Si Penyembunyi

20130605-030935.jpg

Selalu ada kisah, seorang putri cantik dalam suatu puri, cemas menantikan pangerannya datang. Menyelamatkannya dari naga, membawanya lari dengan kuda putih, dan hidup bahagia selamanya. Namun di jaman sekarang, dimana manusia sadar bahwa naga adalah khayalan, apakah demikian jugakah dengan sang pangeran?

***

Aku membetulkan letak kacamataku. Merosot terus dari tadi, bertengger di puncak hidungku.

Namaku Vidi. Aku petugas perpustakaan di SMA internasional ini. Kebanyakan murid kami adalah anak ekspatriat yang bekerja di ibu kota. Maka kau bisa temukan wajah kebarat-baratan, bahkan ketimur-timuran, beredar sehari-hari. Bukan wajah khas Indonesia, dengan kulit sawo matang, hidung mungil dan rambut kehitaman seperti yang ku punya ini.

Sekelompok anak laki-laki bergerombol di satu sudut, mengerubungi sesuatu, yang aku berani taruhan, pasti bukan buku Concepts in Algebra. Suara cekikikan terdengar. Beberapa pengunjung, menatap mereka dengan sebal. Satu pengunjung memandangku, dan dengan lirikan yang beralih antara mereka dan aku, ia seolah mengatakan, ‘It is your job!’. Ugh OK, money talks.

Aku menghampiri mereka. Rambut pirang, kecoklatan dan merah tercampur di depan mata. Asyik sekali mereka memandang sesuatu di bawah sana, sampai tak sadar aku sudah di dekat mereka.

‘Pssst! Be quiet!’ desisku.

Serentak mereka terdiam. Kini wajah-wajah itu menengadah memandangku, sementara satu orang pada posisi paling dalam, dengan cepat menyembunyikan sesuatu di bawah meja. Namun aku sempat melihat sekilas. Sebuah majalah dengan tiga kata di belakangnya…BOY.

‘Hei! What do you hide from me?!’ bentakku.

Si penyembunyi menatapku dengan cemas. ‘Nothing, Mam. We are only…discuss..about fashion.’ jawabnya gugup. Teman-temannya nampak menahan tawa. Cengiran terlihat di wajah mereka. Namun si penyembunyi nampak gelisah. Fashion apa coba yang sampai bikin ketakutan begitu?

‘Let me see it.’ pintaku lembut. Oh ya, menghadapi anak-anak ini, memang tidak bisa langsung keras. Tapi kalau macam-macam, belum tahu mereka kalau taringku keluar.

‘E…no need Mam. It’s…nothing.’ katanya lagi. Kini mata birunya berani menatapku.

‘C’mon, give it to me now..or I must tell the principal?’ ancamku halus. Tetap dengan senyuman termanisku. Teman-temannya terdiam. Pelan-pelan beringsut menjauh. Mungkin kalau ekor mataku tak mengikuti mereka, mereka sudah kabur terbirit-birit.

Si penyembunyi jelas sedang pertentangan batin. Buah simalakama baginya, sama-sama tak enaknya. Namun ia toh harus memilih, mana yang terbaik dari pilihan yang sama-sama buruk.

Pelan ia mengeluarkan majalah tersebut. Aku menerimanya dengan senyuman lebar. ‘Next time, don’t read any adult magazine in here. You are still teenager, read Donald Duck!’ kataku sambil terkekeh.

Dengan tersenyum masam si penyembunyi beranjak dari tempat duduknya.

*
Aku membuka – buka majalah itu di kamar. Tentu setelah menyelesaikan makan malam dengan cepat, lalu pamit untuk segera ke kamar karena merasa tak enak badan. Ibu menatapku dengan prihatin, namun aku menenangkannya dengan mengatakan, tidur cepat akan menyembuhkan rasa tak enakku.

Dan dengan alasan itu aku bebas merdeka di kamar ini, yang sudah kukunci dari dalam. Alasan yang kuat, tak mau mengganggu mereka yang sedang tak sehat.

Meski tak pernah membacanya, tapi aku tahu bahwa majalah itu tak selayaknya dibaca oleh anak-anak belasan tahun tersebut. Yah, kini aku tahu mengapa. Gadis-gadis ini begitu seksinya, dengan baju yang merangsang menggoda. Kehabisan bahan rupanya, serba terbuka, serba ketat dimana-mana. Apa yang sebelumnya disembunyikan malah dipertontonkan. Lekukan bertebaran, bibir merah berhamburan.

Dengan majalah terbuka, aku mulai mengamati diriku pada cermin. Ho, tak ada miripnya dengan para model tersebut. Hanya gadis kurus tak menarik, dengan umur mendekati kepala tiga, dan belum menikah juga!

Oh ya, pangerannya memang belum datang. Masih berkelana entah mencari apa, sialnya, tak tahu juga aku seperti apa dia! Daaan..sebentar..kalaupun sang pangeran datang..memangnya dia mau sama aku? The ugly duck?

Aku tersenyum geli. Khayalan tingkat tinggi. Dan berkat khayalan pula, rasanya aku tak akan mendapat apa-apa…

*
Si penyembunyi memandangku mesra.

Ya, kau tak salah baca. Ia. Memandangku. Mesra.

Tiga hari setelah kejadian perampasan itu. Didekatinya aku di meja petugas. Lalu sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku, ia menatapku lama. Tak berkata apa-apa. Sampai jengah aku dibuatnya.

