Berani Karena Benar, Takut Karena Salah

 

powergen

Ngga nyangka mesti nulis lagi karena geregetan. Pembiaran terhadap hal yang salah tapi atas nama toleransi (atau takut digeruduk) jadilah persoalan makin besar, pola pikir jadi terbelakang, dan Indonesia tetaplah jadi random country klo ngikutin kata-katanya Justin Bieber. Males banget benernya, tapi teringat quote yang bilang

Kalau Anda bukan bagian dari solusi, maka Anda bagian dari masalah

OK, kalau gitu saya memutuskan untuk mencoba jadi bagian dari solusi 😀

Pemicunya ‘sederhana’ : wabah difteri di pinggiran Jakarta. Simple, tapi bikin nyesek. Urusan yang sederhana, ikutin program pemerintah – vaksin doang – gratis, dibikin jadi ribet seribet-ribetnya sampe nularin yang lain.

Terus terang saya bingung mau nulis dengan urutan seperti apa, sudah seperti benang kusut. Awalnya dibiarin, tapi kalau mau mengurainya, mesti ada yang memaparkan kan sumber keruwetannya dimana, ambil gunting untuk memotongnya, plus menyambung kembali biar benangnya nyambung lagi. Posisi saya mungkin masih di pemaparan, tapi apalah saya kalau cuma sendirian. Perlu banyak orang yang mau berjuang meluruskan penyimpangan.

Saya mulai dari soal wabah penyakit purba itu ya, yang berawal dari penolakan terhadap imunisasi. Tapi entar bakal kena ke hal-hal yang lebih luas lainnya.

Simpul pertama ada di orang-orang yang meyakini bahwa imunisasi atau vaksin itu buruk. Entah buruk secara medis atau haram yang berarti melanggar aturan agama. Saya ngga mau terjebak di pembuktian kenapa persepsi kaya gitu itu serupa hoax. Googling aja sudah banyak penjelasannya kok my luv, jadi bukan karena baca satu buku, satu artikel, satu orang yang diajak diskusi, jadi pembenaran atas sikap primitifnya. Mencari sumber yang kompeten untuk jaman now itu gampang, daripada berselancar di medsos yang isinya ya orang-orang yang sealiran dengan kita, coba deh jalan-jalan ke situs lain yang resmi, yang penulisnya jelas kompetensinya. Ngga susah kok.

Orang-orang yang salah itu, kemudian teriak kemana-mana. Buset dah, apa ngga takut dosa ya. Itu baru ke Tuhannya, belum ke dampaknya ke masyarakat kaya muncul lagi wabah ini karena ada yang nyimpen penyakit di anak-anak dan keluarganya. Benernya kalau menolak imunisasi itu ya anak-anaknya jangan dicampur dengan yang sehat dong, ntar jadi nulari yang lainnya.

Simpul kedua adalah orang-orang yang kena pengaruh. Kalau orang biasa yang dikotbahin tetangganya, yang punya follower dan dipuja pengikutnya jadilah menjadi dalil yang harus diimani. Susah-susah dikasih Tuhan akal ngga dipake, trus ya ngikut aja apa yang diserukan oleh pihak yang ngga kompeten. Kita tuh ngga bisa kompeten di berbagai bidang, dan ngga hanya satu bidang yang superior di dalam kehidupan. Mencari ahli yang kompeten itu juga bagian dari kerja otak loh.

Simpul ketiga adalah orang-orang yang menoleransi kesalahan. Contoh ada beberapa sekolah di Yogya yang menolak pengadaan vaksin bagi murid-muridnya. Ada guru yang diam saja saat ada orang tua yang ngga memperbolehkan anaknya divaksin dengan alasan irasionalitas. Jaman yesterday kayanya ngga ada deh yang begini, vaksin itu kewajiban, bukan pilihan, sehingga kita tumbuh jadi generasi yang sehat. Peran guru dan sekolah sangat besar. Sedih aja ngebayangin kelak ada generasi muda yang kena polio, atau tewas karena pes. Duh!

Katanya kan:

Kejahatan makin banyak bukan hanya karena orang jahatnya bertambah, tapi karena diamnya orang benar

Guru itu, seperti banyak orang benar lainnya, masuk dalam silent majority. Saat ini ya, saya yakin yang waras masih banyak. Tapi karena diam, lama-lama yang major bisa jadi minor loh. Karena yang salah koar-koar, bikin kenyamanan yang benar terusik, akibatnya jadi takut bersuara, takut bertindak dan bisa mengubah pola pikir seseorang jadi ikutan edan.

Persoalan benar salah bukan soal vaksin aja. Banyak loh persepsi ajaib yang muncul di masyarakat, dan udah jadi formula.

Misal, dia dirampok karena kaya.

Dia diperkosa karena bajunya.

Kopernya diacak-acak karena dimasukin bagasi.

Hah, plis deh! Trus apa kabar niat si rampok, niat si pemerkosa dan niat buruk si petugas bandara? Itu loh persepsi yang makin lama makin gawat dan tumbuh di masyarakat kita. Suatu saat pejalan kaki akan disalahkan kalau tertabrak karena berjalan di trotoar.

Persepsi gitu yang mesti berani diluruskan.

