Mimpi

Tadi malam aku bermimpi, kau datang padaku, dengan senyum khasmu.

‘Ku dengar kau menungguku,’ katamu sambil tertawa-tawa.

Aku merengut. ‘Kata siapa?’ seruku gusar. Ketahuan, sungguh bukan suatu pilihan.

‘Ada yang bilang,’ katamu sambil duduk di sebelahku. ‘Kangen ya?’ sambil tetap tersenyum kau melirikku.

‘Jangan GR deh!’ kataku segera. ‘Kemana aja Tuaaan? Hampir aku meninggalkanmu.’
Dengan segera aku sesali ucapanku. Aduuuh, kenapa buka rahasiaaa…

Kau tersenyum sambil memandang cakrawala. ‘Aku habis menolong orang,’ katamu singkat. Ada nada sendu di sana.

‘Jangan bohong Tuaaan. Ayo, katakan sejujurnya! Aku akan nilai, pernyataanmu jujur atau tidak!’ kataku gemas.

‘Ibu itu berteriak-teriak, kala mereka merampas tasnya. Aku mengejar mereka. Tak sangka komplotannya masih ada, bersiap dengan motornya. Sebelum berhasil menangkap si penjambret, temannya telah mendahuluiku. Selanjutnya yang kuingat adalah semua putih.’

Aku tercekat. Bre…

‘Tuan, kau tak apa?’ tanyaku cemas sambil memandangnya. Terasa kini ada jarak di antara kami. Makin lama makin jauh….jauh…jauuuuh…..

Aku terbangun. Dengan cemas kupandang sekitar. Ruang putih yang biasa. Dan …

…Bre.

Kau datang padaku, dengan senyum khasmu.

‘Aku mencintaimu.’

Aku tertawa. ‘Kesambet apa Bre? Datang-datang langsung bilang sayang.’

‘Harus bilang sekarang, takut hilang kesempatan,’ kau tertawa sambil merengkuhku. Kau tundukkan kepala hingga pucuk hidung kita saling beradu.

‘Aku akan menunggu Bre, sampai kau siap membawaku,’ bisikku padamu.

‘Sungguh?’ kau tertawa, dengan tawa khasmu.

Aku mengangguk.

Kalau nanti kita bersama
Maukah kau naungi aku
Kala hujan deras menyapa
Dan dedaunan hanyalah yang kita punya?

Saat semua makin menggila
Maukah kau duduk disampingku saja
Menyediakan bahumu
Tempat ku menaruh kepala?

Ketika terik tak terkira
Membakar hangus taman indah kita
Maukah kau menyesap air mata
Yang tak bisa kutahan lajunya?

Kalau nanti kita bersama
Tolong aku lalui semua
Dengan keringat dan darah
Dan apapun jua yang kau punya

Mendadak kurasakan sentakan. Pelukan kita terlepas. Gapaian lenganmu tak bisa kutangkap. Kau seperti ditarik menjauh seketika. Meninggalkan aku sendirian. Kelam.

Aku terbangun. Mimpi di dalam mimpi. Pemakaman sudah seminggu, namun menangis dalam tidur sudah menjadi rutinku.

***
indrihapsari
pinterest.com/pin/10625749090986714/

20130730-002606.jpg

Advertisements