Unforgettable Moment: Opening Ceremony Asian Games 2018

Sebagai bukan pecinta olahraga, momen Asian Games ini awalnya ngga terlalu membuat saya antusias. Malah awal suka salah sebut jadi Asean Games, karena beberapa spanduk dan media menyampaikannya begitu (iya, salahin aja terus 😁). Tapi karena yang kecil pingin lihat pertandingan badminton, dan saya ogah, akhirnya saya tawarkan kalau liat opening ceremony mama mau ikut. Ngalahlah si kecil (iya, mamanya emang menangan ☺️) dan saya mulai cari tiket. Tentu aja setelah melihat tanggal itu memungkinkan ngga bagi kita, terutama anak2 untuk ke Jakarta. Selain itu juga liat harga tiket paling murah masih bisa dijangkau apa ngga.

Momen Asian Games ini emang istimewa. Mengingat terakhir tahun 1962 berlangsung di negara sendiri, mungkin ini bakal jadi momen seumur hidup. Istana kepresidenan meminjamkan beberapa koleksinya ke Galeri Nasional Indonesia dari tanggal 3-31 Agustus 2018, isinya lukisan dan beberapa benda seni lainnya. Yang terkait dengan Asian Games, ternyata tahun 1962 Presiden Soekarno menantang pematung Edhi Sunarso untuk membuat 3 patung spektakuler untuk menyambut peserta. Salah satunya patung selamat datang yang ada di bundaran HI. Tahun segitu ya, Pak Karno sudah sadar diri bikin sesuatu itu harus yang megah biar dipertahankan dan diingat terus.

TIKET

Belinya cukup mudah bagi kita yang di daerah. Dikelola oleh kiostix yang biasa menangani penjualan tiket konser, tinggal masuk webnya, pilih mau tiket apa, berapa banyak dan kategorinya, dan bayar. Setelah itu ada email yang menyertakan e-voucher dan diminta dibawa pas hari H untuk ditukar dengan tiket. Karena kita belinya sudah duluan, panitia belum tahu kita maunya duduk dimana. Seminggu sebelum acara diemailah kita lagi, mau duduk di upper right or left, lower right or left. Tanggal 16 Agustus diemail mau ambil tiket hari dan jam berapa. Itu muncul setelah kehebohan penukaran e-voucher ke tiket.

Saya di daerah sih baca aja kehebohan di TL sambil mbatin, siap-siap aja nih kalau nuker tiket nanti pas tanggal 18 Agustus. Orang-orang Jakarta sih udah pada heboh sejak 16 Agustus untuk tukar tiket di Pejaten kantornya Kiostix. Saya karena jarak ngga bisa mbrubut kaya gitu, jadi pasrah aja lah ntar hari H gimana. Itu orang baik-baik jawabnya aja udah bikin emosi (pas ditanya petugasnya yang tukar tiket dimana, ybs bilang sudah pulang. Itu penonton bisa marah-marah dan viral di medsosnya. Yakali si petugas betah banget di kantor sampe milih ngga ketemu anak istri 😆Kita di posisi itu jamnya pulang ya pulang lah). Apalagi yang jawabnya ketus (‘petugasnya lagi makan. Kalo ngga makan dia mati.’ 🤣 nyari ribut ya mas? 😁) Pada akhirnya hak jual tiket diserahkan ke blibli karena server kiostix down. Dan rating appsnya dijeblokin sama calon pembeli yang sebel.

Pas hari H cek lagi di TL katanya sudah berubah tempat penukarannya di GBK gate 7. Jalan-jalan sudah sebagian ditutup, sehingga kita didrop dekat GBK dan jalan kaki ke sana. Tempat penukaran tiket ada di sepanjang GBK dan berupa kontainer. Satu kontainer untuk satu kategori. Lah sepi gitu kok, kita datang langsung tukar. Tapi ya gitu posisi yang saya pilih sudah ngga ada, ya sudah dapat sisi satunya. Kami ditempatkan di lower left, ya kalau ngga keliatan liat aja layar yang ada tepat di hadapan. Udah lengkap sama nomor kursi biar ngga berantem sama 40 ribu orang lainnya 😁