Selama ini kita ngga berani karena takut dianggap ngga toleransi, takut dipersekusi, masih ragu sama keyakinan kita sendiri, dan takut-takut lainnya. Padahal kita pihak yang benar loh! Bayangkan kalau para pahlawan kita yang merasa penjajahan ini salah tapi modalnya nggerundel doang, karena sudah diancam plus disuap kekuasaan, upeti dan selir. Ya Indonesia ngga merdeka-merdeka, atau bisa merdeka tapi lama, nunggu dikasih penjajah. Jadi orang benar itu mesti berani. Jangan menciptakan benang kusut sendiri.

Kebingungan pertama biasanya soal kepedean apakah yang kita perjuangkan itu benar. Tuhan kasih akal budi itu biar bisa diolah dan dirasa. Pakai akal kita saat mencari jawaban atas pertanyaan yang maha penting itu. Jangan males karena kita aja susah diyakinkan, gimana orang lain? Jangan langsung ditelan, dikunyah dulu, dirasakan benar ngga nya, baru dah disebar. Kadang suka bingung juga ya karena kapasitas otak manusia beda-beda. Kalau sudah gitu, pake hati nurani. Diturunkan langsung dari Sang Pencipta, kurang canggih apa coba saringannya. Love and humanity itu wajib, begitu hal tersebut dilanggar, o o…kamu kebablasan. Judulnya membela Tuhan, tapi sambil ngepruki lainnya. Mana lovenya, mana humanitynya?

Omongan gini memang bisa ditentang. Jadi biarin aja tuh LGBT karena harus kasih dan atas dasar kemanusiaan? Itulah perlunya punya panduan. Kalau di panduan ngga boleh, ya jangan lakukan. Benci dosanya tapi jangan orangnya. Tegur saudaramu yang melakukan. Cara orang benar itu beda loh…

Kedua, berani ala orang benar itu yang seperti apa? Ia tulus melakukannya. Ya sama kaya ibu yang ngebilangin anaknya jangan gini jangan gitu, itu karena sayang dan ngga mau anaknya kenapa-kenapa. Kita menegur teman karena sayang dia, menegur tetangga karena sayang juga. Nah kalau niatnya sudah tulus gitu, kita akan cari cara yang paling tidak bikin tersinggung, cara halus, dan ngga putus harapan untuk mengingatkan berulang-ulang. Kita peduli atas kesadarannya.

Tegurlah mereka dalam kesunyian, ngga perlu banyak orang yang lihat. Ngga perlu menepuk dada kalau nasehatnya diturutin. Buang semua puja puji dunia. Concern kita sampai membuat yang salah sampai bisa sadar. Tulus itu juga yang membuat kita rela melakukannya berulang-ulang, karena ngomong sama orang yang keyakinannya teguh kaya ngomong sama tembok. Cara yang baik, friendly ini juga punya dampak baik ke penegur dan yang ditegur. Melakukan cara yang baik dengan tidak menyinggung orang lain menyebabkan tidak ada celah untuk jadi alasan persekusi atau pelaporan. Cara yang baik membuat pihak yang ditegur tidak merasa diintimidasi atau dipaksa untuk nurut. Cara yang penuh empati menyebabkan nambah saudara, bukan nambah musuh.

Ada memang orang-orang jahat yang akan menggorengnya jadi bulan-bulanan, ajang untuk membully seseorang. Misal dengan memlintir ucapan, mengedit video, menciptakan histeria massa yang viral dan kemudian karena banyak yang mengamini malah dianggap sebagai kebenaran. Tuhan kan ngga cuma menciptakan malaikat, iblis juga ada dan dilepas ke dunia. Sekarang tugas iblis lebih mudah kali ya karena akal budi manusia lagi dikubur, jadi apa kata orang yang mereka percaya hayo ajah. Iblis menggoda dengan kata-kata yang manis, menakut-nakuti umat ngga bakal masuk surga karena ngga ini dan itu yang masih abu-abu, dan tentu saja mengaburkan makna love and humanity. Padahal mau masuk surga apa ngga, ya itu urusan Pencipta.

Terakhir, orang benar yang bersuara pasti berada dalam perlindungan Tuhan. Yes, Dia Yang Maha Benar dan Maha Tahu akan melihat apa yang sudah kita lakukan, apa yang orang-orang sesat itu lakukan, dan biarlah itu menjadi catatanNya. Di dunia hidup aja sebaik-baiknya, sebenar-benarnya, berani bersuara atas ketimpangan yang terjadi. Berani bertindak meluruskan yang salah. Berani mengungkapkan kebenaran. Tapi semua mesti dilandasi dengan kasih, dengan cara yang benar, untuk meminimumkan konflik dan bisa lebih diterima nasehat kita. Sisanya, diserahkan aja ke Tuhan. Masalah goreng menggoreng, edit mengedit itu kan tergantung yang bayar #eh Maksudnya, itu sudah di luar kuasa kita, siapa juga yang tahu isi otak dan hati orang lain.

Saya yakin mungkin ngga semua orang bakal baca tulisan ini sampai habis, mengingat people jaman now pada males baca (termasuk saya :D). Di antara yang baca sampai habis mungkin ada yang didn’t get the point, bisa aja. Tapi saya percaya tulisan akan menemukan pembacanya, dan yah…ini bagian dari bersuara. Ini bagian dari keberanian dan berusaha membuat berani orang-orang benar lainnya.

Jangan sembunyi. Jangan mengalah. Pilih mau jadi simpul atau gunting.

Kalau orang waras terus-terusan mengalah, lama-lama dunia ini dikuasai orang gila 🙂

***

IndriHapsari

 

Advertisements