Slumdog Millionaire : Kuncinya adalah Kemiskinan

20140709-122205-44525169.jpg

‘a breathless, exciting story, heartbreaking and exhilarating’

-Chicago Sun Times

Lalu bintang 4 dari 4 bintang yang tersedia diberikan.

Efeknya memang sama seperti yang diberikan oleh kritikus film Slumdog Millionaire. Bikin sesak nafas. Semua scene di filmnya harus dilihat, rugi kalau terlewat. Dan baru kali ini saya menganggap, filmnya pasti lebih menarik dari novelnya, Q&A, yang ditulis oleh Vikas Swarup.

Plotnya maju mundur, dan dengan cerdik tiap scenenya menggambarkan sejarah India. Sebuah negara besar yang masalahnya sama dengan Indonesia, kemiskinan. Dengan begitu banyak warga negara yang harus diurus, banyak potensi ketimpangan sosial terjadi. Anak-anak dibesarkan di lingkungan kumuh. Dan meskipun India terkenal dengan sekolahnya yang murah, buku-bukunya yang bagus-bagus dan gratis, tetap saja mereka harus berjejalan di satu kelas.

Lalu ada sentimen agama, dimana kedua tokoh kakak beradik, Jamal dan Salim harus kehilangan ibu mereka. Melihat seseorang dibakar dan polisi diam saja. Lolosnya mereka masuk ke lubang buaya lainnya. Dipelihara oleh gangster yang mengkoordinasi anak-anak untuk mengemis. Lebih gila lagi, mencongkel mata mereka yang suaranya bagus, karena pengemis buta lebih laku daripada yang normal.

Ada lagi pemujaan terhadap bintang film. Yah sama lah seperti sinetron di sini, yang ada di layar kaca kan yang senang-senang saja. Meski orang jahat, tapi kinyis-kinyis gitu. Dan itu yang menyebabkan orang bermimpi, melompati nasibnya supaya jadi seperti para aktor itu.

20140709-122204-44524930.jpg
Saat berada di reality show pun, selain kemegahan yang disajikan di televisi, ternyata ada kebusukan. Yah namanya saja manusia, ada sirik-sirikan atas dasar kesombongan. Jamal berhasil melewatinya, ada yang karena kepintarannya membaca kepribadian seseorang, juga keberuntungan.

Akhirnya pelan-pelan memang nasib mereka berubah, dengan bayak kekerasan di dalamnya, kepedihan, tapi toh mereka harus hidup. Entah dengan cara apa. Mulai dari mencuri, menipu, memreteli mobil turis sampe ke ban-bannya, hingga membunuh.

Kisah kepedihan ini diwarnai dengan kisah cinta Jamal dan Latika. Sempat terpisah beberapa kali, tapi si Jamal gigih banget mencari Latika, apapun keadaan dia. Tahu sendiri kemiskinan memang bisa mendorong orang menjual diri, atau mau menjadi istri muda seorang penjahat, meski ia kerap dipukuli.

Akhirnya sih sama saja dengan semua film India lainnya, happy ending. Jagoannya bertemu dengan wanita cantiknya. Tapi yang unik jagoan di film ini bukan karena dia jago berantem, malah lebih banyak digebuki dan disetrum lidahnya. Lebih banyak ngga berdayanya. Jagoan lebih karena ia berusaha berjalan lurus, dan terus memperjuangkan cintanya.

Kemiskinan merupakan sumber masalah. Ngga usah ribet ngurusin agama orang, kewibawaan bangsa di depan bangsa asing, atau rencana bombastis lainnya. Kalau rakyat kita sejahtera, ngga perlu melakukan kejahatan supaya bisa makan, itu sudah cukup. Agama ngga ada sangkut pautnya dengan kesejahteraan. Posisi bangsa akan serta merta naik kalau kesejahteraan merata, ngga masuk lagi di top list koruptor tingkat dunia. Rencana ini itu cuma retorika, munculnya di tivi dan baliho. Yang diperlukan adalah perhatian dan tindakan pada kesejahteraan masyarakat.

***
IndriHapsari

Advertisements