Bokisnya Jurnalis Gosip

20130127-104506.jpg

Rasanya seperti digampar.

Barusan saja tobat dari dunia pergosipan karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, buku yang sudah saya endapkan selama seminggu ini akhirnya habis terbaca juga. Ditulis oleh Maman Suherman, jurnalis yang sudah malang melintang di Tabloid Citra, Nova, membidani Panasonic Awards dan Mata Hati di KompasTV. Buku ‘Bokis, Kisah Gelap Dunia Seleb‘ dicetak oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada bulan September 2012, dan terdiri dari 124 halaman. Bahasanya ringan, khas tabloid gosip (mungkin juga karena materinya juga ringan), hingga tak sampai satu jam buku ini sudah habis saya lahap.

Kenapa seperti digampar?

Sebelumnya saya sudah pernah baca sih kehidupan seleb yang penuh warna,
kebanyakan warna yang gelap, dari media internet. Tapi semua ditulis dari ‘sumber yang layak dipercaya’. Pak Maman ini, saksi matanya, bahwa memang benar hal-hal seperti itu ada.

Hal-hal seperti apa?

Bahwa ada ibu yang rela (atau tega) menyerahkan anak gadisnya ‘untuk diapain aja’ demi pemberitaan di media. Atau seorang bapak yang keluar miliaran agar anaknya terkenal. Atau seorang (mantan) suami yang mengundang para jurnalis, untuk menonton video aborsi istrinya.

Ada teknik ‘damping’ untuk menutupi suara artis yang ngga bagus amat tapi nekat rekaman dan show. Pemberian gelar doktor asal membayar sejumlah uang. Penjualan kursi waktu acara penghargaan.

Cerita lainnya, yang mungkin paling seru, adalah narsum (nara sumber) yang mesum. Jurnalis sering salah tingkah saat dihadapkan pada artis yang ‘berani’, termasuk buka BH di depan mata. Atau digoda oleh narsum dengan gender beda maupun sama, pakai dijanjiin ke luar negeri segala, asal jadi pacarnya.

Kisah perceraian menjadi topik berita yang tidak disukai Pak Maman, tapi apa boleh buat tetap harus diliput demi atasan. Masalahnya kadang jurnalis jadi berada di tengah peperangan, antara si artis dan pasangan. Sedangkan naik haji karena dibiayai perusahaan, jadi kisah manis bagi Pak Maman.

Cerita yang seru, yang jadi favorit saya adalah kisah meliput artis primadona. Sudah siap di tempat syuting di Puncak sejak pagi, si artis ternyata terlambat datang…mmm…sekitar 8 jam deh (ini telat apa salah jadwal ya…). Begitu nyampe, langsung minta kru untuk beliin nasi Padang…
.
.
….yang di jalan Sabang (Jakarta Pusat). Apa boleh buat, seorang kru dan sopir terbirit-birit turun ke Jakarta, nyampe Puncak lagi jam 9 malam, dimana si artis sudah ngga selera makan.

Pengen jedotin kepala?

Jangan. Karena kisah romantisme jurnalis dan narsum ternyata ada juga. Witing tresno jalaran saka kulina. Jadi kalau semua sedang heboh di kantor karena dikejar deadline, lalu ada kiriman steak Abuba, nasi goreng Kebon Sirih, fried chicken atau pizza, berarti ada jurnalis dan narsum yang lagi berhubungan. Demikian juga kalau tiba-tiba kiriman terhenti, berarti mereka abis putus. Yang paling seru, kalau ada berita narsum sedang di ambang perceraian karena pihak ketiga dan semua media memberitakannya, KECUALI satu media yang biasanya terdepan dalam pemberitaan, maka bisa disimpulkan jurnalis media tersebut yang menjadi pihak ketiganya.

Wew.

Berbagai strategi jurnalis juga diungkap di sini. Strategi kloning, mengubah ‘off the record’ menjadi ‘terpaksa tayang’, membuat satu berita jadi banyak berita, dan berita buatan. Terkait dengan hal tersebut, terdapat satu puisi inspiratif dari Ayip Rosidi.

Angka-angka dan Tanda-tanda
Buat Anwar

Dalam penerbangan menuju Phoenix
Stewardess bertanya “Di mana Tuan akan turun?”
Dan orang tua renta di sebelahku mengangkat kaca mata,
“Tak tahu dimana.
Tolong lihat barangkali dalam tiket ada tercatat.”

Perjalanan dari satu ke lain tempat
dari kota ke kota: selalu sama.
Bagaikan si orang tua yang tak tahu lagi mau ke mana.
Semuanya sudah terserah, diatur dalam acara:
huruf-huruf, angka-angka dan tanda-tanda
Yang tak semuanya dapat kupahami.

“Tolong lihat
dalam tiket semuanya sudah dicatat.”
Lalu aku pun tidur
karena semuanya toh sudah diatur.

1972
***
Bokis : Bisa Aja

Advertisements