Sekolah Ngga Perlu, Bukan Karena Ngga Mampu Kan?

20130729-190320.jpg

Beberapa pendapat negatif yang beredar di masyarakat adalah tentang sekolah. Mengenai sistemnya yang amburadul, kurikulum yang berganti-ganti, pendidik yang kurang capable, fasilitas yang minim dan sebagainya.

Lalu muncullah home scholing, keukeuh ngga nyekolahin anak, dan merencanakan biar tu anak kawin muda aja, numpang ke penghidupan suaminya.

Wow wow wow…mari kita pilah satu-satu masalahnya.

Pertama, sekolah itu penting, demi pendidikan dan gelar. Pendidikan adalah pengetahuan, budi pekerti, karakter, cara bergaul, manajemen waktu dan konflik, dan lain sebagainya. Dengan bersekolah, kita diajar untuk memahami, menerapkan, mencapai suatu standar. Dengan bersekolah kita berkumpul dengan rekan sebaya, yang kelak akan menjadi jejaring kita, menghadapi orang yang berbeda-beda, termasuk mungkin bullying, berantem dan konflik lainnya.

Gelar, untuk membuka pintu pekerjaan agar terbuka cukup banyak. Kalau kita lulusan SMA, yang terbuka 3 pintu. Diploma, 5 pintu. Sarjana, 7 pintu. Ini baru ngomongin kesempatan ya. Masalah yang ngga sekolah kok lebih sukses dari yang sekolah, saya yakin usaha dia juga berlipat-lipat, plus faktor luck juga. Kenapa kok usaha harus berlipat-lipat? Ya karena pintunya cuma sedikit yang terbuka.

Sekarang, mengenai kebrengsekan sekolah. Sepertinya sejak awal sebagai orang tua atau calon siswa mesti banyak tanya sebelum memutuskan. Jangan cuma ikut teman. Lalu pas sudah kejeblos masuk sana, or no other option deh kecuali sekolah itu, mesti dicek kurangnya apa, dan memenuhinya di luar. Ingat, pendidikan bukan urusan sekolah aja, tapi juga keluarga.

Homeschooling it’s ok, kalau alasannya karena ngga ada satu sekolahpun yang mampu menangani anak kita, baik dari segi kemampuan maupun kebandelan. Mending gitu, tangani orang tuanya sendiri, karena kalau di sekolah semua serba seragam. Tapi saya rada ngga setuju home schooling karena kesibukan, misalnya. Gimana-gimana, sekolah itu wajib hukumnya, di luar pekerjaan yang bikin si anak sibuk karena banyak mendatangkan uang. Misal aja jadi artis, banyak sinetron stripping atau sibuk show. Dunia akting itu ada umurnya, sedikiiit sekali yang bisa bertahan sampai tua, itupun mereka ngga lepas kok pendidikannya. Ingat masalah pintu terbuka. Jangan menutup pintu lainnya hanya karena kenikmata yang sekarang kita dapatkan.

Kemampuan itu apa aja sih. Secara intelejensia, seseorang harus mampu mencapai standar yang ditetapkan. Kalau ngga mencapainya, ya harus usaha. Kecuali kalau ada kelainan ya, jangan dimasukin sekolah normal untuk mengejar gengsi. Untuk mereka yang normal tapi otak ngga nyampe, jangan menyerah. Bisa itu modalnya usaha kok, banyak jalan menuju Roma.

Ada lagi kemampuan secara finansial. Misalnya sekolah idaman itu mahal, ya jangan maksa sekolah di situ. Cari yang terjangkau tapi secara sistem dia bagus. Banyak sekolah swasta yang memprihatinkan fasilitasnya, tapi secara ahlak dan karakter bagus penyampaiannya. Beberapa sekolah berbasis agama ada yang mahal, namun dengan berbicara dengan pihak sekolah, ada juga yang dibebaskan dari uang bulanan. Sekolah negeri pun gratis. Biaya lain-lain tetap ada dan bisa diprediksi dengan cara mencari info dari orang tua murid yang anak-anaknya sudah bersekolah di sana.

Ada juga yang ngga nyekolahin anaknya, karena takut dengan pergaulan. Walah, itu linkungannya yang menakutkan, atau anaknya yang ngga mampu berinteraksi sosial? Memang ada kemungkinan banyak pembully berkeliaran di sekolah, tapi laporkan pada guru, pindahkan anak, atau bicara pada ortu pembully adalah solusi yang bisa dilakukan. Janganlah hal itu jadi alasan untuk menjauhkan mereka dari pergaulan. Nanti nih, kalau sudah dewasa, jaringan pertemanan itu terbentuknya bisa dari sekolahan loh, meskipun di tingkat dasar sekalipun.

Bagaimanapun, nanti toh meteka harus terjun ke masyarakat. Kalau selama ini mereka di karantina dalam inkubator yang namanya rumah, lalu gimana mereka bisa kuat menghadapi kejamnya dunia, saat kita ngga ada? Cukuplah membuat rumah saat ini sebagai oase, bukan benteng. Agar mereka tahu, harus pulang kemana saat masalah melanda.

Sekolah, mungkin bukan yang paling baik, paling aman, paling menjanjikan. Tapi dengan ‘menceburkan’ anak di sana, merka berlatih bagaimana konflik itu harus dihadapi dengan strategi, bukannya lari.

***
indrihapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements