Doctor Strange: Keanehan Seorang Cumberbatch

​Sebagai seorang Cumberbabes (duileee :D) sudah selayaknya film-film mas Benedict Cumberbatch ditonton dari A sampai Z, meski saya mulainya baru sejak Sherlock Holmes. Kemampuannya untuk menjiwai karakter detektif yang unik itu seolah menunjukkan, Cumberbatch bisa menanamkan jiwanya pada peran yang dimainkannya.

Tapi dia kurang cocok saat main jadi penjahat di Star Trek. Siapapun bisa menggantikan dia menjadi Khan si penjahat antar galaksi. Nah, di Doctor Strange ini juga.

Doctor Strange

Doctor Strange katanya adalah salah satu super hero Marvell selain The Avengers (seperti yang saya bilang tadi, nonton DS cuma karena fans masnya :D). Bedanya yang ini pakai kekuatan supernatural. Berubah dari manusia yang lemah, dokter bedah yang kehilangan keakuratannya, menjadi seseorang yang bisa diandalkan dunia.

Namun Cumberbatch nampaknya lebih cocok ke film-film yang banyak omong dikit gerak. Kalau yang kebalikan begini seolah dia belum mampu menunjukkan keunggulannya. Masih belum seperti Robert Downey, Jr yang mampu memberi jiwa dalam Iron Man, jadi kita masih mengasosiasikan Iron Man dengan Downey. Kalau peran Strange ini diganti Downey juga masih bisa, atau sekalian Chris Hemsworth 😛 Selain cakepnya, badan tinggi langsingnya, ngga ada lagi yang bisa dikenang. 

Namun hal sebaliknya terjadi untuk lawan mainnya, Tilda Swinton. Berperan sebagai penyihir agung, Swinton bisa membawakan perannya dengan baik. Ngga cuma aksi aja, tapi dalam kekakuannya, ke-ngga bisa senyum-nya, dia masih mencuri perhatian di kamar memori otak penonton. Rachel McAdams yang berperan sebagai pacar Strange juga natural mainnya, mampu mengimbangi kejadian-kejadian yang heboh.

Film ini menarik juga dari sisi plotnya. Masih ngga ketebak alurnya pas nonton, tapi setelah selesai semua jadi masuk akal. Ujungnya sudah tau bakal happy ending, tapi cara menuju kesana itu lo…masih ruwet. Teknologi digitalnya keren, ah ngga kebayang aja cara bikinnya. Teknologi ini yang bikin ide cerita supernatural jadi masuk ke penonton yang scientific. Kalau idenya jatuh ke tangan orang Indonesia ntar jadinya film setan-setanan 😀 La bayangin misal soal dunia astral, apa jadinya ngga ketemu mbak kunti dan lain-lainnya? 🙂 Tapi di film ini, dunia astral malah muncul di kamar bedah.

Bagaimanapun penilaian saya soal Cumberbatch di awal, film ini tetap layak tonton. Kata kritikus ni film eye candy dan brain candy 🙂 Entah kalau ada sekuelnya, Cumberbatch tetep diajak ngga. Mengenai batasan umur, pas cek di Internet untuk US dan Canada mengkategorikannya sebagai PG, 13+. Tapi pas tayang, di awal dibilang kalau untuk 17 tahun. Selama film ada satu adegan kissing, satu adegan potong kepala meski samar, banyak penusukan, dan beberapa kali kepala berdarah-darah dan bengep. Ternyata masuk reviewnya majalah Bobo lo, jadinya semua umur nih? 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements