Mahasiswa Miskin Dilarang Putus Asa!

20130413-214935.jpg

Rencana pemerintah untuk menghapus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diganti dengan jalur undangan disambut dengan reaksi negatif oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan seleksi berdasarkan ujian masuk yang awalnya dikelola oleh pemerintah, menjadi murni dikelola oleh PTN. Masalahnya PTN dapat memilih sekolah-sekolah tertentu yang akan diundang, dan rawan manipulasi nilai rapor karena hanya siswa berprestasi yang dapat masuk jalur ini. Kenyataannya di lapangan, biaya sumbangan pendidikan yang ditetapkan oleh jalur ini mencapai puluhan juta rupiah per orang, dan biaya penyelenggaraan pendidikan juga berlipat dari jalur SNMPTN.

Dulu calon mahasiswa yang berasal dari ekonomi kurang mampu, berusaha untuk masuk ke PTN karena selain kualitasnya yang terjamin sehingga mencari kerja lebih mudah, biaya kuliahnya pun murah karena mendapatkan subsidi dari pemerintah. Namun harapan itu kini kian tipis karena penghapusan SNMPTN dan subsidi, sehingga hal ini menyebabkan banyak lulusan SMA menjadi putus asa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sebagai pendidik tentu saya punya kepentingan untuk mendorong semua lulusan SMA meneruskan pendidikannya, karena semakin hari persaingan untuk mendapatkan pekerjaan makin ketat. Saat ini buruh di pabrik saja sudah lulusan SMA, kita bisa bayangkan 10 tahun lagi siapa yang akan direkrut di sana. Tentu saja ada beberapa contoh keberhasilan yang dicapai oleh teman-teman yang meskipun tidak tamat pendidikan dasar ataupun lanjutan tetapi sukses menjadi pengusaha, di antara ribuan yang lain sehingga persentasenya kecil. Ibaratnya jika kita menempuh pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak pintu yang bisa dibuka, mau kemana saja bisa. Masalah sukses atau tidak nantinya, itu tergantung pintu yang dibuka cocok atau tidak. Untuk mereka yang tidak menempuh pendidikan yang lebih tinggi, pintu yang tersedia lebih sedikit. Selain itu, seandainya nasib benar-benar buruk meskipun kita sudah menyelesaikan kuliah, setidaknya pendidikan akan menyelamatkan kita dari diremehkan orang lain.

Sekarang bagaimana jika lulusan SMA ini kurang mampu (saya akan bilang terus terang: miskin) tetapi ingin kuliah? Yang pasti mereka harus punya niat dan usaha, dan hal ini tidak dapat ditawar. Niat ingin kuliah, dan usaha untuk menyelesaikan kuliah. Apakah itu berarti harus pintar? Ya! Tidak dapat disangkal, kalau seseorang sudah miskin, bodoh pula, jangan memaksakan diri untuk kuliah, hanya menghabiskan biaya saja. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Iwan Pranoto, Guru Besar Ilmu Matematika Institut Teknologi Bandung, di jaman sekarang, bodoh adalah pilihan, bukan nasib. Kalau kita memutuskan untuk jadi pintar, maka kita pasti akan berusaha untuk mencapainya. Jangan manja dan lebih serius dari mereka yang mampu, untuk menghadapi tantangan hidup. Sekolah nomor satu, yang lainnya menyusul.

Pertama yang harus Anda lakukan adalah mencari beasiswa. Hal ini berlaku untuk kuliah di dalam dan di luar negeri, perguruan tinggi negeri maupun swasta. Rajin-rajinlah mencari informasi di Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Tinggi, web perguruan tinggi, ataupun web negara yang dituju. Kadang mereka mengumumkan juga di surat kabar ataupun langsung lewat sekolah. Jika sudah mendapatkan informasi ini jangan lupa untuk menindaklanjuti, hubungi alamat, email maupun nomor telepon yang tertera dan siapkan pertanyaan untuk lebih jelasnya. Misalnya besaran beasiswa, diberikan kapan, bisa digunakan untuk apa saja, syarat-syarat pengajuan dan lain sebagainya. Jangan takut untuk mencari informasi di perguruan tinggi swasta, karena banyak dari mereka menawarkan beragam beasiswa namun belum terekspos dengan baik. Ada pula beasiswa yang ditawarkan pada saat Anda sedang berkuliah. Sering-seringlah memeriksa penjelasannya di papan pengumuman Tata Usaha Fakultas ataupun Jurusan.

Setelah Anda menentukan akan masuk universitas mana, Anda tetap memerlukan sedikit uang untuk persiapan. Misalnya ongkos transportasi (jika berada di luar kota atau negara) dan biaya hidup sampai beasiswa keluar. Karena itu saya menyarankan Anda mulai melakukan pencarian universitas dan jurusan mulai kelas 1 SMA agar dapat diperkirakan besaran dana yang harus dipersiapkan, dan bisa mempersiapkan sedikit demi sedikit dana untuk masa depan.

Sekarang, untuk menyiasati biaya kuliah yang mahal, Anda bisa mulai dari memperbesar pendapatan. Caranya, coba dekati dosen, tunjukkan kemampuan dan sifat proaktif Anda. Siapa tahu Anda dapat membantu dosen dalam proyeknya, sehingga lumayan kecipratan rejekinya. Bisa juga dengan mendaftar menjadi asisten dosen, student employee atau apapun namanya. Dengan rajin membaca papan pengumuman, selain informasi beasiswa, biasanya juga dipasang pengumuman lomba antar mahasiswa. Ikutilah, meskipun hadiahnya kadang tidak berupa uang. Info lainnya adalah kesempatan magang di perusahaan. Dengan menunjukkan performance yang baik, terbuka kemungkinan begitu seleai kuliah Anda akan ditarik masuk ke perusahaan tersebut. Di kelas, ikuti kuliah dengan baik, dan catat dengan rapi. Anda bisa menawarkan jasa fotokopi ke teman-teman yang malas mencatat. Atau bantu teman kuliah dalam pengolahan data. Tidak perlu meminta imbalan, mereka akan dengan sukarela membelikan Anda makanan atau uang pulsa.

Cara eksternal ada macam-macam, tergantung mental dan kemauan Anda. Masalahnya kadang karena Anda seorang mahasiswa, ada perasaan malu jika melakukan pekerjaan yang ‘bukan level’nya. Misal jadi satpam shift malam, jaga minimarket, jaga warnet, menjadi SPG atau pagar ayu, memberikan les, menjual produk, semuanya sebenarnya pantas Anda kerjakan, asal tidak usah membayangkan malunya jika secara tidak sengaja pekerjaan ini dilihat oleh teman kuliah Anda. Saya ingat pernah ada seorang mahasiswa di Yogyakarta memilih profesi sebagai pemulung. Tidak apa-apa, asalkan halal. Cara yang tidak halal pun ada, misal menjual narkoba, VCD porno, ataupun menjual ‘segala’. Tapi percayalah, semua niat baik yang dilakukan dengan cara tidak baik, tidak akan menghasilkan apapun. Jadi daripada dosa, tertangkap polisi, malah harus berhenti kuliah, cobalah tetap berada di jalur yang benar.

Untuk mengurangi pengeluaran, kita mulai dulu dengan pengeluaran akademis. Rajin-rajinlah mengunjungi perpustakaan, untuk mengetahui buku terbaru ataupun meminjam buku teks. Cara lain adalah dekati senior yang sudah lebih dahulu mengambil mata kuliah tersebut, dan pinjam buku teksnya. Daripada fotokopi catatan teman, lebih baik mencatat sendiri. Karena sambil mencatat tersebut kita juga sekalian belajar mengingat. Jika dosen memberikan file presentasi, cobalah untuk melihatnya langsung di monitor, jangan dicetak. Perhatikan jadwal penggunaan laboratorium komputer, cari kemungkinan Anda dapat menggunakannya di luar jadwal yang ada. Atau dengan menjadi asisten dosen atau asisten mata kuliah, biasanya ada fasilitas penggunaan komputer yang dapat dimanfaatkan.

