Kelelahan

 

20130322-055120.jpg

‘Aku lelah, Ca’ kataku padanya.

 

Ica menengadahkan wajahnya dari dadaku. Mata bulatnya memandangku.

 

‘Kenapa?’ katanya lirih.

 

‘Kapan kau mau memutus pacarmu?’ kataku sambil tetap memandangi air danau yang tenang.

 

Ica mendesah. ‘Ngga bisa, Bim’ katanya pelan. ‘Mas Setyo sudah menemaniku selama ini. Orang tuakupun juga sudah mengenalnya. Aku ngga bisa memutus dia begitu saja’

 

Aku terdiam. ‘Lalu kau anggap apa aku ini, Ca?’ tanganku mulai kusingkirkan dari bahunya.

 

‘Aku cinta kamu Bim. Tapi aku juga sayang Mas Setyo.’ Wajah Ica nampak pucat.

 

Aku mulai memandangnya.  ‘Dan mengapa harus aku yang mengalah, tak bisa memilikimu, dan bukan Mas Setyomu itu?’

 

Wajah Ica menunduk. ‘Mungkin karena Mas Setyo yang lebih dulu aku terima cintanya.’ Sekejap kemudian wajahnya sudah memandangku lagi. ‘Tapi aku lebih cinta kamu, Bimo!’

 

Aku tertawa sinis. ‘Lebih cinta, jadi aku yang lebih dikorbankan.’ Wajah Ica memerah. ‘Dan menurutmu aku harus menunggu sampai kapan? Aku tak bisa memberikan cinta yang sama terus menerus, tanpa bisa memilikimu.’

 

‘Jangan Bimo! Aku bisa apa tanpa kamu. Kamu yang membuat hari-hariku terasa indah. Aku lebih menunggu kehadiranmu daripada dia.’

 

‘Kalau begitu, putuskanlah!’ kataku geram. ‘Kau mau aku tersisa sebagai perjaka tua? Hanya menunggu seorang wanita, yang membuat satu keputusan saja sulit setengah mati?’

 

Kini kami telah duduk berhadapan. Matahari mulai terbenam. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya masing-masing.

 

Ica hanya diam.

 

Aku menatapnya. ‘Ica, ngga bisa begini terus. Kalau memang berat bagimu memutuskannya, aku saja yang pergi.’ Mata Ica membelalak. Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, ku sentuh bibirnya dengan jariku. ‘Dengar dulu Ca. Mungkin kita memang jodoh. Tapi kita tak bisa bersama. Yah, mungkin kelak di lain waktu, dalam wujud yang berbeda, kita akan bersama. Tapi sekarang…aku ini seorang pria Ca. Mana harga diriku harus terlunta-lunta sekian lama.’

 

Air matanya mulai menetes. ‘Bim…’katanya terisak.

 

‘Sudah ya Ca. Sudahi semua petualangan ini. Pulanglah ke Mas Setyomu. Mulai sekarang, hapus semua tentang memori kita berdua. Akupun akan melakukan hal yang sama.’

 

Ica makin terisak.

 

Dan malampun mulai menjelang. Keadaan di sekitar danau telah sepi. Aku menggamit lengan Ica untuk mengantarnya pulang.

Advertisements