Mengenai e-voucher yang dikeluhkan kenapa kok ribet amat ditukar sama tiket (ada yang tulis juga habis ditukar tiket tukar lagi sama gelang yang ternyata hoax) baru ketauan pas di dalam. Saya juga beberapa kali beli tiket masuk dapatnya e-voucher yang harus diprint, atau diemail, atau langsung masuk ke iWallet. Hal itu bisa dilakukan kalau pemeriksaannya sekali. Nah GBK itu kan arena terbuka yah meski sudah dibatasin, ada petugas, pemilik stand, dan orang-orang lain yang memang sudah ada di dalam. Pemeriksaan tiket pertama dilakukan di gerbang, sekalian sama detektor. Sudah dibilangin ngga boleh bawa barang berbahaya, makanan dan minuman. Habis melewati arena panggung dan stand, lanjut ke arena sekeliling GBK, tiket diperiksa lagi dan demikian juga tas. Kita naik ke gate 10, trus lower itu mesti naik lagi satu tingkat. Pas naik itu ada botol mineral aneka merk berjejer karena ngga boleh bawa minum tadi, padahal mungkin sudah belanja di dalam arena. Trus mau masuk pintu kita, dicek lagi tiketnya. Di dalam banyak petugas yang siap mengarahkan kita mesti ke baris mana. Nomornya tertera di kursi.

Kejadian gini menurut saya bukan totally salahnya kiostix. Dianya kurang edukasi penonton, ngga responsif dan adaptif. Uda gitu dapat calon penonton yang hobinya viral. Klop dah 🤣

PERTUNJUKAN

Pas masuk ke arena sudah keliatan megahnya. Bendera semua negara peserta dipasang di atas. Ada orang yang sliweran di atas. Trus tengah lapangan ditutup kain hitam. Ada panggung berbentuk replika bukit dan tumbuh-tumbuhan di tengah. Di depan kita ada layar, kayanya di atas kita juga buat yang duduk di lower right. Di depan panggung ada area luas, trus panggung kecil di antara deretan kursi hitam. Acara dibuka oleh Ronald dan Tike yang berbaju sporty. Beberapa kali kita dilatih nyanyi dengan gaya Garuda di Dadaku dan tarian flashlight dari HP. Ya seru aja sih interaktif gini maunya, penonton ikut terlibat.

Sebelum acara jam 7 malam kita dihibur masing-masing tiga nyanyian oleh Evi Masamba dan Citra Scholastika. Trus udah tau kan ya urutan acaranya. Kalau laporan pandangan mata, kejutan pertama itu pas Pak Jokowi video naik motornya kaya stuntmannya Disney 😁 Kita juga lagi heboh sama Mission Impossible kan, jadi kedatangan Pak Pres yang bagai hero itu disambut gegap gempita sama penonton di stadion. BerikutnyaTari Saman yang breathtaking moment banget. Ribuan penari dengan kompak memainkan gerakan yang cepat, trus gimana ceritanya sih bajunya jadi warna warni padahal semula putih 😅 Itu saya lihat ulang videonya ngga nemu triknya. Parade kontingen juga bagus. Baju model Garuda itu emang eyecatching banget ya, jadi inget kostumnya Jember Fashion Carnival (yang ternyata baju-baju itu Dynand Fariz dan Rinaldi yang rancang). Tim Palestina ditepokin paling lama. Korea disambut meriah karena mereka muncul bareng antara Korea Utara dan Selatan, pakai bendera putih trus ada pulau Korea warna biru. Pantesan pas nunggu di Plaza Senayan ketemu beberapa orang pake kaos ini, jadi mikir ini kontingen mana ya. Baguslah ketok rukun gitu 😁 Cina kontingennya paling banyak, di luar tuan rumah. Apalagi kalau Hong Kong, Makau dan Taiwan yang sekarang berembel-embel Cina itu jadi satu. Tim Nepal disorakin karena pembawa benderanya koloran doang 😆 Tim Indonesia paling banyak dan kayanya kok ngga berhenti-berhenti. Selesai lewat lapangan mereka ditempatkan di tempat duduk tengah di lapangan.

