Halo, Saya Sudah Lama Menunggumu

Sebenarnya LDR itu tidak ada apa-apanya, dibanding pertemuan seorang ibu dengan anaknya. Sungguh suatu penantian yang panjang, karena saya tahu dia ada, namun tak bisa bertatap muka. Yang saya tahu adalah suatu saat, yah 8 atau 9 bulan lagi, saya akan bertemu dengannya.

Keberadaannya pun mempengaruhi hidup saya, seluruhnya. Prioritas adalah untuk menjaga dia agar baik-baik saja. Mengubah cara tidur, apa yang dimakan, gaya hidup dan menjaga kesehatan. Tak peduli penampilan, yang penting ia dan saya sama sehatnya.

Meski tak bertemu, kami masih bisa mengetahui, perasaan masing-masing. Jika saya bisa berkomunikasi dengannya melalui bicara, atau membelai lembut perut saya, ia bisa memberikan reaksi, dengan menendangkan kaki, atau menggoyangkan tangannya. Ia tahu saat saya tak enak hati, dengan bergerak-gerak seakan ingin menenangkan, bahwa saya, dan ia, akan baik-baik saja.

Saya juga mempersiapkan saat-saat akan bertemu dengannya. Memastikan jika ia datang, semua kebutuhannya akan terpenuhi. Saya ingin ia merasa betah di sini, merasa disayangi, baik ketika belum hingga sudah bertemu.

Dan bagaimana rasanya ketika ada masalah, dan pertemuan harus dipercepat? Rasanya, perbatasan antara senang dan cemas. Bertemu dia yang sudah lama dirindukan, tentu suatu kabar yang menggembirakan. Namun memaksa ia datang, sungguh menjadi pertanyaan besar. Siapkah ia? Tak adakah masalah karena opsi itu terpaksa dijalankan?

Maka ketika hari pertemuan itu datang, hanya doa yang dapat saya panjatkan. Itulah saat dimana saya sebagai wanita adalah selemah-lemahnya. Oh ya, saya bisa berusaha sekuat tenaga, namun hasilnya sungguh hanya Dia yang bisa menentukan.

Saya hanya merasakan ketika mereka berusaha mengeluarkannya. Dan ketika mereka mendekatkan wajahnya kepada saya, seorang yang saya nantikan namun belum bisa melihat saya, saya tersenyum dan menyapa,

‘Halo, saya sudah lama menunggumu.’

20130629-184652.jpg
***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements