Mencermati Sastra dengan Otak Kiri

20130807-085858.jpg

‘Sastra itu untuk dinikmati, bukan untuk dimengerti’

Terus terang otak kiri saya berontak bila mendengar atau membaca pernyataan ini. Berarti sastra sama dengan agama? Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan, dan mohon untuk dinikmati saja?

Artikel ini dimulai dari rasa ingin tahu saya yang besar. Sebagai seseorang yang baru belajar, saya tertarik mengetahui asal mula suatu karya. Idenya datang dari mana, proses kreatifnya bagaimana, kenapa dia pilih sudut pandang tertentu. Nantinya merembet ke kenapa diksi itu yang digunakan, makna dari sebuah tulisan, dan metafora yang digunakan. Tak lupa saya juga akan memperhatikan logika penceritaan, karena itulah yang menyebabkan suatu karya sastra membumi, ngga di awang-awang.

Kalau pintu komunikasi ke penulisnya terbuka, maka saya gunakan kesempatan itu untuk berdiskusi. Maklum, masih belajar. Dan saya akan sangat berterima kasih untuk kesempatan yang diberikan. Karena menjawab pertanyaan seseorang yang ngga level, meluangkan waktu untuk menjawab juga perlu usaha bukan? Apalagi potensi si anak baru akan menyaingi karya sastra yang telah dibuatnya. Meskipun untuk alasan terakhir ini saya meragukannya, karena karya setiap orang pasti punya style yang berbeda ya. Pun jika si anak baru sedang mencari stylenya sendiri dengan cara setengah meniru yang telah dipelajarinya, hal itu masih sah saja asalkan buat memplagiat dan mengakui itu karyanya.

Bagaimana mengerti jika tidak terbuka pintu diskusi? Biasanya saya baca ulang, jika memang tertarik dengan pesan yang ada di balik suatu karya. Tetap tidak mengerti? Ya disimpan dulu, suatu saat pasti yang akan ada membahasnya. Itulah pentingnya membaca dan ikut komunitas, karena informasi kadang terselip di dalamnya. Sebaliknya, kalau tidak tertarik, ya nasibnya karya tersebut akan saya tinggal. Istilahnya, sudah mbulet, abstrak pula. Sudah kurang bisa dinikmati, tidak bisa pula dipahami.

Kisah yang hampir sama saya baca dari majalah Tempo. Penulis, yang mengajar bahasa Indonesia di Jerman, sedang membahas karya sastra Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan muncul dari mahasiswanya, terkait dengan apa makna di balik syair yang ada. Ada yang memang memiliki makna di balik metafora, namun ada juga yang bahkan penyairnya sendiripun tak mengerti kenapa tercipta puisi seperti itu. Jadi, karya yang ia ciptakan memang manis saat dibacakan di panggung kebudayaan, tapi proses penciptaannya patut dipertanyakan.

Ada pula yang menciptakan sastra untuk kepopuleran. Pilihan diksi adalah yang nampak rumit agar terkesan pintar, tapi ternyata begitu masuk karyanya malah maksudnya berkebalikan. Atau mengambil alur cerita yang sensasional, untuk memuaskan nafsu keduniawian dan pasti diterima pasar. Agak sulit membedakan antara niatannya untuk terkenal, atau memang itulah ekspresi kejujuran sang pengarang.

Logika, tetap diperlukan dalam membaca dan menulis karya sastra. Jangan membodohi pembaca dengan karya yang indah namun tak bisa dipertanggungjawabkan. Otak kanan memang harus digunakan, karena disitulah indahnya sastra dengan segala metaforanya. Namun akan lebih baik jika otak kiripun mendukungnya, dan memberi tambahan wawasan bagi pembacanya.

***
indrihapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements