Anti Plagiat = Sok Suci?

20130616-163347.jpg

Berdasarkan diskusi dengan beberapa rekan, masih ada perdebatan plagiat itu yang seperti apa? Apa batasannya. Saya sih ngga mau panjang-panjang, saya kopikan saja dari Wikipedia.

Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarisme:
– Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,
– Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
– Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
– Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
– Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya
– Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
– Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme:
– menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain
– mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya

Yang tidak tergolong plagiarisme:
– menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
– menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas.
– mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Di dunia akademik, plagiarisme akan berujung pada sanksi yang amat berat. Seandainya sekolah mengijinkan plagiarisme dilakukan, maka yang kita hasilkan adalah manusia yang hobby melakukan jalan pintas, males mikir maunya ambil karya teman, dan … dimana keadilan? Ketika pihak yang licik malah menari-nari di atas pihak yang jujur tapi lemah.

Sekarang, bagaimana dengan dunia seni? Termasuk di antaranya pemusik, pelukis dan penulis.

Seni menurut saya lebih bermain di segi rasa. Kalau di tulisan ilmiah kita bisa menghakimi unsur plagiasi itu berapa persentasenya, sulit untuk melakukannya di seni. Itu juga sebabnya kita seperti pernah dengar dimana, pernah lihat dimana, dan pernah baca dimana. Untuk itu kadang diistilahkan sebagai ‘meniru’ atas sebuah inspirasi.

Memang sih, huruf cuma ada 26, warna dasar cuma ada 3, nada cuma ada 7. Tapi kalau suatu karya mirip banget dengan yang sebelumnya, apakah proses peniruan ini berhasil? Kalaupun berhasil, dalam arti tiruannya lebih baik, berarti ada proses modifikasi atau perbaikan yang dilakukan. Kalau menurut saya sih, lebih baik jika seorang seniman atau sastrawan, menyatakan sumber inspirasinya siapa. Lebih fair rasanya, dan pengamat atau penikmat seni pasti bisa merasakan kok, mana karya yang mereka sukai, dan mana yang tidak.

Lupa? Ah ya, alasannya bisa ini. Saya pun suka lupa memasukkan sumber gambar pada tulisan. Namun itu tanggung jawab dan mestinya semua harus lakukan sebagai bagian dari menghargai karya orang lain. Pada sisi pembuatnya, ia juga harus menerapkan mekanisme, supaya karyanya teridentifikasi sebagai karya aslinya. Entah dengan mencantumkan signature, nama ataupun ciri khas di setiap karyanya.

Seorang teman, Arief Yudhanto, mengingatkan saya, sebenarnya proses seseorang berkarya adalah 3N, atau Niteni, Niru dan Nambahi (memperhatikan, meniru dan menambahkan). Jadi pertama kita seleksi mana karya yang menurut kita patut ditiru. Selanjutnya meniru karya tersebut, dan berusaha keluar dari ciri si teladan. Bagaimanapun kita harus maju dengan suatu karya yang ‘gue banget!’ bukan berada di bawah bayang-bayang idola. Pada posisi ini, saya menyarankan untuk menunjukkan juga, pada siapa acuan kita sebagai bentuk penghargaan padanya, alih-alih mengatakan ‘ini karya asli saya lho!’. Karena sesungguhnya, tidak ada satupun yang baru di atas bumi dan di bawah langit ini.

Ada juga yang berpendapat, jangan sok suci lah memperingatkan soal plagiasi. Anda sendiri, emang ngga pakai software bajakan? Emang ngga beli DVD bajakan? Emang ngga unduh lagu secara ilegal?

Yah, namanya juga orang usaha untuk jadi lebih baik. Apakah kalau seseorang itu pelacur, kita sarankan sekalian aja mencuri, berzina – eh sudah ya?, dan menjual anaknya? Ya tambah ancur-ancuran dunia.

Sama seperti motif seseorang menjadi plagiator, ternyata menjadi penikmat barang-barang plagiat motifnya juga ekonomi. Kalau plagiator maunya dapat duit dengan cepat (duit ini bisa diartikan harafiah maupun non harafiah), sebaliknya penikmat karya plagiat supaya lebih ngirit. Lihat saja, tas KW, sepatu KW, buku bajakan, semua supaya dapat murah.

Cobalah untuk perlahan meninggalkan kebiasaan mendapatkan sesuatu dengan cara yang ilegal. Oh ya, saya memang sok suci. Kebetulan laptop yang saya pakai berbasis iOS, yang mau ngapa-ngapain mesti terpusat lewat iTunes. Kalau ngga kuat beli program asli (karena saya ngga bisa jail break, dan ngeri sama resikonya) ya saya cari yang gratisan. Masih coba-coba, ambil yang versi trial.

DVD lebih asyik beli yang asli, ngga cepat rusak dan kualitas gambarnya bagus. DVD Elmo *sudah saya bilang, sejak punya anak tontonan saya ngga jauh-jauh dari opening huruf ‘i’ yang diloncat-loncatin* sudah 4 tahun tersimpan dan masih OK. Tentu saja belinya ngga bisa seting-sering, karena 1 DVD asli bisa untuk membeli 4 DVD Bajakan. Lagu, yang saya masih ragu. Saya memang sudah ngga unduh lagi dari 4shared karena memang ngga ada, dan website downloader lain ribet makenya. Tapi saya convert video youtube ke mp3. Legalkah? Hmm..ngga tahu juga…Sucikah saya? Silakan nilai sendiri :D.

Sembari memperbaiki diri sendiri, saya pikir tak ada salahnya kita saling mengingatkan, plagiat itu not good at all. Sama-sama dikasih otak, yang satu dipakai, yang satu ngga. Ih, rugi amat dikasih akal. Ntar kalau Tuhan marah, trus ngambil otaknya gimana? Jadi hilang akal, ketemu jalan buntu, stress deh, depresi deh, ….Itu baru yang namanya sekalian, mental plagiat, kalau ngga diubah, sekalian aja ngga usah jadi manusia 🙂

IndriHapsari
***
Gambar : pinterest.com

*ngga mau panjang-panjang tapi jadinya segini @_@*

Advertisements