Imajinasi Di Atas Segalanya?

20130725-222123.jpg

Gampangnya, kita anggap saja suatu karya fiksi adalah kue tart.

Apa yang membuatnya menarik? Pastilah hiasannya, warna-warnanya, kemiripan bentuk yang ditirunya. Saya punya teman yang jago banget bikin kue tart, yang rajin mengunggahnya ke Facebook. Mungkin karena penampilannya, banyak pula yang memesan padanya.

Sebentar. Apa itu saja?

Oh tidak. Ternyata kuenya ngga hanya enak dipandang. Tapi enak juga dirasakan. Lembut, manisnya pas, dan rasa krim yang ceria berpadu dengan kelezatan kue yang dirasakan lidah.

Penampilan, membuat orang tertarik untuk mencicipinya. Namun kelezatan kue, menjadi kunci utama keahliannya menjadi laris manis diminati orang. Teman saya tidak hanya pintar memikat, tapi ia juga membuktikan, dengan kemampuan yang ia miliki, ia menjamin kuenya bukan hanya sedap dipandang.

Begitu pula dengan karya fiksi. Imajinasi, membuat pembaca berkeinginan untuk membacanya lebih teliti. Bukan hanya skimming, tapi mencoba menikmati alur, karakter dan kejutan-kejutan yang dibangun oleh penulisnya. Imajinasi boleh liar, tapi ia tetap memerlukan teknis penceritaan dan logika yang masuk akal, kenapa ceritanya menjadi demikian.

Sama seperti teman saya yang jago bikin kue, seorang penulis harus menguasai konsep yang ada terlebih dahulu, mengumpulkan fakta ataupun menguji logika, untuk membuatnya menjadi make senses, masuk akal. Kalau tidak, yang kita dapatkan hanyalah kue yang indah, tapi ngga enak dimakan. Cerita yang aduhai indahnya, tapi kening berkerut saat membacanya.

Kok bisa?
Kenapa begini begitu?
Bukannya tadi dikatakan…

Itulah sebabnya, penulis fiksi modalnya bukan mengkhayal doang. Saat kita menceritakannya pada orang lain atau pembaca, semua harus terasa nyata, mengalir, dan tak kehilangan gregetnya. Maka, banyak penulis fiksi yang latar belakang pendidikan atau pekerjaannya, mampu mendukung fiksi yang dibuatnya, karena ia memadukan fakta dan imajinasi.

Contohnya adalah Profesor Alan Paige Lightman. Seorang ahli fisika dari Massachusetts Institute of Technology yang menulis international bestseller Einstein’s Dreams. Ia dengan tepat bisa menyeimbangkan passionnya antara ilmu fisika dan seni, dan pada kedua bidang yang berbeda tersebut ia bisa membuktikan tingkat kepakarannya.

Pada perannya sebagai ilmuwan, ia memberikan kontribusi mendasar pada proses astrofisika pada suhu dan kepadatan yang ekstrim. Penelitiannya meliputi teori gravitasi relativitas, radiasi, bintang yang dinamis dan plasma yang relatif. Ngga begitu paham juga mengenai bidang-bidang tersebut, namun kalau saya baca dari Wikipedia, ia seorang ahli di bidang Astronomi.

Ketertarikannya pada seni dan fisika dimulai sejak ia berada di tingkat lanjut. Ia suka menulis puisi. Studinya juga cemerlang. Lulus dari Princeton University dengan gelar magna cum laude, kemudian meraih Ph.D. tentang teori fisika dari California Institute of Technology. Selanjutnya melakukan postdoctoral di Cornell University, dan menjadi Assistant Professor of astronomy di Harvard University. Akhirnya, sejak 1989, Lightman menjadi profesor science sekaligus humanity di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Sekarang, novelnya.

20130725-222227.jpg

Einstein’s Dreams merupakan international bestseller dan telah diterjemahkan dalam 30 bahasa. Menjadi runner up pada 1994 PEN New England / Boston Globe Winship Award, menjadi March 1998 selection for National Public Radio’s “Talk of the Nation” Book Club. Novelnya menjadi bacaan wajib pada sejumlah college dan universitas. Adaptasi novel tersebut telah menjadi pertunjukan di Broadway dan di Beijing.

Einstein’s Dream menceritakan Albert Einstein sebagai ilmuwan muda yang resah dengan impiannya tentang teori relativitas pada tahun 1905. Buku ini terdiri dari 30 bab, dan setiap babnya menceritakan satu mimpi selama waktu tersebut, yang berhubungan dengan konsep waktu.

Profesor Lightman ingin menyampaikan pengetahuannya pada khalayak, agar semua pihak dapat memahami konsep Einstein tersebut. Karena itu ia masuk ke ranah fiksi, dengan membalut ceritanya dengan imajinasi, agar pembaca dapat memahaminya dengan lebih mudah, alih-alih menjelaskan rumus yang bikin pusing kepala.

Sepertinya konsep yang sama sedang digunakan oleh Profesor Yohanes Surya yang terkenal dengan tangan dinginnya membimbing anak-anak Indonesia agar bisa menjuarai Olimpiade Fisika tingkat dunia. Profesor Yohanes Surya dan timnya kini sudah meluncurkan novel Tofi: Perburuan Bintang Sirius. Novel yang ditulis selama tiga tahun ini menulis bertujuan membuat anak-anak merasa dekat dengan fisika. Jadi nantinya ngga ada lagi yang alergi dengan pelajaran tersebut.

Nah, agar menarik tersebut, imajinasi yang berperan. Namun untuk mencapai tujuannya, tetap saja logika harus dipergunakan, agar novel yang dihasilkan bukanlah macam kue yang hanya enak dipandang.

***
indrihapsari

Advertisements