A Man Called Ahok

Screen Shot 2017-05-09 at 9.47.01 PM

‘Goodbye April, May will be better’

Itulah caption saya dilatarbelakangi lautan bunga yang berada di Balai Kota Jakarta. Bunga yang dikirimkan dari orang-orang yang mencintai Sang Gubernur, sehingga kekalahan Pak Ahok kemarin diibaratkan kawin paksa, ngga cinta tapi dipaksa hidup bersama. Lucu-lucu sih ucapannya, dan heran juga kalau ada yang merasa terbakar gara-gara bunga. Tapi ya sudahlah, saya memutuskan berhenti dari hibernasi ngeblog bukan gara-gara itu.

Seharian timeline saya penuh dengan kekecewaan para teman atas putusan hakim yang lebih berat dari dakwaan jaksa. Sudah banyak dibahas penyebab hukuman itu dijatuhkan, kekecewaan terhadap sistem hukum di Indonesia, sifat apatis dan keinginan untuk meninggalkan negeri. Bahkan laman resmi Pak Jokowi juga penuh dengan ungkapan kekecewaan atas ‘pembiaran’ ketidakadilan ini.

Tapi sekali lagi, saya tidak ingin mendebat putusan hakim, bersilat lidah soal definisi adil dan tidak adil, karena buat saya jelas aja kok. Tanyakan pada hati nurani masing-masing, it sounds right or not? Damaikah hatimu dengan jawaban itu? Mungkin artikel saya sebelum ini dapat menjelaskan permasalahan yang ada untuk #menolaklupa.

Setelah berdamai dengan diri sendiri, berikutnya adalah what’s next?

Bagaimana nasib Pak Ahok? Bagaimana nasib bangsa? Bagaimana kita?

Ujian sesungguhnya bagi Pak Ahok justru terjadi saat ini, bukan sebelumnya. Jika dulu ia ngotot terus berada di jalan yang benar, ingin memenangkan pengumpulan data dengan cara yang elegan, dapatkan ia bertahan dengan kenyataan yang ada sekarang? Berusaha membangun negeri, memberantas korupsi, malah dikriminalisasi. Dapatkah ia bertahan terus berada pada jalannya? Padahal saya yakin banyak tawaran untuk lepas dari penjara dengan berbagai deal yang ada, entah dengan uang atau kuasa. Dapatkah ia terus mempertahankan idealismenya di penjara, dimana orang-orang yang diperanginya justru ada disana. Saya bisa bayangkan wajah mengejek mereka, ‘Elu susah-susah anti korupsi, akhirnya juga disini. Kaya kagak, susah iya. La kita, masih ada harta di luar sana, keluarga masih terjamin tujuh turunan. Trus, elu dapet apa?’. Dapatkah ia bertahan? Dapatkah?

Capture

Kita bisa mengirimkan bunga atau makanan ke penjara, bisa menyematkan kata-kata yang menyemangati, bisa urunan buat bayar pengacara, namun yang terpenting, ingatkan terus Pak Ahok bahwa ia tetap menang karena menjaga martabatnya. Penjara hanya mengurung raganya, namun tidak jiwanya, semangatnya untuk membangun bangsa.

Screen Shot 2017-05-09 at 9.47.31 PM

Concern saya lainnya adalah keluarganya. Pasti berat menghadapi, ayah yang biasa bersama dengan mereka tiap hari meski hanya sebentar, tapi tetap dapat dijangkau. Kalau sekarang? Ketemu saja dijadwal, apalagi bisa berkumpul bersama. Belum cibiran pihak-pihak yang entah mengapa senang lihat orang susah, susah lihat orang senang. Ketegaran Bu Ahok untuk menyemangati suami dan melindungi anak-anaknya merupakan kunci. Kalau kita mendukungnya, beri kebahagiaan-kebahagiaan kecil pada keluarga ini sementara sang kepala keluarga sedang diasingkan. Tunjukkan bahwa semua peduli dan menunggu keadilan ditegakkan.

Lalu bangsa…gimana ya, saya berusaha memahami kenapa orang bisa lari dari negerinya sendiri. Para atlit yang seperti habis manis sepah dibuang, lebih berminat berlaga demi bangsa lain karena lebih dihargai kemampuannya di sana. Para peneliti dan ahli yang dana penelitiannya dibatasi, atau dipersulit dengan birokrasi juga memilih untuk meninggalkan negeri. Nasionalisme tidak bisa menjamin kehidupan kita. Apalagi eksodus waga keturunan yang pindah ke luar negeri gara-gara peristiwa 98, itu juga mau nyegahnya gimana. Toh negara waktu itu juga gagal melindungi warga negara. Ya cari selamat sendiri-sendiri lah.

Tapi gini, meskipun meninggalkan bangsa adalah pilihan, mendukung apa yang baik terjadi di negeri ini semoga tetap menjadi kepedulian. Jika keahlian, fulus dan tenaga kita akan diberikan ke negara tempat kita bermukim, setidaknya suarakan kebenaran, dukung orang yang memilih hidup kurang nyaman di negeri ini demi memberikan manfaat bagi yang lain. Dukungan bisa berupa dana, ucapan, terutama doa. Bukankah doa orang benar selalu dikabulkan? Tetap doakan yang terbaik buat negeri ini, sebarkan hal-hal positif  biar anak cucu kita tahu ada negeri indah bernama Indonesia.

Buat kita yang memilih bertahan disini dengan semua konsekuensinya, saran saya cuma satu, jangan apatis. Jangan gara-gara kasus Pak Ahok lalu jadi turun semangatnya dan jadi mbuh-mbuhan atau terserah lu deh, EGP terhadap perjuangan yang lain. Masih ada orang-orang yang berkeinginan untuk memperbaiki negeri, masih ada Pak Jokowi yang perlu didukung dalam program-programnya, kita masih perlu saling menyemangati. Memang ada saja yang hidup untuk membenci, tidak ada yang bisa kita lakukan selain terus menebar kata-kata dan sikap yang positif, yah siapa tahu jadi sadar. Kalau ngga juga cuekin aja, mereka tambah caper kalau diladenin. Lagian hidup begitu tuh ngga enak kok, di dunia membenci, ntar di akhirat juga sengsara karena dikasih kesempatan hidup di dunia kok malah menebar mudharat.

Bersikap positif juga diperlukan, terutama untuk generasi muda kita yang saat ini mungkin ngga mengalami masa-masa yang membingungkan ini. Mungkin mereka akan membacanya dari buku sejarah, dari tautan Wikipedia, atau jika beruntung mereka akan mendengarnya dari kita. Kabarkanlah soal cita-citanya, apa yang sudah dilakukannya, keberaniannya menghadapi kemungkaran. Ceritakanlah dengan bangga : Once upon a time, there was a GREAT man called AHOK…

***

Advertisements