Ngemong Cucu

20130129-231027.jpg

‘Minggu depan aku ke luar kota’
‘Aku juga. Trus anak-anak sama siapa?’
‘Mamah?’

Aslinya sih ini bukan pertanyaan yang memerlukan jawaban, mengenai haruskah sang Eyang Putri ini diimpor untuk menjaga anak-anak selama kami dinas ke luar kota, karena suami untuk urusan ini sudah pasti seia sekata. Kebetulan waktu itu asisten rumah tangga dan suster pulang di saat yang sama.

Kalau diruntut ulang, bukan sekali dua kami minta orang tua kami yang berada di luar kota untuk datang dan menemani anak-anak jika jadwal kami berbenturan seperti ini. Untunglah kedua orang tua kami rela saja datang dan dikaruniai kesehatan, sehingga berkunjung untuk menemui dan menjaga cucu tidaklah masalah.

Rasanya hal itulah yang kebanyakan terjadi di Indonesia. Para lansia, yang memiliki cucu atau buyut, akan ‘kebagian tugas’ untuk ‘ngemong cucu’ atau merawat dan menjaga cucu. Hal ini dipandang sebagai suatu kewajiban, jadi meskipun Yang Ti lagi ngga kepingin pergi, tetap saja diusahakan mengunjungi cucu tersayang.

Padahal kalau saya perhatikan tante yang tinggal di luar negeri, no ngurus deh sama yang namanya cucu. Jadi biarpun dia tahu dalam rumah anaknya ada lima cucunya, TANPA asisten rumah tangga, sang anak dibiarkan saja mengurus semua sendiri. Bahkan alih-alih menitipkan ke orang tua yang tinggal di satu kota, para orang tua ini menyarankan atau memasukkan cucunya ke child care (tempat penitipan anak).

Kalau cucunya nurut-nurut mungkin masih mending. Ada juga yang bandel, sehingga mengejar-ngejar cucu sungguh bukan olah raga yang baik bagi Yang Ti dan Yang Kung yang sudah uzur. Sehingga dibutuhkan kepekaan pihak orang tua sebagai yang menitipkan anak, untuk mempersiapkan fasilitas, mental anak dan Yang Tinya agar dapat saling mengerti. Yang Ti ngga kecapekan, cucu juga ngga tambah manja.

Jadi value menjaga cucu untuk masing-masing lansia ini berbeda. Ada yang tersinggung karena jarang dititipi cucunya, dan senang begitu dititipi. Ada yang tidak suka ketika ada permintaan menjaga cucu. Karena

‘dulu waktu muda sudah capek ngurusin anak, masa’ begitu sudah tua disuruh momong cucu?’.

Alasan yang logis sih, harusnya masa tua kan senang-senang saja, setelah berpuluh-puluh episode kehidupan dilewati. Ada juga yang seperti orang tua kami. Selalu menelepon menanyakan kabar cucu-cucu, dan siap sedia jika diperlukan.

***
sumber gambar : pinterest.com

Advertisements