Pengaruh Nama Besar Pengarang

20130806-150248.jpg

Kegemaran baru saya adalah membaca klipingan cerpen minggu yang ditayangkan di media cetak nasional. Berkat kebaikan hati Setta Satria, cerpen minggu yang ditayangkan sejak tahun 2010 itu tertata rapi di blognya, lakonhidup.wordpress.com. Lengkap dengan tanggal terbit, diterbitkan dimana, dilengkapi dengan indeks bulan dan nama pengarangnya. Selain lebih enak dibaca di tablet, ada kolom komentar tempat berinteraksi dengan para pembaca. Sepertinya dimoderasi juga, soalnya ada yang ngamuk-ngamuk nanya kenapa komennya dihapus. Ya iyalah, anda sopan kami segan. Anda ngga sopan, kami bisa sesadis preman 😀

Berkat blog tersebut, saya bisa membaca banyak gaya dari para penulis besar, yang biasanya saya temui namanya bersliweran di pentas kebudayaan, masuk nominasi sastrawan, atau launching buku terbaru. Keren-keren dan terkenal, termasuk karyanya.

Kenapa asyik banget baca cerpen-cerpen mereka? Soal teknik penulisan sih sudah ngga perlu diragukan lagi, gampang dimengerti, dan susah untuk diskimming (teknik membaca cepat). Ya, kalau waktunya mepet dan sedang ngga mood baca, biasanya artikel fiksi maupun non-fiksi akan saya skim dengan kesimpulan, ‘Yeah, I’ve got your point.’ Ngga baik sih, mengingat para penulisnya tentu sudah mencurahkan segenap kemampuannya untuk bercerita. Cuma kalau terlampau membosankan, lambat, dan ketebak ujungnya, biasanya itu yang saya lakukan. Nah, para pengarang kaliber nasional ini pintar sekali memainkan kata, alur dan karakternya, sehingga ‘terpaksa’ harus dibaca per kata, kalimat, karena satu dengan lainnya saling nyambung. Meleset sedikit, saya mesti mengulang ke baris-baris sebelumnya.

Belum kalau bicara ide. Sampai mikir, kok bisa ya punya ide cerita seperti itu. Beyond my imaginaton. Selain ada pesan, cerpen mereka juga memberi nuansa baru pada pembaca. Misal setting yang unik, atau kosakata baru, atau teknik penceritaan yang baru, pengubahan sudut pandang, mengatur timbulnya konflik dan klimaks, pokonya membaca kumpulan cerpen minggu seperti ini membuat kita keliling dunia, keliling budaya, dan menyelami karakter tokoh-tokohnya.

Namun lama-lama saya menyadari, ada beberapa cerpen yang rupanya perlu diragukan kelayakannya untuk ditampilkan di koran minggu. Mungkin redaksi menganggap nama tersebut bisa menjual, dan meningkatkan oplah penjualan. Padahal dengan melakukan hal tersebut, pembaca dapat mengukur standar di media itu berarti ngga terlalu tinggi. Ya itulah akibatnya jika kualitas harus berdamai dengan pasar.

Cerpen yang saya baca tersebut, kebetulan di buat oleh tokoh terkenal, dan isi cerpennya ngga jauh-jauh dari lingkungannya. Yang saya dapatkan dari dua cerpennya, yang pertama adalah ketidak konsistenan dalam penggunaan kata ganti, pengulangan kalimat yang bermakna sama. Sampai saya ngga percaya mata sendiri, takutnya saya yang salah baca. Soalnya terkesan kalimat-kalimat tersebut hasil copasan dari kalimat sebelumnya.

Ceritanyapun tersendat-sendat, dan dibaca sampai akhir ngga tertangkap pesannya. Apalagi akhirnya juga bikin bunuh diri, digantung soalnya. Lah, gini aja? Kirain ada ending yang seru, atau setidaknya biarlah pembaca yang di-trigger untuk membentuk kesimpulannya sendiri. Kalau ini sih mau bikin kesimpulan seperti apa, karena cluenya ngga dikasih oleh pengarangnya.

Euh, tapi yaaah…ini sih cuma dua cerpen aja dari yang puluhan sudah saya baca. Mungkin redakturnya kelepasan, mungkin ada strategi marketing dan relationship yang saya ngga ngerti, dan mungkin juga saya yang terlalu usil mengungkit topik ini 😛

***
indrihapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements