Jahat!

‘Jahat! Jahat! Jahat!’

Aku memukuli punggung Fahri dengan tanganku. Meski berada di atas motor yang sedang melaju, aku masih bisa melakukan itu padanya yang sedang konsentrasi mengemudi.

Fahri tergelak. ‘Marah kenapa?’ dia masih saja tergelak. Ya, alih-alih merasakan kesakitan, mungkin pukulanku dianggapnya belaian sayang. Selain mungkin karena aku perempuan, hal lain -aku juga sedang ragu – mungkin ini hanya ungkapan rinduku padanya.

‘Pergi ngga bilang! Ditelponin ngga bisa! DiSMS, ngga ngebales! Apa itu yang namanya orang pacaran?!’ Aku nyerocos sebal, di antara ramai kendaraan di kanan kiri jalan.

Fahri tertawa lagi. Huh, gemes!

‘Jangan ketawa!’ satu cubitan untuknya di pinggang. Sulit, karena badannya liat. Makin keras tertawanya. Mungkin seperti menggelitikinya.

‘Fahriii! Kamu ngga ngerasa salah ya?!’ aku menghentikan usahaku. Menyerah, kini kedua lenganku memeluk pinggangnya.

‘Mau bakso?’ katanya menawarkan.

‘Fahriiii! Hubungannya apaaaa?!’ Haduuh, gemes punya pacar ngga nyambung kaya gini.

‘Ada warung bakso enak di depan sana. Makan dulu yuk.’ katanya menawarkan.

‘Aku ngga mau! Enak aja, kamu tuh ya, belum beres urusan, udah ngajak makan. Biarpun aku capek kuliah, bukan berarti..’

‘Aku mau.’ katanya singkat sambil meminggirkan motornya di samping warung warna biru. Selesai mematikan mesinnya, ia bangkit dan membuka helmnya. Sambil tersenyum ia memandangku. ‘Ngga turun?’

‘Ogah! Kamu tuh aneh banget sih Fahriii! Aku kan bilang ngga mau makan. Maksa amat sih?!’ Aku merengut sambil bersedekap. Tetap di motornya, dan helm masih di kepala.

‘Aku terangin di dalem. Yuk. Lagian malu tuh diliatin tukang parkir’ Fahri memberikan kode tuh-ada-yang-liatin. Oh my gosh, dengan terpaksa aku meletakkan helm yang kukenakan dan mengikutinya masuk ke warung. Kami duduk berhadapan di kursi plastik yang ada. Pengunjung cukup ramai dan para pegawai nampak sibuk melayani.

‘Yang penting ya Fahri, kamu mesti nerangin kenapa kamu ngga menghubungi. Udah seminggu loh Fahri! Kamu pikir abis jadian trus seenaknya aja kamu bisa ninggalin aku? Kamu pikir..’

‘Baksonya apa?’

‘Yang gede satu yang kecilnya lima….ups!’ aku tersadar. Bukannya aku lagi ngomelin dia ya? Lalu ditanya baksonya apa kok aku jawab aja? Hadeuuuh…

‘Fahriiii!’ omelku lemah. Fahri tertawa-tawa.

‘Tuuuuh kan laper. Iya mas, kaya pesenannya mbak ini aja, dua mangkok ya. Minumnya, es teler aja ya Fan? Es teler disini enak loh’ Fahri memutuskan sendiri, dan mengangguk pada pegawai yang tadi menghampiri kami. Tanpa banyak bicara ia meninggalkan meja dan mulai meracik pesanan.

Fahri mengambil kotak rokok dari saku jaketnya. Melihat gelagat itu, aku segera melarangnya. ‘Ngga boleh yaaa. Jangan ngerokok di depanku’ kataku tegas.

Fahri nyengir. Kotak rokoknya dimasukkan lagi.

‘Fahriiii, jawab dooong’ kataku merajuk. Seminggu ditinggalkannya, sungguh membuatku blingsatan sedemikian rupa. Seakan jalur komunikasi ditutup olehnya, padahal statusku masih pacarnya.

Tadi siang ia menjemputku sepulang kuliah. Sudah menunggu di depan gedung, dengan dua tangan di saku celana. Dari jauh ia sudah tersenyum saat melihatku. Aku, tentu saja sempat lupa kalau lagi marah padanya. Tersenyum juga, karena rasa rindu akhirnya menemukan jawabnya. Tapi kemudian jutek sepanjang perjalanan, karena menuntut penjelasan, kemana selama ini ia menghilang.

