Pilihan-pilihan

Sad woman

Kata orang, hidup adalah pilihan. Maka tatkala tiada, sulit sekali untuk melakukannya dengan ikhlas. Namun, ada pula yang menganggap sesuatu sebagai paksaan, karena tak sadar sebenarnya ia masih punya pilihan.

*

Pria setengah baya itu menanti dengan sabar. Tangan kanannya memegang bagian atas gerobak, tangan kirinya menahan pegangan gerobak. Jangan sangka pose itu dilakukan dengan santai. Ia harus bersiap mendorongnya saat lampu hijau menyala. Kanan kirinya adalah sepeda motor yang menyumbangkan asap knalpot yang harus dihirupnya dan memedihkan matanya. Tak heran wajahnya yang penuh dengan kerutan makin terlihat tua, berkat polusi yang ia terima, setiap hari. Bahkan bahan-bahannya jauh terlindungi daripada penjualnya, sayuran dan mie yang telah dibelinya pagi tadi. Belum resiko disenggol kanan kiri entah oleh kendaraan apa. Toh ia tetap melakukannya, mendorong dengan pelan setelah lampu hijau menyala. Bukan maunya dia begitu. Selain motor di depannya belum bergerak, kekuatannya untuk mendorong makin lemah. Jika kendaraan belakang mengerti, mereka berusaha untuk tidak memakinya dengan klakson. Tapi tiap orang berbeda.

Nancy memperhatikan pria itu dengan masygul. Teringat olehnya ayahnya di kampung, syukurlah beliau tidak perlu berkeliaran di jalanan seperti ini. Ia telah membuatkan rumah kecil lengkap dengan isinya, dengan lantai dan tembok keramik warna mencolok, khas orang kaya di desa. Tiap bulan dikirimkannya uang agar ayahnya tidak perlu bingung jika sawahnya gagal panen, atau belum menghasilkan sesuatu untuk dijual. Tahun lalu, ia telah melepaskan ayahnya dari jeratan hutang pada tengkulak, yang membeli hasil panennya dengan cara ijon. Petani selalu butuh uang untuk menyambung hidup, padahal padi mereka baru bisa dipanen setelah 3 bulan. Lalu bulan pertama dan kedua, makan apa? Belum kebutuhan seperti bibit, pupuk dan obat yang diperlukan. Maka menjual saat musim tanam yang menjadi jalan keluar. Koperasi? Ah, kini organisasi tersebut malah tanpa gigi.

“Di Permata, Pak,” kata Roy menyebut nama salah satu hotel pada sopir di sebelahnya. Perutnya makin tambun, lehernya makin konyol dengan belitan kalung emas yang sengaja tak disembunyikan kilauan rantainya. Nancy diam saja, ia masih memandang jalanan. Perasaan jenuh membuatnya mencari-cari apa yang bisa menjadi penyemangatnya.

“Koran?” gerak mulut seorang anak laki-laki yang perlahan mendekat kaca jendela taksi. Nancy menggeleng. Anak itu tidak memaksa, ia segera beralih ke mobil lainnya. Nancy memperhatikannya. Sandal jepitnya sudah tipis sekali. Nancy ragu apakah sandal tersebut dapat melindungi telapak kaki si anak dari panasnya aspal jalanan. Rambutnya sudah kemerahan, efek dari terpapar sinar matahari terus menerus. Badannya kurus, kulitnya kecoklatan, dan raut wajahnya hanya menunjukkan satu hal, ia telah melalui kehidupan yang keras. Bukan raut muka anak-anak yang bahagia, polos dan siap menyongsong masa depannya. Ini raut muka yang berjuang untuk bisa makan.

Teringat oleh Nancy anaknya yang ia tinggal di kampung. Selain untuk ayahnya, ia juga mengirimkan uang untuk keperluan anaknya. Untuk sekolah, uang jajannya, membeli sepeda dan tablet. Kini di kampung sedang musim, anaknya merengek tak mau lagi naik sepeda, tapi ingin bermain game di tablet. Nancy semula agak ragu, karena untuk bermain game pasti harus terhubung ke internet. Nancy tahu, banyak sekali foto dan video porno beredar dan mudah diakses oleh siapapun yang terhubung internet. Ia khawatir anaknya juga akan melakukan hal yang sama, apalagi ayahnya tak setiap saat bisa mengawasi. Namun rengekan anaknya, juga janjinya untuk hanya bermain game saja, meluluhkan hati Nancy. Dikirimnya sejumlah uang, modal membeli tablet di kecamatan, tempat satu toko handphone berada. Oya, Nancy juga mengirim tambahan uang karena ayahnya menginginkan handphone yang bisa memotret. Semoga ayahnya jadi begini bukan karena sedang dekat dengan wanita penjaga warung sebelah.

Taksi kembali berjalan. Roy sedang sibuk dengan handphonenya. Entah menelepon atau sibuk menggeser dan mengetuk layar handphonenya. Kalau sudah seperti itu, ia tak mau diganggu. Nancy berusaha mengingat, kapan terakhir kali Roy bercakap dengannya. Akhir-akhir ini, Roy muncul di apartemennya dengan wajah yang tidak segar, meskipun penampilannya trendy dan baunya wangi. Efek clubbing tiap hari. Lalu saat pertama bertemu Nancy, ia hanya bertanya, ‘Sudah siap?’ sebelum mengajak Nancy cepat masuk ke dalam taksi.

