Makin Lengkap Makin Bagus?

20130602-184319.jpg

Jaman sekarang, selalu yang ditawarkan adalah kelengkapan. Apa yang mereka punya, apa saja yang bisa mereka lakukan atau layani. Semakin lengkap, prediksinya orang akan makin banyak yang datang. One stop shopping, atau one stop service istilahnya. Beli banyak di satu tempat. Beli satu dapat banyak. Semua atas nama waktu, biaya dan trend.

Tapi apakah itu yang kita inginkan?

Sudah lima tahun ini saya menghindari hypermarket. Toko super lengkap ini memang membuat saya tak usah pergi ke toko lainnya. Mulai bumbu dapur sampai kamera digital. Mulai sedotan sampai makanan kucing. Masalahnya, karena dia harus menampung banyak produk, tokonya jadi besar dan luas. Karena pelanggannya banyak, dan satu pelanggan juga sama sekaliannya seperti saya, antrian jadi panjaaang dan lamaaaa. Belum lagi kalau ada masalah. Berurusan dengan customer service? Silakan lumutan.

Akhirnya saya menjadi pelanggan setia supermarket lama, yang meskipun barangnya tak begitu lengkap, tapi semua yang saya butuhkan ada di sana. Kemungkinan terjadi impulse buying karena kesengsem dengan produk yang dipajang juga makin kecil. Menjelajah toko tak perlu makan waktu lama, cenderung mudah dihapalkan letaknya, dan pengelola tokonya juga tanggap dengan membuka semua kasirnya agar mengurangi antrian. Tidak seperti di hypermarket, kasirnya ada tigapuluh, yang diaktifkan tak sampai sepuluh.

Contoh lain mengenai smartphone. Promonya adalah bisa mengunduh aplikasinya yang ribuan, sehingga ponsel kita jadi super lengkap. Masalahnya aplikasi tersebut meski tidak dibuka, suka jalan sendiri sehingga memakan kuota data yang kita punya, menghabiskan baterai dan terhubung dengan internet untuk mengetahui perkembangan terbaru.

Baru-baru ini saya amati lagi apa sih yang sudah saya unduh selama ini, dan mengingat kembali, seberapa sering saya menggunakannya. Kesimpulannya, hanya sepuluh persen yang sering saya gunakan, yang berkaitan dengan pekerjaan, menambah wawasan dan dunia tulis menulis. Lainnya, bahkan saya tak ingat kenapa saya dulu mengunduhnya. Dan terima kasih pada sinkronisasi, beberapa gadget saya serasa anak kembar, aplikasi dan fotonya sama semua meski saya mendapatkannya secara terpisah.

Atas dasar ngga kepake itulah, saya mulai mendefinisikan kembali, apa arti smartphone buat saya. Apakah karena banyak aplikasinya? Ternyata yang saya perlukan adalah yang bisa mendukung kerja, sistem yang sudah mapan dan gampang transfer data. Ah ya, ternyata tak perlu terlampau lengkap juga. Kalau lengkapnya karena aplikasi game, ya bukan smartphone namanya, tapi XBox.

Bagaimana dengan pasangan hidup? Oh, saya memang bisa memilih mata Pierce Brosnan, senyum George Clooney, tubuh Taylor Lautner dan gayanya Brad Pitt sebagai pria sempurna yang pantas mendampingi saya. Tapi..sebentar..apa saya pantas mendampingi pria seperti itu? Nanti malah jadi dongeng baru, Handsome and the Beast, dengan saya bagian jadi nenek sihirnya *manyun*.

Atau saya berharap pasangan punya sifat ampun-ampunan positifnya? Sudah baik, lembut, pintar merayu, romantis, tegas, melindungi, perhatian, tanggung jawab, name it. Selain orang nanti melihat saya pembawa kesialan bagi dia, mungkin hidup saya juga ngga bakalan tenang karena pria yang cuma ada satu dari semilyar ini, pastilah jadi dambaan wanita lain. Waduh, ngga deh. He’s belong to me, baik paket hemat maupun paket premiumnya. Ngga lengkap ngga apa, yang penting PAS buat saya 🙂

20130607-043354.jpg

Pinterest.com

Advertisements