Tips Hemat dan Aman dalam Berkendara

20130715-203236.jpg

Berhubung BBM naik lebih dari 50% mulai deh terpikir untuk menghemat pengeluaran. Caranya? Ya jangan kemana-mana!

Becanda ding.

Ternyata, maybe, there’s something wrong dengan cara nyetir kita. Sudah ngga hemat, berbahaya pula. Karena itu saya coba tulis kembali apa yang saya baca dari majalah Intisari Juli 2013, dengan bahasa saya sendiri. Supaya saya ingat, Andapun bisa lebih gampang mengerti.

Terkait dengan AMAN :

Pakailah seatbelt. Ngga cuma asal pakai, tapi sesuaikan ketinggiannya, dan coba tarik dengan menghentak. Kalau seatbelt tidak mengunci, mending segera diganti. Anak-anak sebaiknya duduk di baris kedua, dan lengkapi dengan seatbelt. Wanita hamil juga mengenakannya, agar tidak mengekang perut, silangkan di bawah perut.

Masih ingat kasus Ari Wibowo menabrak penyebrang jalan? Konon katanya ada faktor blind spot atau area tak terlihat. Itulah gunanya kaca spion samping. Kalau tak terlihat, mending buka kaca jendela dan tolehlah arah yang Anda tuju. Kaca spion tengah digunakan untuk melihat kendaraan di belakang. Jangan tumpuk barang terlalu banyak di belakang sehingga menghalangi pandangan pengemudi. Kadang kaca berembun dan menghalangi pandangan, bisa menggunakan cairan antiembun (antifog) untuk menghapusnya.

Menggunakan ponsel saat berkendara, merupakan satu penyebab dari empat penyebab kecelakan lalu lintas. Bahkan lebih bahaya dari minum alkohol! Meskipun menggunakan hands free, tetap saja resiko itu ada.

Jarak dengan kendaraan di depan adalah tiga detik, agar kita sempat mengerem jika kendaraan di depan berhenti mendadak. Caranya, ambil satu titik yang akan dilewati oleh mobil kita dan dia. Misal tiang listrik, pohon, atau baliho. Begitu dia melewati titik tersebut, saatnya hitungan detik dimulai. Begitu mobil kita melewati titik yang sama, hitungan berhenti. Nah, tiga detik tak?

Ngebut bareng? Pernah kan, ada kendaraan menyalip dari sisi kanan, lalu kita ‘panas’ dan berusaha menyamai lajunya? Ngga? Eh, saya aja ternyata 🙂 Ternyata hal ini sangat berbahaya, karena begitu kendaraan yang sejajar dengan kita membanting setir, kita ngga punya kesempatan untuk menghindar.

Terkait dengan HEMAT

Kecepatan mesin di rentang ideal 1500 – 2000 rpm (torsi optimal dan efisien).

Melaju dengan konstan, injak gas dengan lembut (euh, terus terang susah bayanginnya :D)

Kurangi tekanan pada pedal gas, atau lepaskan sama sekali saat menjelang berhenti di lampu merah, jalan menurun, mengubah arah kendaraan, menghampiri kemacetan dan berhenti sejenak di persimpangan.

Panduan gigi dan kecepatan
Gigi tonggos…euh…gigi 1 : start
Gigi 2 : melaju jarak satu mobil
Gigi 3 : 30 km/jam
Gigi 4 : 40 km/jam
Gigi 5 : 50 km/jam
Gigi 6 : selebihnya

Kalau berhenti lebih dari 20 detik, dimatikan saja mesinnya. Misal di lampu lalu lintas, perlintasan kereta apai, atau saat menaikkan/menurunkan penumpang. Berulang kali dilakukan tidak akan merusak atau mengurangi umur motor starter. Tapi di Indonesia agak susah ya. Secara kita masih ngantri saja sudah diklakson, apalagi kalau ndadak pakai acara starter ulang. Belum lagi kalau lagi kumat susah distaternya 😀

Tekanan angin pada ban sesuaikan dengan rekomendasi dari pabrikan. Terlalu berlebih menyebabkan ban aus tidak merata. Kalau kekurangan angin maka ban bisa rusak.

Setiap menambah beban 20 kg, konsumsi BBM akan meningkat sebanyak 1 %.

Oh pantes sopir taksi ngga mau ngangkut penumpang lebih dari 4 orang. Malah sempat di Yogya, yang taxinya pakai mobil Avanza, akhirnya 2 teman saya meringkuk di bagasi karena baris di belakang sudah dicopot untuk bawaan penumpang, dan mencegah penumpang berlebih. Tapi namanya mau ngirit, ya dilakoni 😀
***

IndriHapsari
Foto : pacific-rentals.com

Advertisements