Cukup.

Sudah cukup ya, Fahri
***
Kamis, Jimbaran, 18.07 WITA

Dea bangkit dari kursi yang sedianya akan menjadi kursi dinnernya dengan Fahri. Meja sudah tertata rapi, dengan taplak putih yang dilapisi plastik bening agar tak kotor. Piring juga sudah tertata rapi, lengkap dengan sendok dan garpu. Deapun sebelumnya sudah memesan kepiting asam manis, ca kangkung dan nasi putih sebagai menu pilihannya dan Fahri. Es jeruk nipis juga ia telah pesan, karena ia tahu Fahri selalu memesan minuman itu. Kepitingnya, nanti kata masnya dapat dua ekor, satu untuknya, satu untuk Fahri.

Tapi nampaknya harus ia habiskan sendiri. Dea memandang matahari yang mulai melintasi garis horison.

Fahri sudah datang setelah ia memesan. Agak aneh karena wajahnya lebih kusut dari biasanya, bau rokok, dan sikap tubuhnya tak tenang. Dea duduk berhadapan dengannya, menyaksikan orang yang dikasihinya terdiam, seolah mencoba menyusun kata yang ingin disampaikan.

‘Dea, aku minta maaf’ Fahri membuka percakapannya dengan pelan.

Dea diam saja. Ia bisa meraba, kemana percakapan ini akan berjalan…

‘Aku..rasanya ngga bisa memenuhi permintaanmu, untuk meninggalkan pekerjaanku dan tinggal di kotamu. Pekerjaan yang kujalani sangat penting Dea. Aku suka, dan gajinya pun bagus. Jika aku harus melepaskannya karena memilih tinggal denganmu, aku harus mencari pekerjaan baru yang berbeda, dengan entah apa aku bisa mencintainya, dan aku yakin standar gajiku akan terlalu tinggi bagi mereka. Aku perlu uang itu buat kita, buat masa depan keluarga yang akan kita bangun.’ Fahri menjelaskan dengan serius, sambil memandang Dea. Dea yang selalu nampak anggun, meski matanya kini memandang dengan sedih.

Dea mendesah. Selalu persoalan yang sama, dan sudah berkali-kali mereka lewatkan karena pasti akan memicu pertengkaran. Namun toh suatu saat harus dibahas juga, dan Fahri rupanya memilih saat ini untuk menyelesaikannya.

‘Kamu kan tahu sendiri, Fahri. Aku sedang meniti karir. Ngga mungkin aku ikut kamu ke negeri antah berantah itu, mana ada agency model di sana yang bisa memberikan pekerjaan dan mempublikasikan model baru. Di ibukotalah tempatnya, aku dibayar dengan sangat memuaskan di sana. Namun aku juga sadar, kau tak mungkin mencari minyak bumi di kota ini.

Fahri, aku tahu kita bisa saja hidup berjauhan. Saat kau off, kau bisa pulang dan menemuiku seperti saat ini. Demikian juga dengan aku, aku bisa ke tempatmu, jika pekerjaanku sudah selesai.

Hanya saja Fahri,tujuan kita kelak berkeluarga adalah untuk memiliki dan membesarkan anak-anak. Mana mungkin hal itu terjadi, jika kita berjauhan terus seperti ini. Pasti ada yang kurang. Maka itulah yang kutanyakan tempo hari di BB, sampai kapan kita akan terus begini. Karena itulah jawaban yang pasti, sebelum menerimamu menjadi suami’

Fahri terdiam. Matanya memandang warna keemasan di langit yang mulai membayang.

‘Kamu ngerokok lagi?’ tanya Dea pelan.

Fahri tak menjawab. Keresahannya membuat ia melanggar janjinya pada Dea, untuk menghentikan kebiasaan merokoknya, sejak Dea memintanya setahun yang lalu. Ia lakukan, meskipun Dea tak akan tahu, di eksplorasi ia merokok atau tidak. Namun ia lakukan, sebagai bukti keseriusannya. Sekarang, saat semua nampaknya tak bisa dipertahankan, ia kembali ke kebiasaan lama.

‘Rasanya,..tidak ada titik temu..betul begitu, De?’ Fahri menguatkan diri menatap kekasihnya. Ia akan merindukannya.

Dea terdiam. Semua yang sudah mereka lalui, nampaknya belum cukup untuk membuat saling mengerti.

‘Sudah cukup ya, Fahri’ hanya itu yang ia bisa katakan dengan suara tercekat. Sudah cukup segala penantian ini. Sampai kapan ia harus menunggu Fahri. Fahri yang katanya mencintainya, namun untuk melepaskan pekerjannya saja belum bisa.

Fahri tersenyum dengan terpaksa. ‘Dea,..kita..berteman?’

Dea menggeleng dengan tegas. Ia masih punya harga diri. Untuk lelaki yang tidak bisa memprioritaskan dirinya, ia hanya ingin sosok itu enyah saja.

‘Sudah cukup’ kata Dea pendek. Pandangannya lurus ke depan, namun tak menatap Fahri

‘Emh..baiklah. Aku..pergi dulu. Kau..bisa pulang sendiri?’

Dea mengangguk tanpa memandang Fahri. Fahri bangkit berdiri. Sejenak ia nampak seperti hendak mengatakan sesuatu lagi, namun dibatalkannya. Dengan langkah cepat ia berusaha melawan pasir yang terasa menghisap langkahnya.

Dea terdiam sejenak di kursi. Kemudian ia bangkit, melangkah ke tepi pantai dengan pelan. Suasana sedang ramai, karena pengunjung yang akan makan malam mulai berdatangan. Namun hatinya mendadak sepi, seperti matahari yang kini bersembunyi .

20130131-061048.jpg

Advertisements