Mereka ada dimana-mana. Naik satu-satu, pecah jadi beribu-ribu.
Warna-warni menghiasi malam, menyala, melesat ke angkasa.
Semua orang menengadah jauh, untuk menikmati keindahannya.
Sayang bunyinya memekakkan telinga, dan hadirnya menyebabkan dentum di dada.
.
Aku menutup telinga. Segera kutundukkan kepala. Jantungku berdebar keras!
Aku ingin cepat sampai di rumah!
Aku ingin lari saja!
Sembunyi!
Aku tak ingin bertemu mereka!
.
Mama bilang jangan takut. Papa bilang jangan ribut.
Aku merengek-rengek mengajak mereka pulang.
‘Ayo Ma! Ayo Pa! Kita lalu saja!’
.
Namun mereka hanya tersenyum memandangku.
Mama memelukku. Mengatakan dengan lembut mereka jauh.
Meski kututup telinga, suara Mama tetap merasukiku.
Pelukannya meredakan detak jantungku.
.
Papa kembali dengan membawa korek api dan ular perak.
Ya, ular perak!
Dengan heran aku bertanya, apa yang ada di tangannya.
‘Kembang tetes,’ jawab Papa.
.
‘Apakah ia akan terbang ke angkasa?’
‘Tidak.’
‘Apakah ia akan pecah jadi beberapa?’
‘Tidak.’
‘Apakah ia berbunyi memekakkan telinga?’
‘Tidak.’
‘Kalau begitu boleh dinyalakan,’ titahku.
.
Papa menggantungnya di ranting tanaman.
Ular perak itu menggelantung lurus.
Lalu Papa menyalakan ujungnya, api berkobar…
dan aku bersorak gembira!
.
Nyala api bagai kembang kecil-kecil.
Berpendar menyilaukan mata.
Lalu jatuh ke tanah bagai tetes air.
Merambat hingga ujung satunya.
.
‘Lagi! Lagi!’ kataku sambil bertepuk tangan.
Papa menyanggupi.
Dikeluarkannya beberapa ular perak lagi.
Kejadian yang sama berulang.
Membuatku bertepuk tangan.
.
‘Sudah tidak takut lagi?’ sapa Mama sambil tersenyum.
Aku menggeleng.
‘Terus! Terus!’ pintaku pada Papa.
‘Besok lagi ya,’ katanya, ‘bunyi kembang api besok masih ada.’
.
***
Selamat merayakan Lebaran ya teman-teman..mohon maaf lahir batin ^_^
***
indrihapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements