Seperti Apa Rasanya…

20130412-181052.jpg

Bagaimana rasanya tercabut sampai akar-akarnya?

Sakit.

Seperti darah yang terhisap perlahan dari tubuhmu. Kau tak merasakan, tiba-tiba lunglai luar biasa. Dan mulailah jantung tak terpompa. Kisahmu hanya tinggal nama.

Sama seperti cinta yang tak terbalas.

Sakit.

Tiba-tiba ia telah lepas dari cengkeraman. Kau genggam erat, namun seperti pasir, pelan-pelan menyisip keluar. Dan saat kau buka tangan, hilang. Dia hilang. Cintamu hilang.

***

‘Love you…’

‘Basi!’

‘Sejak kapan kamu jadi sinis gini.’

‘Sejak kamu mutusin aku.’

‘Kan bukan mauku.’

‘Kalau bukan maumu, kenapa ngga kamu tolak aja. Tapi ini ngga, kamu terima saja perintah orang tuamu.’

‘Aku ngga boleh menentang keinginan mereka.’

‘Kalau kamu begitu berbaktinya pada mereka, buat apa kamu diam-diam menemuiku di sini. Kamu berkhianat!’

‘Waduh, bahasanya penuh sindiran ya sekarang.’

‘Harus. Aku ngga suka bertemu orang yang suka berpura-pura. Di depan mereka kamu layaknya anak yang baik. Namun begitu ada kesempatan, kamu mengendap-endap menemuiku.’

‘Ribut amat sih. Kamu toh mau juga ketemu aku.’

‘Aku ngga bisa bohong. Aku masih sayang kamu. Tapi begitu kamu putuskan aku, tak pernah sedikitpun aku berusaha menemuimu. Kamu yang ngajak ketemuan. Kamu yang mendatangiku.’

‘Kalau serius menghindariku, semestinya tutup saja teleponnya saat aku menghubungimu. Simpan saja SMSku tanpa perlu membalasnya. Abaikan saja panggilanku saat chat.’

‘Sekarang kamu nyalahin aku. Kenapa ngga kamu yang mengendalikan diri, jangan hubungi aku lagi! Tak ingatkah kau janji pada orang tuamu,..dan terutama…suamimu? Tahukah dia, kalau kau disini menemuiku? Ijinkah kau padanya?’

‘Mmm…ngga. Pasti ia melarangku. Atau, bakal cemburu berat terhadapmu.’

‘Anakmu, dengan siapa ia sekarang?’

‘Pengasuhnya.’

‘Kau libatkan aku dalam masalah dalam dirimu. Kau telah memutuskan, maka konsekwenlah dengan itu. Bukannya ragu dan mengajakku terlibat dalam pusaran keraguanmu. Bisa- bisa kau akan korbankan aku. Sudah tak dapat kamu, disemprot pula oleh suamimu. Apa sih maumu?’

‘Aku…menyesal telah memilihnya. Aku … hanya mau kamu.’

‘Terlambat. Kau telah memutuskan. Kau telah mencampakkanku. Dan kenapa baru sekarang kau sesali? Apa karena pada awalnya semua manis-manis saja? Sehingga begitu ternyata tak sesuai impian, kau mulai mengingatku kembali?’

‘Kau kejam! Kutelan bulat-bulat semua kata-katamu! Tapi yang aku bisa katakan … aku selalu mencintaimu!’

‘Cinta itu untuk diwujudkan, bukan hanya dinyatakan. Kalau begitu caranya, kau pun bisa bilang begitu ke suamimu, tanpa pernah menyerahkan cintamu utuh padanya. Tapi malah membaginya denganku. Cinta macam apa itu!’

‘Kau rupanya ingin menyakitiku ya?’

‘Tidak. Tapi please, kau telah memutuskan. Berhenti bermain-main dengan perasaan. Perasaanmu, dan perasaanku. Terpaksa ku bersikap tegas padamu. Jangan pernah hubungi aku lagi.’

‘Heiii!’

‘Kau pikir hal ini tak berat bagiku? Mencintaimu, tanpa pernah bisa memilikimu. Lalu, kau pamerkan padaku, bahwa kau juga masih mencintaiku. Apa yang lebih menyiksa daripada itu? Kau menduakanku! Tak bisa kau jalani keputusanmu setengah-setengah seperti itu. Tak boleh suam-suam kuku. Ada dingin, dan ada panas. Pilih salah satu!’

‘Pleaseee…’

‘Jangan merajuk. Selamat tinggal.’

***

Aku membuang rokok yang sudah setengah batang kuhisap. Keretaku datang. Bergegas aku mengambil tas ransel yang kutaruh di samping. Cukup berat, sebagian besar baju dan buku kubawa. Lainnya, kutinggalkan di Ibu kos.

Waktu itu, Ibu kos menatapku bingung.

‘Kenapa to Mas, kok mendadak gini?’

‘Ngga apa Bu, saya cuma ingin cari pengalaman baru saja.’

‘Masnya juga pindah kerja?’

‘Iya bu, saya resign, eh, mengundurkan diri.’ sambungku ketika melihat mimik bingungnya mendengar kata resign.

‘Terus masnya mau kemana?’ tanyanya lagi. Ah Ibu kos, serasa seperti Ibu sendiri, yang mengkhawatirkanku, mengingatkanku dan kadang menasehatiku.

‘Masih belum tahu Bu.’ kataku berbohong. Kalau kau mencariku, biarlah Ibu Kos tak perlu berbohong menyembunyikan keberadaanku. Ia juga tak akan bisa menghubungiku, dengan semua akses komunikasi yang sudah kuganti.

‘Masnya nanti kasih kabar ya, biar Ibu ngga cemas.’ katanya lagi.

Aku mengangguk lemah.

Kereta datang.
(Seperti apa cinta tak terbalas? Seperti pohon yang tercabut sampai akar-akarnya.)

Lajunya mulai melambat.
(Tak kan lagi mendapatkan hara. Daunnya tak kan lagi mendapatkan hawa.)

Berhenti tepat di depanku.
(Pohonnya pelan-pelan mati. Kering. Sebelum musnah menyatu dengan tanah.)

Penumpang mulai menaiki kereta.
(Seperti apa rasanya cinta? Sakit.)

20130413-035422.jpg
***
Idea, illustration and signature by Ferry Prasetyo

Advertisements