Goosebumps: Penulis Fiksi, Bagaimana Kalau Kisahmu Jadi Nyata?

image

Goosebumps, picture by Sony

Di luar dugaan, film yang saya hindari karena :
1. Serem
2. Cerita anak-anak
ini, mampu menyedot perhatian saya sampe ngga sempet ngecek handphone 😀 Ih gampang banget ya menilai keasyikan suatu film 🙂

Goosebumps sudah terkenal wujudnya dalam buku serial, ditulis oleh R. L. Stein. Nah film ini nyeritain sosok misterius Stein (yang diperankan oleh si Kungfu Panda) yang dengan mesin ketik (!) ajaibnya, mampu menciptakan monster-monster seperti Yeti, zombie, boneka tongki (asli nyeremin :D), kelelawar penghisap darah, manusia serigala…name it. Pokoknya semua yang mampir di mimpi buruk, semua ada 😀

Masalah muncul ketika Zach si pemeran utama ngga sengaja ngebuka buku yang berkunci itu, dan buku yang terbuka itu mengeluarkan mahluk buas ciptaan Stein yang jadi tetangga Zach. Pemecahannya sih simple, mahluknya bisa dimasukin lagi ke buku. Masalahnya jadi tambah besar, ketika si Tongki yang berhasil keluar membakar bukunya sendiri, mencuri seluruh buku, membukanya (plus membakarnya) satu-satu.

Maka dikejar-kejarlah Zach, teman Zach, cewek Zach yang juga anaknya Stein, dan Stein oleh mahluk-mahluk ciptaannya. Mana si sutradara ngga mau liat penonton nganggur, jadi adegan meloloskan diri itu ngga lama, tau-tau sudah muncul lagi mahluk lainnya. Setting ceritanya juga mampu membuat kota pinggiran ini jadi terputus dengan dunia luar.

Film ini dibuat oleh Sony, dan untunglah meski sponsornya kenceng, ngga senorak Hotel Transylvania 2 yang bentar-bentar memunculkan handphone Sony.  Film ini hanya memunculkan dua kali handphonenya, itupun ngga segitu jelas. Adegan berikutnya adalah menara teleponnya dimakan tumbuhan pemakan daging, sehingga sinyal putus. Abis dah adegan sponsor.

Awal dari film ini memang kurang menjanjikan, kaya adegan-adegan di High School Musical. Tapi berikutnya…brrr…antara tegang dan ketawa itu tipis bedanya. Kritikus juga memberi tanggapan positif, meski ada juga yang bilang, film ini malah mengajarkan pada anak-anak bahwa buku itu bisa begitu menakutkan 😀

Ngebayangin Stein menulis tokoh-tokoh ciptaannya karena kebencian ke orang-orang yang mengejeknya karena dia aneh, dia tentu ngga nyangka penulisnya bakal dikejar-kejar monster rekaannya. Katanya penulis fiksi itu sebaiknya membebaskan imajinasi liarnya. Hmm, kok rasanya saya ngga akan pernah mencapai ke sana, meski pakai anonim sekalipun. Karena menulis itu pertanggungjawabannya ke Tuhan dan manusia. Apa yang kita tulis itu ada manfaatnya bagi manusia, dan apa sesuai dengan yang Tuhan inginkan.

Ah, kok jadi serius gini 🙂 Hayuk nikmati saja Goosebumpsnya.

***
IndriHapsari

Advertisements