​Kenapa Perlu Datang Ke Big Bad Wolf Surabaya?

Area pamer Big Bad Wolf Surabaya di Jatim Expo

Pertama-tama, ijinkan saya memperkenalkan latar belakang saya dulu (gimana, udah mirip BY belum di pas ngomong di ILC? :D) Sebagai blogger, review yang saya buat kebanyakan murni dari pengalaman pribadi, dikit yang berbayar atau dikasih goodie bag jadi merasa harus menulis sesuatu. Emang sih saya kurang laku (ngaku :D) karena emang ngga bergaul di grup blogger, ngga rajin nyari acara yang membutuhkan review, dan nama juga belum ada. Soalnya nulis masih suka-suka, makanya tulisan juga jadi apa adanya tergantung yang dirasa. Tulisan tentang Big Bad Wolf ini murni dari opini, bukan karena dibayar BBW untuk mengiklankan acara mereka. 

Kenapa akhirnya saya nulis ini tanggal 26 Oktober 2016, padahal acaranya mau abis tanggal 31 Oktober…karena seakan ada himbauan untuk ngga kesana. Entah dengan menggunakan jasa titip beli buku, atau dengan mengalihkan ke event lain yang emang lagi gede-gedean cuci gudang.

Secara pribadi, saya merasa acara jualan buku secara masif seperti BBW ini sekaligus memperkenalkan kota seperti Surabaya pada dunia internasional. Bayangin, dua juta buku impor tumplek blek di ruang pameran, dan dijual dengan harga sepertiga sampai seperlima harga asli. Ini saatnya untuk bisa mengakses dunia dengan harga yang lebih terjangkau, setelah sebelumnya kita ogah-ogahan beli karena satu: bahasa Inggris, dua: mahal.

Hasil perburuan buku impor (tahap 1 :D)

Buku-buku yang dijual di BBW kualitasnya bagus. Kertasnya, cetakannya, warnanya, printilannya (ada yang pake boneka, glitter) sampai sampulnya. Di beberapa bagian memang ada robek di sampul luar, atau sampul bagian dalam ada sobeknya. Tapi secara umum masih pantas dijadikan pajangan, dan ngga mengganggu keasyikan membaca.Selain itu, inilah saat yang tepat untuk memaksa diri membaca dalam bahasa Inggris. Kosakata yang dipakai kebanyakan popular, dan beda yah antara bahasa Inggris terjemahan dari bahasa Indonesia dengan native bahasa Inggris. Kalau masih tuing-tuing, boleh coba komik yang banyak gambarnya sambil hubungkan dengan kata-kata di balon percakapan artinya apa. Selalu ada cara bagi mereka yang mau berusaha. Buku bahasa Indonesia juga ada, meski semua dari satu penerbit. Menurut saya sih kalau sudah sampai area BBW terus mborongnya tetep buku Indo itu rugi. Karena ada event lain yang harga sama murahnya tapi penerbitnya beragam, dan ngga perlu sampai nyempetin ke Jatim Expo yang susah parkirnya itu.

Itu dari produknya yang sudah pasti bermutu. Berikutnya kalau dari penataan, menurut saya kalau untuk ukuran jutaan buku, penataan di BBW sudah bagus kok. Semua buku ditaruh di meja panjang, diletakkan dengan sampul menghadap depan, jadi melihat selintas sudah kelihatan itu buku apa. Trus setiap meja ada kategorinya, umum banget: fiksi, children book, reference….dan entah apa lagi. Ada satu bagian ujung yang isinya buku-buku campuran, karena tinggal satu per jenisnya makanya ditaruh situ. Kalau punya waktu ubek-ubek aja di situ, siapa tahu ketemu ‘harta karun’. 

Ada dua tipe keranjang, merah besar dan biru kecil

Karena saya bawa anak, kelilingan sampe 4 jam di area pameran pasti ngga banget, ini aja cuma 2 jam dia sudah ngendon aja di sebelah meja karena cape jalan. Kalau mau efektif caranya gini. Ambil keranjang besar karena banyak yang mau diambil, dan ambil keranjang kecil kalau bawa anak. Biarkan dia ambil sendiri bukunya, dan bisa berfungsi sebagai tempat duduk juga kalau dia capek (ini buat yang anaknya masih kecil yah :D) Keliling aja dengan pola tertentu biar semua bisa dilewati, misal memanjang atau melebar, melalui gang baris atau kolom. Lalu, ambil buku yang menarik, sambil cek harga masuk ngga sama budget kita. Paling gampang perkirakan harga per buku, jangan total budget karena nanti bingung sisa dana tinggal berapa. Misal cuma beli yang di bawah 100 rb, kalau OK cemplungin aja di keranjang.