Ibu-ibu berkerudung yang membawa asongan. Itu hal lain yang Nancy lihat di jalanan. Ibu itu berkeliling menawarkan dagangan yang ia letakkan dalam kotak kayu. Bukan hal yang mudah mengingat badannya begitu mungil, sedang kotak kayunya besar dan berat. Diselempangkan ke bahunya, yang Nancy rasa juga akan membuat pegal lehernya. Lalu pemuda yang berpura-pura gila dan meminta uang dari setiap pengendara. Rambutnya kusut masai, wajah dan tubuhnya kotor, tatapannya tanpa sinar semangat. Menyedihkan.

“Sebentar lagi sampai,” kata Roy tanpa menoleh. Nancy mendengarnya tanpa merasa perlu menjawabnya. Roy menganggap hubungan mereka ini apa? Masa teman datang kalau ada perlunya saja? Nancy juga mendengar kadang Roy membicarakan ia di belakangnya. Oh, banyak yang memberitahunya. Roy cukup pengecut untuk membicarakan langsung dengannya, apa yang dikeluhkan tentangnya. Atau mungkin Roy sendiri lupa sibuk meracau saat sedang mabuk.

Pemandangan di jalanan berganti dengan pemuda yang berteriak dengan gitarnya. Lalu anak kecil yang meminta-minta. Bapak-bapak yang berjuang membersihkan sisa lumpur hasil membersihkan selokan. Warung yang penuh dengan mereka yang beristirahat dari panas matahari dan serangan perut lapar. Makanan murah yang bisa dibuat lebih murah lagi, dengan mengurangi kenikmatan sayur dan lauk yang bisa mereka beli dengan uang yang mereka dapatkan hari ini.

Nancy mengeluh. Andai mereka punya pilihan, mungkin mereka tak perlu di jalanan. Mereka bisa seperti ayahnya, atau anaknya, yang hidup tentram bahagia di rumah, tak perlu berkeliaran di jalan. Ibunya sudah almarhum, semenjak kemiskinan mencengkeram hidup mereka. Setahun setelah Nancy bekerja di kota besar, ibunya meninggal dalam kesedihan, bukan karena suatu penyakit. Suaminya juga meninggalkannya, pria tidak setia yang malahan memiliki affair dengan janda selama ditinggal kerja. Nancy tak menyesali telah menendang laki-laki itu dari rumah. Ia hanya berharap anak laki-lakinya tidak meniru tingkah bapaknya.

“Sampai, Nan,” seru Roy dari depan. Agak bernada memerintah. Ia kini terbiasa hanya berkata singkat dengan suara yang keras, seakan Nancy adalah pegawainya, bukan rekan sejawat.

Setelah membayar ongkos taksi dari dompetnya yang tebal, Roy keluar dan menunggu Nancy berhasil keluar dari tempat duduknya. Rok mini yang ketat ini telah menyulitkannya untuk bergerak. Belum high heels dua puluh senti yang membuat kakinya makin terlihat jenjang.

Nancy mengikuti langkah Roy menaiki tangga hotel. Apakah ia terpaksa seperti mereka yang di jalanan? Harus melakukan pekerjaan yang membuatnya berpindah-pindah tempat karena tidak ada pilihan? Awalnya mungkin ada pilihan, namun semua pilihan itu lebih buruk. Tidak ada pekerjaan yang dapat memberikan uang dalam jumlah besar seperti ini. Ya, ia tidak beda dengan pria penjaja mie ayam, anak penjual koran, dan pengamen tadi. Memilih hidup di jalan demi memenuhi kebutuhan hidup, terlepas dari mereka menudingnya mendapat uang haram. Tapi maukah mereka memberinya uang halal dengan jumlah yang besar? Tentu tidak, dengan semua keterbatasan yang ia miliki. Yang ia punya hanya tubuh indahnya. Ia harus memperjuangkan sendiri hidupnya. Dan keluarganya. Dengan standar ‘cukup’ yang makin lama makin melonjak.

“Tak perlu tanya namanya, kerjanya, atau apapun tentang dia,” bisik Roy sambil berbisik. Kini wajahnya dihiasi senyuman, sejak keluar dari taksi. Memang beginilah cara Roy menampakkan diri di depan orang banyak, seorang yang ramah, positif dan selalu siap membantu.

“Nah, itu orangnya,” kata Roy pelan. Sesuai bayangan, keluh Nancy. Wajahnya tak asing, sepertinya pernah masuk koran atau tampil di televisi, atas dugaan kasus korupsinya baru-baru ini. Bapak-bapak dengan perut tambun, pipi yang menggelembung dan mata yang menatapnya dengan liar. Bahkan lebih liar dari mereka yang di jalanan. Roy hanya berbicara sebentar dengan bapak tersebut, sebelum menoleh dengan sumringah pada Nancy.

“Ayo!” katanya.

Pria itu bangkit tanpa membawa tas kopernya. Ajudannya mengangkat tas koper itu dan menyingkir dari lobby. Nancy mengikuti pria tersebut ke lift. Kemeja batiknya yang mengkilat, sepatunya yang juga mengkilat, jam tangannya…semua mengkilat, kecuali mungkin hatinya. Dan semakin keruh warnanya, saat di kamar ia melucuti pakaiannya sendiri, berbaring telentang, dan menyuruh Nancy melayani nafsunya.

***

IndriHapsari

 

 

Advertisements