Pegawai tadi telah mengantarkan pesanan kami. Kuhirup pelan kuah baksonya. Ah, Fahri memang tak salah pilih.

‘Ada kerjaan, Fanny’ Fahri mulai mencicipi es telernya. ‘Ada tugas peliputan di luar pulau. Mendadak. Handphoneku ketinggalan di kamar. Saat di bandara, ku coba mengabarimu lewat email. Memanfaatkan fasilitas sebelum masuk pesawat. Aku pikir pesan sudah sampai, sehingga tak perlu membuatmu cemas seperti ini.’

Aku terdiam. Hah! Kenapa ngga inget yaaa..HPku memang memunculkan notifikasi untuk Facebook dan Twitter. Tapi email, belum pernah kusetting. Buat apa, isinya hanya email untuk dosenku saja. Dan Fahri, mahluk ini memang aneh, bahkan akun Facebookpun dia tak punya.

‘Tapi kan kamu bisa bales SMS Fahriiii, atau telpon kek, begitu kamu nyampe rumah..’ kataku tetap ngotot.

‘Baru sampe, aku cek tuh telepon sudah mati. Yah ditinggal seminggu, low bat dia. Belum sempat charge, karena aku langsung ke kampus’ katanya tenang.

Diam-diam aku menyesal. Fahriii, bela-belain banget sih. Belum istirahat, sudah ngibrit mau jemput aku. Aku mulai memandangnya, yang sedang asyik menyantap es telernya. Rasanya dia makin hitam deh. Wajahnya makin tirus. Nampak ada cekungan di bawah matanya. Fahri, capek ya?

Aku menghabiskan baksoku dalam diam. Lebih ke penyesalan, karena sudah berburuk sangka, tak percaya bahwa Fahri sungguh sayang padaku. Tuhan, ampuni aku…

‘Sekarang, cerita dong Fan, kamu ngapain aja seminggu.’ Fahri memainkan jemariku. Malu sih, diliatin orang, tapi tak urung aku menjadi bersemangat bercerita. Setidaknya untuk menebus perasaan bersalahku.

Fahri mendengarkan sambil memandangku. Sesekali ia tertawa dengan penuturanku. Sesekali bertanya kalau ada yang tak jelas. Ikut diam saat aku mulai menyuap sayatan kelapa muda dalam es telerku. Mengusap mesra punggung tanganku saat ku bercerita ada yang jahat padaku.

‘Eh, kok aku yang cerita mulu?’ kataku protes. Dari tadi rupanya aku yang sibuk mengoceh ini itu, sementara Fahri hanya diam saja. Fahri tersenyum. ‘Aku sudah senang, bisa lihat kamu.’

Huaaa…Fahriii, kamu tahu aja bagaimana melambungkanku…

‘Udah?’ katanya sambil bangkit dari kursi. Aku mengangguk. Dua mangkuk es teler sudah habis, namun mangkuk bakso Fahri masih penuh. Fahri, kok kamu ngga makan…

Aku terdiam sambil memandang Fahri yang sedang membayar. Jadi, dia ngajak ke warung ini hanya untuk meredakan marahku? Hanya untuk melihatku bicara? Ngga peduli dengan kelelahan yang sedang menerpanya?

Fahri, betapa egoisnya aku!

Di sepanjang perjalanan, aku hanya bisa diam, sambil bersandar di punggungnya yang hangat…

***

To : Fanny
From : Fahri
Date: 1 Februari 2013

Fanny,

Maaf ya ngedadak begini. Boss minta aku meliput bencana. Seminggu mungkin. Kamu, baik-baik aja ya. Sepulang ini, kita ketemu lagi.

Fahri

Aku masih memandang email yang dikirimkan Fahri seminggu yang lalu. Tanpa kata cinta atau bertebaran kata rayuan di dalamnya. Tapi justru dari kesederhanaan kalimatnya, aku tahu, ia mengharapkanku untuk menantikannya, karena ia akan selalu kembali padaku.

Fahri. Kamu jahat. Telah merampok hatiku.

***

Kisah Fahri sebelumnya : Api Unggun Kecil

20130209-170502.jpg

Kalau Fahrinya model begini, setuju ngga Bapak Ibu? ^_^

Advertisements