Kemiskinan sebagai Komoditi

20130101-095623.jpg

Kemiskinan, adalah bahan yang tak akan pernah ada habisnya untuk dibahas, untuk diteliti, untuk dianalisis, dimaki dan diperdebatkan dalam lingkup publik. Mau di dunia nyata dalam bentuk seminar, diskusi, focus group discussion, rapat ini itu dan lain-lain, atau dunia maya dalam bentuk diskusi dalam forum, reportase, opini, karya seni seperti film, tulisan, lukisan atau lainnya.

Bahan yang tak pernah habis, karena kemiskinan sudah menghiasi negeri ini beratus tahun lamanya, tersebar dimana-mana, dengan berbagai bentuknya. Sebenarnya fokus masalah bangsa ini ada di kemiskinan, bukan di lainnya. Coba kalau semuanya hidup cukup, apa ada masalah di kesehatan, pendidikan, politik, keamanan, dan yang paling penting, keberagaman?

Kemudian, kemiskinan itu subyek atau obyek?

Jika kemiskinan adalah subyek, maka apapun yang kita lakukan atas nama kemiskinan, akan dilandasi oleh rasa prihatin yang jujur, ingin membuat orang lain merasakan hal yang sama, dan berkeinginan untuk melakukan perubahan pada subyek tersebut. Keinginan diikuti dengan tindakan nyata, tidak perlu menunggu gerakan massa atau menunggu orang lain terpengaruh, tapi dimulai dari diri sendiri.

Jadi, kita memang telah membuat tayangan menarik mengenai kemiskinan agar banyak orang tersadarkan, tapi dari diri kita sendiri juga bergerak dengan, misal, membagi nasi bungkus tiap Minggu pagi. Gerakan sederhana, biasa, bahkan cenderung naif karena seperti membuang garam di lautan, namun apapun itu asal digerakkan oleh hati nurani, menjadi berarti karena ada tindakan nyata.

Sebaliknya, jika kemiskinan adalah obyek, maka apa yang dibicarakan hanya menjadi wacana. Bilang ini itu, harus ini itu, dianalisis dari segi ini itu, tapi tidak ada tindakan nyata dari pemrakarsanya, atau orang yang terlibat di dalamnya. Kenapa bisa seperti itu? Karena dasarnya bukan prihatin dan ingin memperbaiki, namun karena rating, kepopuleran, perhatian yang akan didapatkan, atau aliran dana yang akan masuk. Kalau perlu, kemiskinan diciptakan, diperparah dampaknya, dipertontonkan kemana-mana, tapi hanya kelihatan permukaannya saja.

Kemiskinan akan menjadi komoditi.

Komoditi untuk mendatangkan keuntungan bagi penciptanya atau orang yang terlibat di dalamnya. Dan maaf saja, kok tega sih? Sudah miskin, dimanfaatkan pula. Ada yang memanfaatkan hanya di media, namun ada juga sampai ke nyata. Menambah kocek pribadi atau membuat mereka makin miskin dengan sengaja melakukan pembakaran misalnya. Banyak koar-koar, tapi tindakan nol besar.

Tapi bisa saja saya salah. Saya yakin di antara para pembaca, atau mereka yang ada di luar sana, ada yang melakukan tindakan sosial, rutin, bukan dadakan, dalam sisa umurnya, setulusnya. Ada yang aktif di panti sosial, menjadi penyumbang tetap di panti asuhan, mengurusi anak jalanan. Bahkan satu pembicaraan dengan salah seorang Kompasianer saat saya menanyakan kabarnya, dia menyatakan telah keluar dari pekerjaannya, aktif di LSM yang concern ke masyarakat pinggiran. Saya, dengan kurangajarnya bertanya, lalu gajinya dapat darimana? Saya selalu kagum dan ingin tahu, bagi mereka yang rela melepaskan pendapatan tetapnya untuk memperhatikan sesama.

‘Ya seadanya’

Hiks. Tambah kagum saya. Buat saya pribadi, saya belum bisa seperti dia, yang mengabdikan hidupnya bagi orang lain. Namun saya telah menemukan caranya, dan semoga bukan hanya resolusi awal tahun saja, apalagi kalau cuma wacana.
.
Sumber gambar:polyp.org.uk

5 comments

  1. Orang-orang seperti alm. suster Teresa itu yang benar-benar mengabdikan diri untuk kemanusiaan lalu memilih untuk peduli dan mengurusi yang paling miskin dari yang termiskin, memang hanya orang-orang pilihan deh (nggak sanggup kalo musti kayak gitu). Masalahnya, ngasih ke pengemis lebih mudah untuk ego kita sendiri (merasa sudah berbuat baik dengan sekeping 500 atau 1000 rupiah, murah-meriah dan tanpa komitmen, padahal memanjakan masalah), ketimbang menyisihkan sebagian kecil (katakanlah 500ribu/bulan, misalnya) secara rutin dan tercatat untuk sebuah lembaga tertentu, pasti rasanya jadi masalah, wkwkwkwk…

    • Katanya Sujiwo Tejo, kasihan adalah kesombongan yg mellow šŸ˜€
      Jd dgn memberikan sejumlah uang yg ngga bikin kita miskin, sebenarnya kita menyelamatkan diri sendiri dr rasa bersalah šŸ™‚
      Masalah kemiskinan, bukan sekedar nyumbang, tp memberdayakan.

      Trims sdh beli ‘ketengan’nya mbak G šŸ˜€

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s