Saya Dapat A, Yang Lain Harus D

image

Saya rasa ungkapan ini tepat untuk orang yang menginginkan kebahagiaannya di atas penderitaan orang lain. Sensasinya beda, bangganya luar biasa. Apa serunya kalau dia dapat A, yang lain juga. Berarti kan pencapaian dia standar saja.

Yang asyik kalau cuma dia sendiri yang A, yang lain dapat nilai jeblok, D lah paling ngga. Nah, kalau begitu, baru deh puas dan bangga terhadap diri sendiri. Hebat!

Jadi kebahagiaan seseorang itu tergantung. Tergantung situasi, tergantung orang lain, dan tergantung dia sendiri dapatnya apa. Kalau dia dapat B dan yang lain D, mungkin dia juga belum merasa bahagia, karena hasil yang dicapai belum optimal.

Kenapa ya, kebahagiaan pribadi harus tergantung pada orang lain? Kebahagiaan itu pilihan kok, mau orang lain bahagia atau tidak, tidak akan berpengaruh pada pilihan kita. Mau keadaan di luar kacau atau tidak, tergantung mind set saja.

Yang susah ya masalah sirik menyirik itu, trus kita bagian yang disirikin. Padahal tidak ada hubungan langsung dengannya. Kenapa kok kesannya kita jadi menyerap kebahagiaan dia, sehingga dia berhak bersedih ketika melihat kita bahagia. Lalu mulai mengusik, menyatakan bahwa kita bahagia di tengah penderitaan mereka.

Bahagia, bisa diciptakan sendiri. Kalau tidak sanggup, coba deh lihat apa yang SUDAH kita miliki, bukan yang kita belum miliki, apalagi mengusik milik orang lain. Kalau ingin yang sama seperti yang dimiliki orang lain, berusahalah! Bukan mempertanyakan kok bisa orang lain punya, dia ngga. Kok bisa orang lain bahagia, dia ngga.

Kasihan ya orang macam ini. Hidup bahagianya mempunyai persyaratan ‘jika dan hanya jika’, bukan pilihan. Padahal kalau dia MEMILIH untuk bahagia, hidupnya akan dibebaskan dari penilaian.

***
indrihapsari

Advertisements