Makanan di Jepang

Buat orang Indonesia makanan Jepang kali udah akrab banget ya, sudah jamak ditemui disini. Mestinya ngga gitu kaget kalau makan langsung di Jepangnya, cuma mungkin ati-ati karena sebagian besar pake babi. Buat yang ngga mau bisa tanya ke penjualnya pake babi ngga, hapalin tulisan Jepang yang artinya babi, dan ada juga penjual yang sudah meringatin kita ini pake babi lo, ngga apa ta? Membawa makanan dari Indo juga bisa, tapi ngga rugi tuh ke negara lain dan makanannya sama aja kaya di sini? 😀 

Pertama kali merasakan makanan yang berhubungan dengan Jepang di pesawat yang kami tumpangi. Ih rapi banget dan lengkap, mulai dari buah, miso soup, salad, main course, roti dan butter. Pas pulang karena dinner malah ditambah es krim. Rasa makanannya yang beef rice hampir sama dengan Yoshinoya, sedangkan yang chicken pake saus cream mirip dengan menunya Air Asia yang dibikin Farah Quinn. Menu cenderung ke barat ya kali biar semua sesuai. Oya ngomong-ngomong Yoshinoya, yang di Jepang bedanya dia jul menu belut, sedangkan yang di Taipei ada pilihan toppingnya pork.

Dari kiri searah jarum jam: okinomiyaki, bento seafood, sushi, pork ramen

Aneka bento di shinkasen

Lunch set di pesawat, dan makan di depot ramen dengan pesan ramen bayarnya di vending machine

 

Ikan-ikanan memang mendominasi, dan ada dalam hampir semua menu. Okonomiyaki yang ternyata adalah telur dadar, dicampur sama squid. Trus sushi sudah pasti ya. Saya makannya dapet dari supermarket Aeon yang lengkap banget pilihan sushinya, atau di bentonya Shinkansen. Senengnya disini sushinya kaya Sushi Tei, jadi ngga ada yang namanya dikocorin saos tomat atau mayonaise. Sushinya gede-gede, ikannya ngga pelit, ngga amis dan yang paling penting…lebih murah dari Sushi Tei 😀 mestinya bisa aja masuk ke resto sushi yang beberpa kali kami lewati, tapi segan soalnya cara duduknya yang mesti jejeran sambil berhadapan dengan chefnya yang sibuk bikinin sushi. Maunya kaya di Indo, duduk santai ngobrol-ngobrol dan makannya ngga buru-buru 😛
Kalah bahannya bagus dan mengolahnya bener, ikan-ikan mentah itu ngga menimbulkan alergi, ngga lembek dan ngga amis. Sempet dapat chef yang kali anak baru ya, bikin sop ikan aja amis. Trus keselnya sampe udah mandipun masih berasa amisnya. Ampuun…padahal secara rasa lumayan loh sop ikannya, pake 3 jenis ikan dan salah satunya ikan sarden. Kagum dong makan ikan sarden yang belum dilumuri saos tomat 😀

Mienya ada beberapa jenis, dan kayanya kalau lidah saya lebih cocok yang di Indo, model Hakata Ikousha atau Marugame Udon gitu. Bingung sama istilahnya, ada soba dan udon, ada yang disajikan panas dan dingin. Kuahnya dari ikan, lauknya kebanyakan potongan daging babi yang tipis dan lebar. Ada juga yang sajiannya mie dingin campur pake minyak, trus dimakannya polos aja gitu, karena side menunya nasi sama tempura atau serba gorengan.

Minuman dari vending machine, onigiri dll dari supermarket, hamburger di Disneyland dan hotdog bun di Disneysea

Pork siomay dan kepiting alaska dari Tsukiji Market

 

Untuk snack seperti theme park lainnya ada hotdog dengan sosis yang enak, turkey leg yang kenyang karena besar. Lainnya ya set menu dengan makanan kebarat-baratan gitu, kali lebih bisa diterima sama lidah internasional ya. 

Chicken wing, bacon crispy, keju goreng

Turkey leg dan set menu di Disneyland

Set menu di USS Columbia, Disneysea

Turkey leg dan set menu di Universal Studio

Cemilan dari Lawson dan pesanan dari Tokyo History Museum

Yakitadori di Palette Town, okanamiyaki, dan set menu di Tokyo Metro Station

Es krim sandwich di Museum Snoopy, hotdog dan risotto di Tokyo Dome City

Roti canai dan nasi kari

Kalau soal harga, ngga salah Tokyo dinobatkan jadi kota termahal di dunia. Satu porsi makanan di resto biasa setara untuk dua porsi resto medium di Indo. Mana porsinya kecil lagi, makanya perut orang Jepang kecil-kecil 😀 Kalau dibawa ke model makan kita yang BMW (banyak, murah, wareg :P) jadi ngilu liat harganya. Tapi jangan khawatir, ada alternatif selain bawa abon atau pop mie dari Indo 😀 Masuk aja ke minimarket apapun, di bagian lemari pendingin ada onigiri yang harganya belasan ribu. Sama aja harganya kaya di supermarket Jepang yang ada di Surabaya. Mau kue-kuean atau roti yang serba enak itu satu potongnya juga belasan ribu. Kalau bosen ya makan pisang, atau satu set siomay maupun kuo tie yang harganya dua puluhan ribu. Meski kecil tapi kalau makan delapan kenyang juga 😛 Untuk makanan besarnya memang lebih mahal daripada Indo, kecuali sushi yang jenisnya bukan fushion lo ya yang ribut sama saos tomat dan mayo. Kalau suka sushi yang toppingnya mentah gitu di Jepang lebih murah dan lebih besar ukurannya.

Tapi sesuai kata suami, kalau lagi liburan ngapain mikirin kurs atau mahalnya aja. Sudah dinikmati aja pusingnya belakangan, daripada pusing sekarang padahal lagi liburan. Toh akhirnya harus makan juga kan 😀
***

IndriHapsari

Advertisements