Polanya bisa ngikut ala supermarket gini

Ngga usah berpikir lama soal ‘eh tadi bukannya sudah masukin buku yang mirip ya?’ Atau ‘bakal kepake ngga ya?’ Itu urusannya nanti. Pokok kalau ada yang menarik, ambil. Jangan sampai kita menyesal di rumah, tadi kok ngga beli yang itu ya. Lagian kalau kondisi rame gitu, impulse buyingnya lebih tinggi karena kita merasa terancam bakal kehabisan barang. Jadi puaskan nafsu kita dengan memasukkannya ke keranjang.

Naaah..kalau sudah beres semua dikelilingi, di satu pojokan yang sepi sebelum ke antrian kasir, mari jongkok sejenak untuk…memilah mana yang perlu dibeli dan mana yang ngga. Sudut yang saya pilih adalah penitipan buku, karena cukup tenang disana. Kalau tenang kan secara psikologis kita lebih bisa berpikir matang. Pilahkan ke keranjang kecil buku ini perlu apa ngga, over budget apa ngga (total budget ya), sambil checking kualitasnya. Udah gitu ya, tetep aja saya kecolongan. Beli dua buku yang sama karena sampulnya beda T_T Anyway, dengan melakukan acara beli buku ala saya ini, lebih hemat waktu, buku yang disuka kebeli semua, tapi tetep selektif. Buku yang ngga jadi dibeli bisa ditinggal di keranjang, atau bilang ke petugasnya. Jangan takut jadi nambah kerjaan masnya, karena mereka akan menaruhnya di bagian yang uwel-uwelan tadi, yang tinggal satu biji itu loh.

Hasil perburuan tahap 2. Di kasir mbaknya bilang klo belanja lusa beli 20 gratis 5…beugh, baru tau 😀


Pengalaman berada di jualan buku internasional itu loh, jadi pengalaman berharga pake banget. Jadi bisa cerita ke anak cucu, atau ngga kaget lagi pas ke pameran buku beneran di luar negeri. Trus produknya emang bagus, rugi kalau ngga beli. Masalah gaji sebulan bisa abis, ya habis beli buku harus berhemat. Kesempatan belanja kemaren saya dapat,setelah menukar dengan rencana piknik ke luar kota. Ya gimanapun ngga semua bisa kita miliki kan? 🙂 Kalau dulu di Melbourne sempet pengen borong buku 5 dollaran tapi takut bagasinya over (dan emang over :D) sekarang boleh dong menggila wong di kota sendiri kok. Ongkirnya gratis.

Nah jasa titip bakal saya gunakan kalau saya lagi jauh ngga bisa ke Surabaya, atau lagi di Surabaya tapi emang ngga bisa kemana-mana. Kalau soal susah nyari buku sih seperti yang saya bilang di atas, niatnya jangan nyari buku tertentu, tapi untuk explore ada buku apa aja disana. Trus soal parkir emang kendala, tapi ngga selalu. Saya saksi hidup bisa dapat parkir pas depan pintu masuk. Pertama deg-degan karena tukang parkir liar yang mendadak bermunculan di sepanjang frontage sudah kasih tanda parkiran penuh dengan menyilangkan dua tangannya. Tapi saya nekat masuk aja, soalnya selain liat ada space kosong, juga mikir kalau ngga ada ya keluar lagi, ambil parkir basement. Kalau ngga ada juga ya parkir sepanjang frontage. Least priority sih, soalnya parkirnya dua lapis, bisa repot keluarnya kalau pas di tengah. Jadi parkiran depan gedung emang ditujukan buat parkir Uber dan pakir mobile bankingnya Mandiri. Tapi orang kaya saya ya dapet 😀 Ada juga yang menyarankan parkir di KFC atau DBL yang berada di depan Jatim Expo. Boleh aja, asal berani nyebrang jalan Ahmad Yani yang rame itu. Atau parkir di Giant bisa, cuma jalannya jauh. Ada lagi parkir di IAIN, meski saya belum denger pengalaman yang pernah parkir disana. Pertimbangkan soal datangnya tangan kosong, pulangnya mesti ngangkut buku berkresek-kresek 😀 Kalau parkir di gedung dianterin gratis pakai troli oleh petugasnya. Alternatif lain, ya naik, Gojek, ojek, Uber atau taxi. Uber lagi ada promo tuh buat yang mau ke BBW.

Begitu masuk ke lobby langsung ke toilet aja, biar acara belanja ngga terganggu. Bawa minum dalam botol biar ngga haus. Meski hawa di dalam cukup sejuk, pasti haus deh kelilingan begitu. Daftarlah sebagai anggota BBW via online atau on the spot. Meski ngga semua buku didiskon untuk member, lumayanlah bisa memghemat 10 ribu per buku. Kasirnya ada banyak dan ada petugas yang ngatur urutan. Pakai kartu kredit Mandiri diskon 20%, saya mau pakai debit katanya tetep aja bayarnya 😀

Jadi, jangan lewatkan kesempatan mengunjungi Big Bad Wolf ya…mumpung nang Suroboyo, Rek! 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements