Markup and Markdown ala Djoko Susilo

20130622-082307.jpg

Pada bidang retail, saya mengenal istilah markup dan markdown untuk mengubah harga jual. Markup kita lakukan untuk mendapatkan keuntungan, atas barang yang kita jual. Sedangkan markdown akan dilakukan, jika kita ingin memberikan potongan harga pada konsumen, tentu tanpa mengorbankan pengembalian modal. Simulatornya bisa dilihat di sini.

Kalau koruptor, bayangan saya adalah mereka melakukan markup harga. Misalnya beli barang seribu, bilangnya dua ribu. Tender mestinya cuma seribu, bilangnya nilai proyek ini dua ribu. Yang ‘unik’ di Indonesia ini, markup sering lebih besar dari nilai proyek atau harga produk yang sebenarnya. Markup sudah dilakukan sejak dini, meskipun ybs belum menang tender. Jadi peserta tender tahu deh, mesti ngasih nilai berapa proyeknya, sebut aja proyek plus plus.

Baca berita di berbagai mediaagi ini, Irjen Djoko Susilo tersangka korupsi simulator SIM, membelikan hadiah istri ketiganya rumah di Jakarta, seharga 14,4 milyar. Tapi pengakuannya, harga rumah itu adalah 5,7 milyar. Loh, jadi markdown dong? Ada lagi ternyata, rumah yang di Yogya, dibeli dengan harga 3 milyar, tapi katanya ‘cuma’ 1,5 milyar.

Selain pusing dengan angka milyar-milyar yang kebayang aja ngga, apalagi kepegang, saya tertarik dengan strateginya menurunkan harga. How humble he is! Namanya orang nyamar, biar ngga ketahuan kalau kaya, jadi nilai asetnya dikecil-kecilin. Mungkin biar sesuai dengan laporan perpajakannya duluuuu, kalau nilai kekayaannya ‘cuma’ 5 milyar.

Is it a big money?

For me, yes. For him, it’s a piece of cake banget. Mengingat untuk kasus simulator SIM saja dia dituduh meraup uang negara 32 milyar, sementara kasus pengadaan BPKB si pemenang tendernya bilang, Pak Djoko minta 12 milyar untuk ‘sumbangan’. Belum kasus lain, belum money laundry, belum dari hasil muter duitnya. Jadi beli rumah M M an, ya cincai lah cyyyyn…..

***
indrihapsari

Yang ini, ngomongin Nazaruddin

Advertisements