‘Why do you look at me?’ sapaku galak. Anak ini, umurnya masih separuhku, berani-beraninya mengandalkan taktik untuk menarik perhatian gadis bau kencur.

‘Hehehe..I think..you are beautiful, Mam.’ katanya berani.

Aku memicingkan mata. ‘What do you want from me? Your magazine?’ kataku terus terang. Hei, jangan main-main anak kecil! Kau tak tahu sepak terjangku…ehm..lebih tepatnya..sepak terjang yang tak membuahkan hasil.

‘No..no..Mam. It is nothing related with what happened before. I just want to..telling the truth. You are so..beautiful when you showed your firmness .’ katanya lagi. Kini mata birunya..aduh..terasa ada kerlip di bola matanya.

‘O ya? You are not the only person who said that.’ Ya..harus dong, kalau dia ngibul, biarlah kuikuti permainannya. Ratu kibul kok dilawan!

‘Ugh, poor me,’ namun aneh, ia mengatakannya sambil tersenyum. ‘So Mam, are you single?’

Aku menatapnya heran. Hei..anak ini..seriuskah?

Melihat aku masih terpana, ia tersenyum. ‘So..there is no worry for me, if I ask you to accompany me..at saturday night?’ ajaknya lagi. Aku terdiam. ‘What kind of restaurant do you like, Mam?’

Aku masih saja termangu dalam keterkejutanku. Hah? Serius? Si bule ini serius?

‘What about steak? I know the best steak in this town. My family always have special dinner at there. So..Sat night..7 o’clock? I will pick up you at your house. Eits! Don’t worry, I have got your address,’ katanya seolah menjawab keraguan di mataku. Lah, kok sampai tahu alamatku.

Dia masih saja berdiri di depanku. Kini jarak kami mungkin hanya dua puluh senti. Wangi parfum yang segar tercium samar. Mungkin itu juga yang menyebabkanku mengangguk dengan pasrah.

‘Yeay!’ teriaknya gembira. Beberapa pengunjung memelototinya. ‘See you!’ serunya sambil berbalik pergi. Masih kulihat sekilas senyum di sudut bibirnya.

Haduh Ibu..mimpi apa aku semalam. Diajak pemuda yang lebih pantas jadi adikku, cakepnya seperti idolaku, Prince Harry. Ternyata ngga perlu jadi gadis menarik seperti di majalah itu, untuk dapat perhatian sang pangeran tampan.

*
Aku menggunting-gunting majalah itu. Potongannya ku tebarkan di lantai. Lalu aku menangis tersedu di balik bantal.

Si penyembunyi! Sudah mengerjaiku!

Seharian aku mencoba gaya dandanan yang ia suka, sesuai majalah itu. Rok jeans selutut, dengan kaus imut berwarna cerah. Ya, aku ingin nampak muda dan menarik untuknya. Ngga lucu juga kalau ada yang usil tanya padanya, ‘Kok kemana-mana dikawal kakaknya, dek?’

Sudah lewat jam 9 dan maskaraku mulai luntur karena tangisan, ketika ia tak kunjung datang. Pasti di sudut sebuah kafe, ia sedang tertawa – tawa dengan gank rambut berwarnanya, menertawai kebodohanku.

‘Silly!’ serunya mungkin sambil tersenyum sinis. ‘What on earth was she thinking, I attracted to her. I just want to give her a lesson, do not fight me!’ dan ia akan menyeruput Frappuccinonya dengan puas.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Dikadalin anak kecil.

Ibu, begitu menyedihkannya usia tiga puluh, ketika aku harus melewatinya dalam kesendirian? Begitu berdosakah mengambil kesenangan dari seorang remaja berandalan, sehingga ditimpakanNya karma yang begitu menyakitkan?

20130605-031033.jpg

‘Vidiii,’ ketuk Ibu pelan. ‘Sudah tidur, Nak? Ada tamu tuh.’

Aku mengusap air mataku. Tak mau nampak begitu sengsara di depan Ibu. Bergegas aku membuka pintu kamar, menunduk sebelum Ibu sempat melihat dandananku yang kacau. Segera aku berlari menuruni tangga, menuju ruang tamu.

Si penyembunyi, sedang duduk dengan gelisah di sofa. Lengan kemeja putihnya digulung hingga siku. Kemejanya dikeluarkan, menutupi bagian atas jeans biru yang ia kenakan. Nampak..lebih dewasa.

Dengan segera ia berdiri begitu melihatku.

‘Mam! I am sorry….My informant gave me the wrong address. I think I already looking around a half of this city, until I can find your real address. So sorry Mam,’ katanya dengan tampang bersalah. Lalu dengan tatapan heran, ia menanyaiku, ‘Mam..are you…crying?’

Aku tertawa. Antara takut ketahuan dan lega. ‘Not important. Shall we go?’ kataku mengajaknya. Ia mengangguk. Tangannya dijulurkan ke arahku. Aku menyambutnya. ‘And..from now on..call me Vidi.’

***
Ternyata tak perlu naga untuk membuktikan pangeran ada. Hanya sabar menunggu saja, karena pangeranmu sedang menuju fase dewasa, dan mungkin saja, ia sedang salah puri!

20130605-031112.jpg
***

20130605-031202.jpg
Pinterest.com

Advertisements