Katanya Kamu Ingin G-Note

20130113-023407.jpg

‘Bagus ya’ katamu waktu kita jalan-jalan ke mall.

Aku hanya mengangguk. Memang bagus. Tampilannya, canggihnya, dan terutama, karena kamu suka.

‘Lihat nih, bisa pakai stylus’ kamu mulai mencoba menggerakkan sesuatu yang nampaknya seperti pulpen kecil bagiku. Kamu tersenyum senang, persis seperti anak kecil yang lucu. Ah, aku ingin mengabadikannya dalam ingatanku.

‘Bisa buat apaaaaa aja’ kamu mulai mengetukkan jarimu. Indah, aku juga mau disentuh jari lentikmu…

Lalu kau letakkan benda itu kembali ke meja. ‘Sayang, mahal’ cengiranmu yang sambil lalu itu malah membuatku penasaran. Apa sih nama benda itu? Dengan cepat kucek papan display..oh…Galaxy Note. Berapa sih? Hah? Tujuh juta?? Untuk benda kecil itu?

Kau menarikku keluar dari ruangan itu. Lenganmu memeluk lenganku. Tapi saat itu juga pikiranku sudah melayang. Benda itu, nampaknya cocok untuk hadiah ultahmu. Kau sangat menginginkannya. Ah, aku ingin melihatmu bahagia.

Kini ku tak konsentrasi lagi mendengarmu bercerita, saat kita makan di foodcourt. Kepalaku sibuk berhitung. Tujuh juta, itu sama dengan gajiku dua bulan. Itu dengan syarat aku ngga makan, ngga ngekos, daaaaan…. jalan kaki ke kantor. Bisa ngga yaaaa…pikiran gila mulai melanda. Apapun, demi cinta.

Rasanya kau sadar aku tak perhatian. Kini kau diam, cemberut. Sudah melipat tangan. Gelagapan aku berusaha kembali perhatian.

‘Loh..kok jadi diem aja? Cerita dooong’ kataku membujuknya.

‘Ngga! Kamu ngga dengerin!’ kamu merajuk.

‘Dengerin kok. Ayo dong, cerita lagi’ kataku dengan nada makin lembut.

‘Coba ya, tadi aku cerita sampai mana?’ matamu menyelidik.

Ah? Mana aku tahu dari tadi kamu cerita apa. Aku terdiam.

‘Tuuuh kan!’ katanya marah ‘Kamu tuh mikir apaan sih! Lagi berdua sama pacar kok malah mikir lainnya. Mikirin siapa?’ Aku menangkap nada kecemburuan di sana.

‘Ah, ngga ada’ kataku biasa.

‘jangan bohong!’ singkat sih, tapi setelah itu dia bangkit dari kursinya, hendak pergi.

Dengan segera aku berdiri dan mendekatinya. Kulingkarkan lengan di bahunya. ‘Hei, jangan ngambek dong! Yuk, duduk lagi!’ Aku bimbing dia kembali ke kursinya.

‘Mikir siapa?’ agak malas-malasan dia duduk kembali.

Kuputuskan untuk jujur. ‘Bukan siapa, tapi apa’

Dengan tatapan heran kau bertanya ‘Eh, apaan memang?’

Kujelaskan apa yang kulihat, kupikirkan, kusimpulkan, termasuk bagian ‘puasa 2 bulan’.

Kau tertawa. Gigi putih yang mungil itu terlihat menggemaskan.

‘Kau konyol’ katanya ‘Jadi, kalau aku ngomong sesuatu itu, bukan berarti menyiratkan keinginanku. GNote, hanya ucapan selewat saja. Tapi…kini aku tahu intinya..’ kau tersenyum, manis sekali.

‘Bahwa kau cinta aku. Sampai rela kau korbankan kebutuhanmu.’ Kini giliran aku yang tersipu.

‘Bodoh.’ katamu pelan, sambil nyengir malu.

Oh Tuhan, untunglah dia menjadi sensorku. Mengingatkanku bahwa untuk mempertahankannya, ia hanya butuh perhatianku…
***
sumber gambar: 123rf.com

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s