Untuk kehidupan sehari-hari, jika Anda berasal dari luar kota, pilihlah kos yang kecil, minim perabot, tapi dekat dengan kampus. Meskipun Anda harus mengeluarkan uang untuk membeli box plastic untuk menyimpan baju, kasur dan bantal tipis untuk tidur, tapi hal ini akan jauh lebih hemat daripada membayar ongkos sewa bulanan yang mahal. Atau Anda bisa menumpang di rumah saudara jika ada. Hendaknya diingat bahwa dimanapun Anda berada, cobalah menjadi penghuni yang baik. Semua orang akan sayang, dan rejeki mulai lancar (misalnya makanan gratis, cuci gratis, atau dapat anaknya ibu kos :P). Untuk makan, cobalah cari warung yang murah, sehat dan enak, kemudian cobalah rundingkan dengan pemiliknya supaya Anda bisa membayar satu bulan di depan, tapi Anda bebas makan di sana sehari tiga kali. Pemilik warung pasti menyambut gembira dan biasanya memberikan harga lebih murah, karena dia bisa mendapatkan modal di depan. Buat Anda, setidaknya selama kuliah Anda tidak akan kelaparan, meskipun mungkin lama-lama bosan juga menunya itu saja. Berarti saatnya Anda mencari warung lain yang juga bisa diajak negosiasi. Pengeluaran lain yang rutin adalah pulsa. Pertama cegah dulu kemungkinan pengeluaran yang lebih besar dengan menggunakan handphone yang hanya bisa untuk telepon dan sms. Minimkan menelepon lewat handphone, Anda memilikinya supaya lebih mudah dihubungi, bukan menghubungi.

Penghematan lain: jangan pacaran, jangan merokok, jangan bersenang-senang. Kalau bisa selama uang masih dari orang tua, atau Anda masih kesulitan dalam mencari kerja sampingan, cobalah berhemat dengan tidak pacaran. Meskipun pacar Anda pengertian banget, tidak pernah minta dibelikan barang, tapi masa sih Anda tidak mengajaknya jalan-jalan, makan bersama, dan nonton bareng? Beda jika Anda telah memiliki sumber penghasilan, sisihkan sedikit uang untuk menyenangkan hati pacar. Buat Anda yang memutuskan jomblo (atau terpaksa jomblo) jangan khawatir. Begitu Anda lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang mapan, cewek-cewek maunya nempeeeel terus dan orang tua dengan senang hati merestui hubungan dengan ‘pegawai kantoran’ (untuk cewek berlaku sama).

Merokok dilarang karena kegiatan ini seperti membakar uang. Bayangkan Ayah Anda mungkin harus berpeluh, Ibu Anda harus menjual cincin kawinnya untuk membiayai kuliah Anda, dan Anda membalasnya dengan membakar setiap lembarnya dengan cara merokok? T-E-R-L-A-L-U! Belum lagi akibat buruk rokok terhadap kesehatan. Ingat jargon yang lain: orang miskin dilarang sakit!

Lupakan soal bolos kuliah, nongkrong di mall ataupun dugem di diskotik. Kegiatan tersebut cuma menghabiskan uang, dan mengganggu konsentrasi belajar. Camkan bahwa teman Anda bisa melakukannya karena mereka punya orang tua yang kuat dalam pendanaan, sehingga mau tidak lulus kuliah pun, mereka tetap bisa punya perusahaan sendiri. Anda berbeda, Anda sudah ketinggalan start, jadi jangan memperlambatnya lagi dengan urusan bersenang-senang ini.

Advertisements