Kenapa Hanya

20121210-235812.jpg

17:05
‘Salam buat masmu ya Ve’

Ve mengangguk. Joy menggunakan helmnya, menyalakan motornya, dan memacunya ke ujung jalan. Ve menutup pintu pagar. Senja yang aneh.

Joy, teman baiknya, datang hanya untuk mengatakan, besok ia tak bisa mengantar jemputnya lagi. Ve tanya kenapa, Joy terdiam sejenak, sebelum menjawab ‘Hanya tidak bisa’.

Ugh, OK. Padahal rumah mereka sejurusan, dan nebeng motor Joy lumayan menghemat ongkos transpor Ve. Bisa disimpan, dan sesekali mentraktir Joy es krim, upah karena sudah setia mengantar jemputnya selama ini.

Mas, katanya mau pulang minggu ini. Kerja di luar kota, dan mulai minggu depan dinas di sini. Joy tahu Mas akan pulang…eh, apakah dia mengira Mas yang akan antar jemput Ve ya? Ah, boro-boro, Mas kan sibuk sekali. Mana sempat jemput anak SMA ngga jelas ini. Paling Jumat malam Mas sudah muncul di rumah Ve, seusai kerja. Sabtu Minggu ya acara mereka berdua. Nah, Senin hingga Jumat siang, mestinya tak apa kalau ada Joy. Cuma teman ini.

Teman ya? Ve jadi ingat, Joy ini sungguh teman yang baik. Selain rela jadi supir, dia juga rela nungguin kalau Ve harus pulang siang karena kena remidi. Joy akan menemaninya mengerjakan tugas sekolah. Dia, juga rajin dengar curhat Ve yang galau, apalagi kalau bukan masalah jauhan sama Mas.

Mm..Joy? Kok…jadi lucu ya…kalau ngga ada dia. Besok Ve pasti sudah nongkrong di pinggir jalan, ngeliatin angkot yang lalu lalang, mencegat salah satu, dan duduk bengong di dalamnya. Jelas bengong, emang mau cerita ke siapa? Selama ini kan ada Joy, yang meskipun Ve ngga yakin dia mendengar karena telinganya tertutup helm, tapi tetap Ve akan bercerita macam-macam.

Joy…
….kenapa kita hanya ya…
…..adakah rasa…
…..tapi apa bisa…
ah, ngga tahu deh!

15:45
Ve sudah diantar ke rumahnya. Seperti biasa dia mengucapkan terima kasih, memberi Joy senyum termanisnya, dan menatap sampai Joy menghilang di belokan. Sudah Joy paksa untuk masuk pagar duluan, biar dia aman. Tapi tak dia dengar nasehat itu, selalu maksa mengantar dulu dengan matanya.

Kini Joy sampai di rumahnya. Joy terheran-heran melihat ada sebuah mobil parkir di depan pagar. Tamu Ayah? Masa’ siang-siang begini. Ibu menyambutnya.

‘Joy, ada yang cari tuh.’

Dengan penasaran Joy melangkah ke ruang tamu. Seorang pria dewasa, berseragam coklat khas pegawai negeri, bangkit dan menyalaminya. Dia sebutkan nama, namun Joy sudah tahu. Fotonya pernah dipamerkan. Mas.

Joy mempersilahkan tamunya duduk kembali. Nampaknya Ibu sudah buatkan teh untuknya. Syukurlah, jadi Ibu tak perlu hadir di ruang tamu.

Mas memandang Joy tajam. Perlente, gumam Joy dalam hati, pantes Ve mau.

‘Joy, sorry saya ke sini. Langsung aja ya, saya tahu dari informan saya, dia sering lihat kamu dan Ve bersama -sama. Ve memang sudah minta ijin saya, supaya boleh diantar jemput kamu. Tapi, yang informan saya lihat dan ketahui, rasanya bukan hanya sekedar antar jemput saja,’

Joy menghela nafas mendengar rentetan kalimat panjangnya. Akhirnya..kedekatan Joy dan Ve menarik perhatian orang juga.

‘Dia bilang, kau sering kedapatan sedang menatap Ve dari kejauhan. Kadang, kau mengacak rambutnya….. dengan sayang.’ Joy ragu dia yang terlalu sensitif atau gimana ya, tapi Joy rasa suara Mas tadi agak tercekat.

‘Terakhir, informan saya bilang, kamu sampai berantem dengan anak kelas tiga yang naksir Ve. Maaf Joy, tapi teman ngga akan belain sampai segitu rupa’.

Joy diam. Serasa ditelanjangi. Perkelahian itu…

‘Jadi Joy, saya minta, mulai besok ngga usah ketemuan lagi sama Ve. Antar jemput, biar dia pergi sendiri saja. Satu lagi, kau harus tegas padanya, jauhi dia.’

Tanpa sadar Joy mengepalkan tangannya. Harga dirinya sebagai laki-laki dipertaruhkan.

‘Kami akan tunangan Joy. Kedua keluarga sudah mengetahui hubungan saya dengan Ve, dan sudah merestui. Kau sendiri, maaf ya, sudah tahu dengan siapa Ve akan lebih bahagia. Dengan pria dewasa yang sudah mapan, atau anak SMA yang belum jelas masa depannya?’

Kurang ajar! Joy Ingin menghantam si perlente ini! Tapi..perkataannya benar. Kalau cinta, maka kita ingin dia bahagia. Dan bersama Mas, mungkin itulah yang diperlukan Ve…

‘Mas, aku ngga ada apa-apa sama Ve. Kalau Mas mau, bahkan habis ini aku akan ke rumahnya lagi, dan bilang padanya ngga bisa antar jemput dia lagi. Di sekolah, gampang saja aku menjauhinya. Meja kita jauh kok, dan setiap istirahat ku akan memilih untuk menghindarinya.’

Mas mengangguk tanda setuju. ‘Tolong ya Joy’. Huh, tak ingat dia betapa dia telah menghina Joy tadi.

Maka sehabis Mas pulang, Joy pamit pada Ibu dengan alasan mau pinjam buku teman. Sepanjang perjalanan ia siapkan berbagai alasan, kenapa tak bisa antar jemput Ve lagi. Tidak bisa. Yang muncul malah pertanyaan-pertanyaan….

Ve….
….andaikan………
….tak sekedar….
….tak ada Mas…
,,,,apa kita bisa…
…..Hhhhh….

@@@
Sumber gambar : jcords.deviantart.com

.

IndriHapsari

Advertisements