Penyanyinya emang yang suaranya yang meyakinkan, mungkin bisa cek siapa aja yang tampil ya. Selain suara, penampilannya mesti memukau karena ini kan orang cuma mengandalkan layar ya untuk melihat ini siapa sih yang nyanyi. Sayang sih layarnya ngga menampilkan siapa yang lagi nyanyi, jadi suka ngga tau ini siapa ya. Kecuali yang nyanyi full satu lagu kaya Raisa, atau yang diperkenalkan seperti Anggun atau Tulus. Via Valen sendiri sebagai penyanyi theme song penampilannya kurang heboh. Ya dari baju ya dari gaya. Malah gaya Presiden Jokowi yang disorot di layar dengan gaya goyang dayungnya yang bikin penonton semangat lagi.

Yang luar biasa itu tata panggung dan tata lampu. Panggungnya yang miniatur perbukitan itu bisa ngeluarin air terjun, trus dengan efek laser bisa mengubahnya jadi di tengah rerumputan, tepi pantai atau laut sekalian. Panggungnya sendiri punya gunung besar yang awalnya hijau bisa kaya puncak gunung berapi. Trus penari dan atlet yang estafet mengantarkan obor bisa naik turun di panggung yang kayanya aman. Ngga ada kejadian salah langkah hingga ngglundung misalnya 😅 Karena naik turun di tangga biasa aja resiko itu ada, apalagi naik turun tangga settingan dan lampunya suka gelap. Oya yang masif lainnya ada kapal gedeee tiba-tiba muncul dari pintu kanan. Melintasi panggung trus setelah aksi dan nyanyinya, menuju ke pintu kiri, dekat kita sih. Tadinya mau ngawasin gimana cara lewatin pintunya dengan tiang setinggi itu. Eh ternyata lupa karena pertunjukan di panggung lebih seru daripada mengamati hal-hal teknis 😜

Kalau bicara kembang api, awesome banget bahkan saat dilihat dari bawah. Ini mah namanya tahun baru berkali-kali. Kebayang berapa duit yang ikut ‘dibakar’ 😁 Kembang api macam gini sepertinya ambil vendor dari luar deh, dulu sempat liat film dokumenter tentnang perusahaan yang menangani peresmian gedung di Dubai. Ya rumit gitu, sebelum pelaksanaan mesti ngecek semua nyala ngga dan ngga bisa dicoba ya 😂Trus urutan melesatnya juga mesti tepat. Kita baru tau indahnya pas dari layar ditayangin bentuknya dari atas gimana. Ih bagus banget dari bawah kaya lurus-lurus aja, tapi dari atas bisa kaya spiral gitu. Trus ini baru liat di koran kalau dari kejauhan, bentuknya bisa kaya pohon kelapa gitu ya.

Dipadu dengan tarian yang lengkap banget dari Sabang sampai Merauke, bikin kita ternganga dan diingatkan kembali, kamu itu lo kaya, jangan bermental miskin lah. Orang miskin yang tiap hari rebutan balung di sosmed. Bukannya kerja malah hobinya ngancurin hartanya: persaudaraan dalam perbedaan. Mungkin harus gitu dulu ya supaya sadar apa yang sudah kita lewatkan. Itu negara lain bisa kehabisan konten kalau disuruh peragaan berjam-jam. Ini sampai ngga habis-habis. Penarinya masal, bajunya didesain khusus, dan beberapa perlu keahlian khusus. Misal bermain genderang, aksi akrobatik, dan akrobat dengan api. Ini kalau ngga piawai bisa kena teman sendiri atau temannya. Beberapa kali terlihat apinya jatuh dan stay di lapangan. Dengan sigap petugas memadamkannya dengan sepatunya sebelum jadi lebih besar.

Yang keren juga banyak mantan atlet pemenang medali yang disertakan untuk pengibaran bendera Asian Games maupun penyalaan obor. Duh semoga nasibnya lebih baik ya abis ini. Ngga peduli suku dan agamanya, semua berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia.

PANITIA

Melibatkan 13 ribu relawan, petugas emang banyak banget, muda-muda, dan ramah-ramah kok. Pas kita tukar tiket jam 10 pagi ada banyak yang berjaga di gate dan ada yang pake rompi tulisannya ASK ME. Bahasa emang jadi kendala karena banyak turis asing dan pendukung masing-masing negara.

Sayang pas antri masuk kurang diatur sehingga ada yang nyerobot termasuk kita yang ngga ngerti ini ngantrinya dari mana 😅 Tapi ngantri gini biasa aja, untung ngga ujan. Mungkin setengah jam lah ya, sebelum masuk ke detektor. Di dalam juga banyak petugas yang bisa ditanyai. Selain anak-anak muda itu, ada petugas-petugas juga dari masing-masing instansi termasuk Satpol PP yang menghalau pedagang yang mau jualan di sekitar tanpa ijin. Suasananya itu emang kaya nonton konser musik, bukan kaya mau nonton bola 😁

Pas pulang agak kacau juga, karena pintu stadion cuma dibuka satu. La apa perlunya ya keluar aja mesti antri. Akhirnya setelah umpel-umpelan dan untung ngga ada yang pingsan, pintu yang tengah dibuka. Gitu juga pas mau keluar gate, cuma pintu samping yang dibuka. Pas kita sudah mau melintas, eh pintu tengah yang gede baru dibuka dengan disambut ‘huuu!’ dari penonton. Kaya kurang tanggap gitu. Padahal bagus loh selama perjalanan ke gate itu relawannya jejer dadah-dadah ke kita sambil ucapin terima kasih, trus banyak juga yang nunjukin jalan.

Erick Tohir sendiri baru umur 48 tahun tapi sudah punya bisnis yang maju dan jadi ketua Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc). Dibawa lagi ke Indonesia setelah 56 tahun diselenggarakan di luar negeri. Dengan pelafalan ‘R’ yang kurang jelas, setiap kalimat beliau disambut riuh oleh para penonton. Ketua olimpiade Asia (OCA) Syeikh Ahmad Al Fahad Al Sabah meski berbahasa Inggris ala Arab gitu menyelipkan beberapa kata Indonesia dalam pidatonya dan selalu disambut riuh. Terakhir beliau ngomong ‘saya mencintatai Anda’ yang bikin kita ketawa tapi dimaklumi. Wong berusaha ngomong model kita aja sudah highly appreciated 😊

Terakhir tentu orang-orang dibalik layar. Tanpa mengecilkan arti yang lain hanya karena kekurangluasan pengetahuan saya, Wishnutama sebagai initiator Trans TV dan Net TV memang dikenal karena kreativitasnya. Denny Malik koreografer ternama sejak jaman Jalan-jalan Sore (ups ketauan umur saya 😁). Eko Supriyanto kan yang penarinya Madonna ya…lalu ada Dynand Fariz yang melanglangbuana karena kenekatannya bikin festival karnaval internasional di kota kecil Jember. Rinaldi setau saya perancang busana langganan artis. Addie MS sebagai komposer ya jangan ditanya karyanya apa. Itu yang suka ngramein komennya Mas Addie di Twitter yang perlu ditanya, kerjanya apaan kok rajin amat mantengin cuitan beliau 😂

Kerja keras 1,5 tahun, kerelaan bekerja untuk menyuguhkan karya spektakuler kepada dunia, dan kekompakan lintas etnis dan agama itu yang bikin orang berdecak kagum. Kalau ada yang masih teriak osang asing karena konsultan pertunjukkannya emang konsultan Olimpiade 2016, yang ngatur kembang api juga asing (menurut saya), trus kru videonya juga orang bule yang berlarian terus di lapangan, kene ta kandani. Sampeyan itu harusnya malah bangga, negaranya sanggup mbayar pekerja asing untuk memeriahkan acara 😆

Makasih ya buat semua, sungguh momen yang ngga bakal terlupa 😊👍

***

IndriHapsari

Advertisements